TEATRIKAL NASI KOSONG WARNAI AKSI MAHASISWA BREBES, BUPATI PARAMITHA TEMUI MASSA DI ALUN-ALUN

- Penulis

Senin, 22 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES,GarudaXpose.com///–Aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Kabupaten Brebes di depan Alun-alun Brebes, jalur Pantura, Senin sore, 22 Juni 2026, berlangsung panas. Puluhan mahasiswa menuntut evaluasi program pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Brebes, dengan menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam aksinya, mahasiswa menggelar teatrikal yang menyindir program MBG. Seorang mahasiswa berlutut dengan mata tertutup kain, kemudian dijejali nasi bungkus tanpa lauk pauk, sebagai simbol bahwa program tersebut dinilai tidak bergizi. Aksi juga diwarnai pembacaan puisi dan orasi.

“Sekarang pejabat berpihak kepada rakyat atau tidak? Pejabat berpihak kepada penguasa atau rakyat?” teriak salah satu orator di lokasi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketegangan sempat terjadi di dua titik. Pertama, saat massa menuntut Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, untuk turun menemui mereka. Karena tak kunjung ditemui, mahasiswa membakar ban bekas di tengah jalan. Seorang aparat kemudian menyemprotkan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) ke ban yang baru terbakar.

Kedua, aksi bakar ban tersebut memicu kemarahan seorang warga yang melintas. Warga itu nyaris adu jotos dengan mahasiswa, namun berhasil dilerai oleh aparat keamanan.

Sekitar satu jam kemudian, situasi mereda setelah Bupati Paramitha Widya Kusuma akhirnya hadir menemui massa. Ia didampingi Wakil Bupati Wurja, Ketua DPRD M. Taufik, Sekda Brebes Tahroni, dan jajaran OPD terkait. Mereka duduk bersila bersama mahasiswa di depan Alun-alun Brebes untuk berdialog.

Koordinator aksi, M. Yahdi Urfan, menyatakan Aliansi Mahasiswa Brebes membawa 10 tuntutan untuk pemerintah pusat dan daerah. Pihaknya memberi waktu tujuh hari kepada Pemkab Brebes untuk mengawal hasil kesepakatan.

“Sepuluh poin yang tadi kami sampaikan sudah ditanggapi oleh bupati dengan baik. Tapi kita perlu pengawalan terhadap apa yang kita sampaikan dan sepakati selama tujuh hari ke depan,” kata Yahdi.

Menanggapi tuntutan tersebut, Bupati Paramitha meminta waktu karena pemerintahannya baru berjalan lebih dari satu tahun di kabupaten yang masih menyandang predikat miskin ekstrem.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya menyampaikan aspirasi tapi juga turut memberikan masukan dan saran untuk kemajuan Pemerintah Kabupaten Brebes,” ujarnya.

Adapun 10 tuntutan mahasiswa meliputi: 1. Evaluasi dan audit anggaran program MBG dan KDMP secara transparan dan akuntabel; 2. Evaluasi proyek strategis nasional yang dinilai mengabaikan etika lingkungan dan HAM; 3. Pembatasan penggunaan BBM Pertalite agar tepat sasaran; 4. Mengembalikan supremasi sipil dan mencabut UU TNI dan Polri; 5. Meminta Presiden Prabowo mengakui kesalahan pemerintah secara terbuka; 6. Menghentikan pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) dan mengalihkan anggarannya untuk infrastruktur desa/kabupaten; 7. Mitigasi isu lingkungan di pesisir dan daerah rawan banjir tahunan; 8. Menetapkan sistem pengolahan sampah terpadu di Brebes; 9. Menghentikan alih fungsi lahan di hutan lindung Gunung Slamet; dan 10. Evaluasi program unggulan Mitha-Wurja.

Usai dialog yang berlangsung sekitar 30 menit di atas aspal depan Alun-alun, Bupati Paramitha berjanji akan menindaklanjuti tuntutan yang menjadi kewenangan daerah, sementara tuntutan yang ditujukan ke pemerintah pusat akan diteruskan ke tingkat provinsi dan nasional.

Yahdi menegaskan, pihaknya akan terus mengawal janji tersebut. Jika dalam waktu tujuh hari ke depan tidak ada progres yang nyata, Aliansi Mahasiswa Brebes menyatakan akan kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar.

“Kami kasih waktu. Kalau tidak ada realisasi, kami akan kembali lagi,” tegasnya.

Sekitar pukul 17.30 WIB, massa aksi akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Arus lalu lintas di jalur Pantura depan Alun-alun Brebes yang sempat tersendat akibat aksi bakar ban, kembali normal. Aparat kepolisian tetap berjaga di lokasi hingga massa benar-benar meninggalkan lokasi.***

(Agus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Demo Aliansi Masyarakat Peduli MBG Lumajang, Dalam Tuntutannya Mengusulkan ke Presiden RI dan BGN untuk Melakukan Perbaikan Tata Kelola
Klarifikasi Kantor Hukum ARD & Associates : Advokatnya Sah Miliki Legalitas Dan Di Tunjuk Para Pedagang Ex TPPS Cisoka
Mengaku Kuasa Hukum Dari Peradi Pedagang Ex TPPS Cisoka, Petugas Kepolisian Pertanyakan Kuasa Dan KTP, Tak Bisa Tunjukkan !!
Sempat Putus Sekolah, Siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi Kini Lulus dan Percaya Diri Menatap Masa Depan
Pemerintah Kabupaten Lumajang Perkuat Imbauan Jam Operasional Aman Penambangan di Kawasan Semeru
Penuh Haru dan Kebanggaan, TK Dharma Wanita 32 Desa Dasri Gelar Pelepasan Peserta Didik Tahun Ajaran 2025/2026
Pengendara Terjatuh dan Kekecewaan Warga, Imbas penutupan penataan pedagang
Pembongkaran Tahap II Pasar Penampungan Cisoka Diwarnai Kericuhan, Pemilik Tanah Tolak Bangunannya Dirobohkan

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 16:09 WIB

TEATRIKAL NASI KOSONG WARNAI AKSI MAHASISWA BREBES, BUPATI PARAMITHA TEMUI MASSA DI ALUN-ALUN

Senin, 22 Juni 2026 - 15:51 WIB

Demo Aliansi Masyarakat Peduli MBG Lumajang, Dalam Tuntutannya Mengusulkan ke Presiden RI dan BGN untuk Melakukan Perbaikan Tata Kelola

Senin, 22 Juni 2026 - 07:01 WIB

Mengaku Kuasa Hukum Dari Peradi Pedagang Ex TPPS Cisoka, Petugas Kepolisian Pertanyakan Kuasa Dan KTP, Tak Bisa Tunjukkan !!

Minggu, 21 Juni 2026 - 03:19 WIB

Sempat Putus Sekolah, Siswa Sekolah Rakyat Banyuwangi Kini Lulus dan Percaya Diri Menatap Masa Depan

Minggu, 21 Juni 2026 - 02:06 WIB

Pemerintah Kabupaten Lumajang Perkuat Imbauan Jam Operasional Aman Penambangan di Kawasan Semeru

Berita Terbaru