Spanduk Perlawanan Berdiri di Tengah Sawah, Pesan Tegas Warga Salakan Tolak Geolistrik

- Penulis

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com |BANYUWANGI – Gelombang penolakan terhadap aktivitas geolistrik kembali menggema di wilayah Salakan, Wonoasih, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sejumlah petani dan tokoh masyarakat turun langsung menjaga lahan pertanian mereka sebagai bentuk sikap tegas mempertahankan ruang hidup, tanah warisan, serta masa depan anak cucu mereka.

 

Di tengah hamparan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga, terpampang jelas spanduk besar bertuliskan “STOP GEOLISTRIK” dan larangan memasuki area pertanian tanpa izin. Pesan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan bentuk kegelisahan dan perlawanan masyarakat yang merasa keberadaan aktivitas geolistrik berpotensi mengancam keberlangsungan hidup petani kecil.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Tokoh masyarakat Salakan, Bapak Suratin, saat ditemui oleh Bapak Pramono dari tim investigasi media, menyampaikan bahwa masyarakat bukan anti pembangunan, namun menolak jika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan rakyat kecil, merusak lahan pertanian, dan mengabaikan suara warga sekitar.

 

“Kami ini petani. Hidup kami dari tanah ini. Anak cucu kami makan dari hasil sawah dan kebun ini. Kalau tanah rusak, air terganggu, lalu kami harus hidup dari apa? Jangan sampai rakyat kecil dikorbankan demi kepentingan segelintir orang,” tegas Suratin di hadapan warga.

 

Menurutnya, masyarakat selama ini merasa kurang mendapatkan penjelasan terbuka dan transparan terkait dampak aktivitas geolistrik yang dilakukan di kawasan tersebut. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Mereka takut aktivitas eksplorasi akan membuka jalan terhadap kerusakan lingkungan, terganggunya sumber mata air, hingga ancaman hilangnya lahan produktif yang selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi masyarakat desa.

 

Penolakan warga Pesanggaran terhadap aktivitas eksplorasi maupun tambang sendiri bukan hal baru. Berbagai aksi serupa sebelumnya pernah terjadi di kawasan Tumpang Pitu dan sekitarnya akibat kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan hilangnya ruang hidup petani maupun nelayan. 

 

Dalam spanduk yang dipasang warga juga tertulis peringatan keras agar pihak luar tidak memasuki lahan pertanian tanpa izin. Warga menilai, etika dan penghormatan terhadap hak pemilik lahan harus dijunjung tinggi, apalagi tanah tersebut merupakan sumber kehidupan masyarakat.

 

Suratin menambahkan, masyarakat kini semakin solid menjaga wilayah pertanian mereka. Menurutnya, warga sudah lelah melihat berbagai persoalan yang muncul akibat aktivitas eksplorasi maupun kepentingan industri yang dianggap lebih berpihak kepada investasi dibanding keselamatan rakyat kecil.

 

“Kami tidak ingin kejadian buruk datang ketika semuanya sudah terlambat. Hari ini kami masih bisa bertani, masih bisa menikmati hasil bumi. Jangan sampai nanti tanah rusak, air hilang, petani sengsara baru semua menyesal,” ujarnya.

 

Di lokasi yang sama, suasana kebersamaan antarpetani terlihat kuat. Mereka berdiri bersama di depan papan penolakan sambil terus mengawasi aktivitas keluar masuk orang asing di kawasan pertanian. Sikap itu menjadi simbol bahwa masyarakat bawah mulai sadar menjaga hak atas tanah dan lingkungan mereka sendiri.

 

Bapak Pramono dari tim investigasi media yang turun langsung ke lokasi juga melihat bagaimana keresahan masyarakat begitu nyata. Menurut keterangan warga, penolakan dilakukan secara damai namun tegas sebagai bentuk perlindungan terhadap wilayah pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

 

Warga berharap pemerintah, pihak terkait, maupun perusahaan benar-benar mendengar suara rakyat kecil sebelum mengambil langkah apa pun di kawasan Salakan dan sekitarnya. Mereka meminta agar keselamatan lingkungan, keberlangsungan pertanian, serta hak hidup masyarakat dijadikan prioritas utama.

 

Bagi warga Salakan dan Pesanggaran, tanah bukan sekadar hamparan lahan. Tanah adalah kehidupan, kehormatan, dan masa depan yang tidak bisa digantikan oleh janji maupun kompensasi apa pun.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ruri Jumar Saef Desak Negara Bertindak, Dugaan Mafia Tanah dan Mafia Hukum di Pasar Cinde Jadi Sorotan Nasional
Info Denpasar Rakor Pengelolaan Sampah dan Kunker Menteri LH
Tumpak Sewu Jadi Primadona Libur Iduladha dan Waisak, Dikunjungi Hampir 10 Ribu Wisatawan
Polsek Padang dan Forkopimka Mediasi Sengketa Tanah Warga di Rumah Rembuk
LBH Gadjah Madha Indonesia Apresiasi Kehadiran Kades Tumari dalam Takziyah Warga Desa Tegalrejo
LBH Gadjah Madha Indonesia Kawal Korban Laka Hingga RSUD Genteng, Wujud Nyata Kepedulian Sosial
Warga Kelurahan Bakungan Banyuwangi Miliki Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
Sonny T. Danaparamita Gelar Safari Gemarikan, Dorong Konsumsi Ikan untuk Wujudkan Generasi Sehat dan Cerdas

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 00:55 WIB

Ruri Jumar Saef Desak Negara Bertindak, Dugaan Mafia Tanah dan Mafia Hukum di Pasar Cinde Jadi Sorotan Nasional

Selasa, 9 Juni 2026 - 11:55 WIB

Info Denpasar Rakor Pengelolaan Sampah dan Kunker Menteri LH

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:49 WIB

Tumpak Sewu Jadi Primadona Libur Iduladha dan Waisak, Dikunjungi Hampir 10 Ribu Wisatawan

Selasa, 9 Juni 2026 - 04:32 WIB

Polsek Padang dan Forkopimka Mediasi Sengketa Tanah Warga di Rumah Rembuk

Senin, 8 Juni 2026 - 14:54 WIB

LBH Gadjah Madha Indonesia Apresiasi Kehadiran Kades Tumari dalam Takziyah Warga Desa Tegalrejo

Berita Terbaru