Garudaxpose.com | PROBOLINGGO – Bukan sekadar dihiasi lampu warna-warni, sejumlah kawasan permukiman di Kota Probolinggo menjelma menjadi ruang kreativitas warga. Beragam konsep budaya, pemanfaatan barang bekas hingga taman produktif ditampilkan dalam babak final Lomba Lampu Hias Kampung Bersolek.
Lima kampung yang masuk tahap akhir mendapat kunjungan langsung Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin bersama Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin, Rabu (2/9/2026).
Penilaian tersebut menjadi bagian dari rangkaian menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Turut terlibat dalam proses penilaian Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Budiono Wirawan dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aries Santoso sebagai tim juri. Kepala Dispopar Muhammad Abas yang menjadi leading sector kegiatan juga ikut mendampingi rombongan.
Lima finalis tersebar di sejumlah wilayah, yakni RT 4/RW 1 Kelurahan Jati, RT 1/RW 6 Kelurahan Sukoharjo, RT 3/RW 2 Kelurahan Sumber Taman, RT 5/RW 4 Kelurahan Kareng Lor serta RT 4/RW 4 Kelurahan Ketapang.
Kunjungan dimulai dari Kampung Sunan Kalijaga, RT 4/RW 1 Kelurahan Jati. Warga menyambut rombongan dengan lingkungan yang telah dipoles melalui berbagai dekorasi.
Tak hanya melihat ornamen kampung, Aminuddin juga berkesempatan masuk ke salah satu rumah warga yang memiliki tampilan tidak biasa. Motif kotak-kotak dengan warna cerah menghiasi bagian dinding hingga lantai rumah tersebut.
Keramahan warga semakin terasa ketika Wali Kota disuguhi sejumlah panganan tradisional. Cenil, tahu petis, polo pendem dan wedang cao bercita rasa rempah menjadi sajian yang menemani kunjungan.
Dari Jati, penilaian berlanjut ke Gang Katsir, RT 1/RW 6 Kelurahan Sukoharjo. Kali ini warga memilih Papua sebagai inspirasi utama dalam mempercantik lingkungan.
Konsep tersebut tidak berhenti pada dekorasi. Warga juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan mengolah berbagai barang bekas menjadi ornamen penghias kawasan.
Material yang sebelumnya tidak terpakai diubah menjadi bunga, pot tanaman dan sejumlah dekorasi. Rombongan juga mendapat sambutan berupa tarian selamat datang dari warga.
Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin memberikan apresiasi terhadap kreativitas tersebut. Ia menilai penghijauan di lingkungan permukiman dapat dikembangkan agar tidak hanya menghasilkan pemandangan yang menarik, tetapi juga memberi manfaat praktis bagi keluarga.
“Kalau lahannya memungkinkan, tanaman yang ditanam bisa diarahkan pada tanaman yang dapat dikonsumsi sehari-hari, seperti sayuran. Jadi selain memperindah lingkungan, juga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Kesan budaya kembali kuat ketika rombongan tiba di RT 3/RW 2 Kelurahan Sumber Taman. Warga mengangkat tema Bali melalui berbagai ornamen, di antaranya penjor dan patung kepala leak.
Kreativitas warga juga terlihat dari cara mereka memanfaatkan barang bekas. Galon dan botol plastik, misalnya, diolah menjadi bagian dari dekorasi yang memperkuat nuansa pura.
Penyambutan pun dibuat istimewa. Perempuan warga dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, tampil membawakan tarian medley Nusantara.
Berikutnya, rombongan menuju kawasan Mutiara Bogowonto, RT 5/RW 4 Kelurahan Kareng Lor. Nuansa berbeda kembali disuguhkan dengan mengangkat tema Kerajaan Majapahit.
Tari Grebeg Majapahit yang dibawakan ibu-ibu warga menjadi bagian dari penyambutan. Konsep lingkungan yang ditampilkan tidak hanya mengedepankan unsur estetika, tetapi juga memiliki sisi produktif.
Hal itu terlihat dari keberadaan “Taman Sari”. Area tersebut dimanfaatkan warga sebagai taman produktif dengan berbagai tanaman yang dapat dikonsumsi serta kolam untuk memelihara ikan lele.
Lokasi terakhir yang dikunjungi berada di RT 4/RW 4 Argopuro 18, Kelurahan Ketapang. Warga kembali menunjukkan kekompakan melalui tarian penyambutan.
Aminuddin menyempatkan diri berinteraksi dengan warga sekaligus mencicipi aneka makanan yang tersedia di angkringan kampung.
Momen menarik terjadi ketika Evariani ikut bergabung dengan para penari. Ketua TP PKK tersebut tampak mengikuti gerakan tari bersama warga sehingga suasana penilaian berlangsung semakin meriah.
Menurut Evariani, kreativitas yang ditunjukkan lima finalis menjadi bukti bahwa semangat membangun kota dapat tumbuh dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Ia menilai kekompakan warga, budaya guyup rukun dan gotong royong merupakan modal penting dalam mewujudkan konsep Probolinggo Bersolek.
“Apresiasi luar biasa untuk seluruh warga. Semangat, guyup rukun dan gotong royong seperti ini menjadi kekuatan dalam mewujudkan Probolinggo Bersolek. Tidak ada wilayah yang berjalan sendiri, semuanya bergerak bersama untuk menjadikan Kota Probolinggo semakin indah,” ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Aminuddin mengaku terkesan dengan tingginya keterlibatan masyarakat dalam lomba tersebut.
Menurut dia, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar kompetisi mempercantik kampung. Warga justru didorong untuk menemukan potensi yang ada di sekitar mereka dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai.
“Tampilan dan animo masyarakat cukup antusias. Semangatnya sangat baik, kerja samanya juga luar biasa. Mudah-mudahan semangat ini terus dipertahankan karena kebersamaan merupakan kekuatan untuk menciptakan Probolinggo Bersolek,” kata Aminuddin.
Ia juga mendorong agar potensi lingkungan yang telah ditemukan warga tidak berhenti setelah lomba selesai. Menurutnya, berbagai inovasi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan baru yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Potensi yang ada di sekitar bisa diangkat dan dikembangkan. Keindahan lingkungan ini mudah-mudahan terus lestari, menjadi daya tarik sekaligus percontohan bagi warga di wilayah lainnya,” tambahnya.
Antusiasme yang ditunjukkan masyarakat membuat Pemerintah Kota Probolinggo berencana mempertahankan lomba tersebut sebagai agenda tahunan.
Ke depan, kegiatan diharapkan bukan hanya menghasilkan kampung yang lebih semarak, tetapi juga membangun kebiasaan warga dalam menjaga kebersihan, memperindah lingkungan, memanfaatkan barang bekas serta mengembangkan lahan menjadi lebih produktif.
Lomba Lampu Hias Kampung Bersolek akhirnya memperlihatkan satu hal penting: wajah kota tidak semata-mata dibentuk melalui program pemerintah. Di tingkat kampung, masyarakat turut mengambil peran dengan ide, kreativitas dan gotong royong untuk menciptakan lingkungan yang lebih hidup dan menarik.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo











