Membangkitkan Batang Tarandam Ekonomi Kerakyatan

- Penulis

Jumat, 6 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: H. Syahrir Nasution S.E, M.M  Managing Director PECI – Indonesia
Garudaxpose l Mandailing Natal  –
Istilah “Batang Tarandam” bukan sekadar ungkapan budaya Minangkabau, tetapi sebuah simbol tentang nilai, potensi, dan jati diri yang lama terendam, tertutup, dan seolah dilupakan oleh arus zaman serta kebijakan yang keliru. Dalam konteks ekonomi dan kehidupan berbangsa hari ini, Batang Tarandam itu adalah ekonomi kerakyatan.
Konstitusi Republik Indonesia secara tegas mengamanatkan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Namun dalam praktiknya, arah kebijakan ekonomi nasional justru kerap menjauh dari ruh tersebut.
Kekayaan alam, sumber daya strategis, hingga ruang-ruang ekonomi rakyat perlahan dikuasai segelintir elit dan oligarki, sementara rakyat hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.
Kondisi inilah yang menyebabkan ekonomi rakyat terendam—tarandam—oleh sistem ekonomi yang lebih berpihak pada modal besar ketimbang kesejahteraan bersama.
Padahal sejarah bangsa ini mencatat bahwa kekuatan Indonesia justru lahir dari ekonomi rakyat: petani, nelayan, pedagang kecil, dan usaha-usaha produktif berbasis komunitas.
Membangkitkan Batang Tarandam berarti mengembalikan ekonomi pada khittahnya. Negara harus hadir secara nyata untuk melindungi dan memberdayakan rakyat, bukan sekadar menjadi fasilitator kepentingan modal.
Kebijakan ekonomi harus berpihak pada produksi nasional, kemandirian pangan, kedaulatan energi, serta penguatan UMKM dan koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangsa.
Lebih dari itu, ekonomi kerakyatan tidak bisa dilepaskan dari nilai moral dan spiritual. Ekonomi bukan semata soal angka pertumbuhan, tetapi tentang keadilan, keberkahan, dan martabat manusia.
Inilah yang oleh para pendiri bangsa dahulu digagas sebagai ekonomi kerakyatan religius, sebuah sistem yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan korban pembangunan.
Momentum politik nasional hari ini seharusnya menjadi titik balik untuk membangkitkan kembali Batang Tarandam tersebut. Pemerintahan yang lahir dari mandat rakyat wajib membuktikan keberpihakannya melalui kebijakan nyata, bukan sekadar retorika kampanye.
Jika ekonomi kerakyatan terus diabaikan, maka yang terjadi bukan hanya ketimpangan, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat konstitusi dan sejarah perjuangan bangsa.
Sebaliknya, dengan membangkitkan Batang Tarandam, Indonesia memiliki peluang besar untuk berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat secara ekonomi, adil secara sosial, dan bermartabat di mata dunia.
Suhatsyah (Soekarno, Hatta, Syahrir)
Sebagai penggagas KERAKYATAN tersebut yang mempunyai ROH KERAKYATAN LAPIS BAWAH ( GRASS ROOTS ). Justeru itulah bicara EKONOMI KERAKYATAN BERBICARA KEDAULATAN EKONOMI YANG SUNGGUH SUNGGUH harus segera dikembalikan pasca kemerdekaan  Indonesia 80 Tahun sudah berlalu.
(M.SN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Konsolidasi Keluarga Besar LBH GADJA MADHA Indonesia Perkuat Solidaritas
Masyarakat Pantai Barat Madina Tuntut Perbaikan Total Jalan Lintas Batang Natal dan Suarakan Aspirasi Keadilan Pembangunan
Pembeli Tanah di Desa Tegalsari Mengaku Dirugikan, Pertanyakan Kejelasan Legalitas dan Biaya Pengurusan Rp10 Juta
Penutupan Permanen PETI Mandailing Natal Membutuhkan Kajian Ulang: Pemerintah Wajib Siapkan Pengalihan Usaha Nyata Sebelum Eksekusi
Polsek Sempol Evakuasi Jenazah ODGJ yang Ditemukan di Kebun Kopi Bondowoso
Jeritan Pantai Barat Madina : Kontributor PAD Terbesar Tapi Jalan Rusak Parah Tokoh – Tokoh Mandailing Didorong Bersikap
Diduga Tak Transparan, Proses Tender Gedung Cathlab RSUD Kayuagung Tuai Protes Jakor Sumsel
​Kecewa Jalan Provinsi Tak Kunjung Diperbaiki, Tokoh Pantai Barat Madina Desak Presiden Prabowo Buka Moratorium Pemekaran

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 13:41 WIB

Konsolidasi Keluarga Besar LBH GADJA MADHA Indonesia Perkuat Solidaritas

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:42 WIB

Masyarakat Pantai Barat Madina Tuntut Perbaikan Total Jalan Lintas Batang Natal dan Suarakan Aspirasi Keadilan Pembangunan

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:21 WIB

Pembeli Tanah di Desa Tegalsari Mengaku Dirugikan, Pertanyakan Kejelasan Legalitas dan Biaya Pengurusan Rp10 Juta

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:06 WIB

Penutupan Permanen PETI Mandailing Natal Membutuhkan Kajian Ulang: Pemerintah Wajib Siapkan Pengalihan Usaha Nyata Sebelum Eksekusi

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:29 WIB

Polsek Sempol Evakuasi Jenazah ODGJ yang Ditemukan di Kebun Kopi Bondowoso

Berita Terbaru