GARUDAXPOSE. COM | LUMAJANG — Ungkapan serta kutipan hadis dan ayat Al-Qur’an menyajikan pengingat mendalam mengenai pentingnya rasa takut (khosyyah), penyesalan atas dosa, serta kepekaan hati seorang mukmin terhadap setiap peringatan Allah SWT.
Air mata yang menetes karena rasa takut kepada Sang Pencipta merupakan penanda hati yang hidup dan lembut. Sebaliknya, ketidakmampuan untuk menangis saat mendengar peringatan-Nya sering kali menjadi penanda kerasnya hati (qoswatul qalb).
Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW memberikan panduan serta peringatan tegas mengenai bahaya kondisi tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Ancaman Kerasnya Hati dalam Al-Qur’an
Allah SWT secara tegas memperingatkan ancaman bagi orang-orang yang hatinya telah membatu melalui firman-Nya:
فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
”Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)
Penggunaan kata “Wail” (celaka/kebinasaan) dalam ayat tersebut menggarisbawahi besarnya kerugian bagi siapa saja yang hatinya tidak lagi tersentuh oleh ayat-ayat Allah hingga tak mampu meneteskan air mata penyesalan.
2. Berlindung dari Hati yang Tidak Khusyuk
Ketidakmampuan untuk terharu atau merasa takut kepada Allah hingga tak bisa menangis merupakan ciri dari hati yang tidak khusyuk. Rasulullah SAW secara khusus memohon perlindungan agar terhindar dari kondisi ini melalui doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim no. 2722)
3. Empat Indikator Kerugian Diri
Enggan menangis karena takut kepada Allah juga disebutkan sebagai salah satu indikator kerugian (as-syaqawah). Dalam sebuah riwayat disebutkan:
أَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: جُمُودُ العَيْنِ، وَقَسْوَةُ القَلْبِ، وَطُولُ الأَمَلِ، وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا
”Empat hal yang merupakan tanda kesusahan/celaka: mata yang kaku (tidak mau menangis), hati yang keras, panjang angan-angan, dan tamak terhadap dunia.” (HR. Al-Bazzar dan Abu Nu’aim)
Istilah “bekunya mata” (jumudul ‘ain) merujuk pada kondisi mata yang tidak pernah meneteskan air mata karena rasa takut kepada Allah maupun penyesalan atas kekhilafan yang telah dilakukan.














