GarudaXpose,com | Probolinggo – Pasca banjir hebat yang melanda beberapa minggu lalu, jembatan penghubung di sekitar kawasan Air Terjun Alpancori, Dusun Pancor, Desa Gunggungan Kidul, Pakuniran, Probolinggo, hingga kini masih belum dapat difungsikan.
Bencana tersebut tidak hanya meluluhlantakkan infrastruktur, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi dan pendidikan warga setempat.
Putusnya jembatan membuat Warga kesulitan mengangkut hasil pertanian, sementara akses menuju pusat aktivitas menjadi terhambat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang lebih memprihatinkan, para siswa yang setiap hari melintasi jembatan untuk bersekolah kini harus menghadapi risiko dengan menyeberangi sungai.
Sejumlah orang tua terpaksa menggendong anak-anak mereka untuk menyeberangi sungai demi memastikan mereka tetap bisa menuntut ilmu. Kondisi ini tentu mengundang keprihatinan berbagai pihak.
Melihat situasi tersebut, pihak Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum bersama wali murid, Pemerintah Desa Gunggungan Kidul, serta jajaran Koramil 0820/17 Pakuniran yang diwakili Babinsa Hafidz bergerak cepat.
Mereka bergotong royong membuat jembatan darurat dari bambu sebagai solusi sementara.
Kegiatan pembuatan jembatan darurat ini dilaksanakan pada Minggu (5/4/2026) dengan penuh semangat kebersamaan. Meski sederhana, jembatan bambu ini diharapkan dapat membantu memperlancar kembali aktivitas warga, khususnya akses anak-anak menuju madrasah.
“Kami berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah agar segera dibangun jembatan permanen yang lebih aman dan layak,” ujar H. Fathur Rosi salah satu tokoh warga setempat.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Dusun Pancor menjadi bukti kuat bahwa kebersamaan mampu menjadi solusi di tengah keterbatasan.
Kini, harapan besar tertuju pada hadirnya dukungan pemerintah untuk membangun kembali jembatan yang kokoh demi keberlangsungan ekonomi dan pendidikan warga. (Dayat)












