Keterangan photo:Adu Penalti 4-4 Tak Cukup, Wasit Bung Sarinto Terpaksa Keluarkan Jurus Pamungkas Sandendet di Hadapan Ribuan Penonton,(Jum,at,24 Juli 2026)
BREBES, PESANTUNAN,GarudaXpose.com//-Jika Liga Inggris punya Old Trafford, maka Wanasari punya Lapangan Desa Pesantunan. Sore ini, Jumat (24/7/2026), lapangan berdebu itu berubah jadi panggung drama paling mahal di sejarah tarkam Brebes.
Laga pembuka babak 8 besar Pesantunan Cup 2026 mempertemukan dua raksasa kampung: Putra Samodra FC Sawojajar kontra Ghani FC Padasugih. Laga hidup mati. Kalah, angkat koper. Menang, melenggang ke perempat final.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan apa yang terjadi? Selama 2×30 menit waktu normal, kedua tim menampilkan sepak bola tarkam rasa Liga Champions.
Jual-beli serangan terjadi. Putra Samodra dengan kolektivitasnya yang rapi di bawah komando pelatih Fadri, berkali-kali mengancam. Di sisi lain, Ghani FC asuhan pelatih Andri tak mau kalah, pertahanan berlapis, serangan balik secepat motor bodong.
Tapi dewi fortuna sedang cuti. Bola sudah di depan gawang, kiper sudah salah langkah, eh… bola malah menyapa mistar. Sundulan sudah akurat, tapi kiper terbang seperti Spiderman. Skor akhir waktu normal: 0-0 alias kacamata. Bukan karena buta, tapi karena gawang dikunci rapat.
Wasit utama yang memimpin laga, Bung Sarinto, yang dibantu dua asisten tangguh Bung Ann dan Bung Sungeng, serta diawasi langsung oleh pengawas pertandingan H. Sukadar dan wasit cadangan H. Darsiun, terlihat beberapa kali mengelus dada. “Aman, tapi jantung saya yang tidak aman,” celetuknya.
Karena regulasi harus ada pemenang, drama berlanjut ke adu penalti.
Di sinilah tensi naik 10 kali lipat. Ribuan penonton yang sejak jam 3 sore memadati pematang sawah dan pinggir lapangan Pesantunan, Kecamatan Wanasari, Brebes, kompak diam saat algojo maju.
Lima penendang pertama, semua sempurna dan semua juga gagal. Saling kejar. Hasilnya? Lagi-lagi imbang 4-4! Penonton yang tadinya duduk santai, kini sudah berdiri. Yang bawa gorengan lupa mengunyah.
Panitia yang diketuai Asif pun bermusyawarah kilat. Sesuai regulasi tarkam yang mengedepankan kebersamaan, diambil keputusan paling adil dan paling bikin jantungan: adu tos koin atau dalam bahasa pantura disebut sandendet.
Satu koin Rp 500 dilempar ke langit Pesantunan. Ribuan pasang mata, termasuk pedagang cilok, ikut menatap. Koin jatuh. Dan takdir berkata: 5-4 untuk Putra Samodra FC Sawojajar!
Sorak meledak di satu sisi, hening di sisi lain. Sawojajar resmi mengunci tiket perempat final. Ghani FC harus angkat koper dengan kepala tegak. Mereka tidak kalah oleh skill, mereka kalah oleh gravitasi koin.
Ketua Panitia, Asif, mengapresiasi tinggi kedua tim. “Luar biasa. Pertandingan berjalan aman, lancar, kondusif. Tidak ada keributan. Ini contoh tarkam berkelas. Terima kasih untuk ribuan warga yang tertib. Lapangan penuh, tapi hati tetap adem,” ujarnya.
Laga panas ini bahkan menyedot perhatian tokoh. Salah satu anggota dewan dari PDI-P, Bung Komaidi, yang hadir langsung duduk di kursi di dampingi oleh sang kekasih, tampak tak bisa duduk tenang.
Pungkasnya di akhir berita, sambil mengusap keringat, Bung Komaidi berkata:
“Saya sampai tegang lihatnya. Jujur, kedua tim mainnya jos, apik banget! Ini bukan sekadar tarkam, ini pembinaan. Mentalnya sudah mental petarung. Putra Samodra dan Ghani FC sudah tunjukkan kalau sepak bola desa itu mutunya nasional. Selamat untuk pemenang, hormat untuk yang kalah.”
Pesantunan Cup 2026 kembali membuktikan satu hal: di liga seng, drama lebih tebal dari debu lapangannya. Dan di sinilah, sepak bola yang sesungguhnya masih tertawa bersama rakyat.***
(4905)













