
Garudaxpose.com l Binjai (Sumut)— Program Kampung Tahu yang digadang-gadang sebagai ikon UMKM Kota Binjai kembali menuai kritik.
Pemerhati sosial dan ekonomi, H. Syahrir Nasution, menilai konsep Kampung Tahu jangan hanya berhenti pada seremoni dan pencitraan, sementara pelaku usaha tahu justru tengah menghadapi tekanan berat akibat melonjaknya harga bahan baku.
Menurut Syahrir, realitas di lapangan menunjukkan para pengrajin tahu skala kecil semakin kesulitan bertahan. Harga kedelai yang terus naik dan pasokan yang tidak stabil membuat biaya produksi membengkak, sementara daya beli masyarakat tidak ikut meningkat.
“Jangan sampai Kampung Tahu hanya jadi panggung acara dan slogan besar, tetapi para pelaku UMKM-nya justru menjerit,” tegas Syahrir.
Ia menyoroti minimnya kehadiran pemerintah daerah dalam memberikan solusi konkret bagi produsen tahu. Program yang semestinya menjadi penggerak ekonomi rakyat, dinilai belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi UMKM, khususnya terkait stabilisasi harga bahan baku.
Syahrir juga menilai, label Kampung Tahu akan kehilangan makna jika tidak diiringi kebijakan nyata. Tanpa intervensi pemerintah, pelaku usaha kecil akan terus berada dalam tekanan tengkulak dan fluktuasi harga pasar.
Untuk itu, ia mendorong Pemkot Binjai agar mengambil langkah strategis, antara lain membentuk koperasi produsen tahu, memberikan subsidi atau bantuan kedelai, serta melibatkan BUMD pangan dalam menjaga ketersediaan dan kestabilan harga bahan baku.
“Kalau tidak ada tindakan nyata, Kampung Tahu bukan simbol keberhasilan UMKM, tapi justru bisa menjadi potret kegagalan kebijakan ekonomi daerah,” pungkasnya.
(M.SN)
Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow