KETERANGAN FOTO:Indahyana, pemilik usaha Srikandi asal Klampok Wanasari, memamerkan produk olahannya di Bazar Pengentasan Kemiskinan, KPT Brebes, Selasa (30/6/2026).
BREBES,GarudaXpose.com///-
Kisah Indahyana menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan tepat sasaran mampu memutus rantai kemiskinan. Berawal dari pelatihan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Brebes, ibu rumah tangga asal Desa Klampok, Kecamatan Wanasari ini kini sukses mengembangkan usaha rumahan Srikandi, yang menjadi tumpuan baru ekonomi keluarganya.
Indahyana merupakan salah satu pelaku usaha yang memamerkan produknya dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Bazar Produk Hasil Pelatihan Pemberdayaan, di Aula Lantai 5 KPT Brebes, Selasa (30/6/2026).
“Setelah mendapatkan pelatihan kita jadi bisa jualan, karena kita akan melebarkan sayap. Setelah pelatihan-pelatihan tersebut, kami berusaha untuk bangkit supaya bisa menjualkan produk-produk kami,” ujar Indahyana di sela bazar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Usaha itu kini telah memberi dampak langsung bagi keluarganya. Dari yang semula hanya berstatus ibu rumah tangga, Indahyana kini ikut menopang nafkah.
“Alhamdulillah untuk hari-hari bisa menambah penghasilan untuk ekonomi keluarga,” katanya.
Asisten I Sekda Brebes, Subandi, menegaskan penanganan kemiskinan adalah tanggung jawab bersama. Ia menyebut bazar tersebut menjadi bukti bahwa warga Brebes punya potensi besar untuk bangkit jika diberi kesempatan dan pendampingan.
“Langkah kecil ini akan menjadi dorongan besar bagi mereka untuk terus berusaha dan berkembang. Kita hadir bukan hanya sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan,” tegas Subandi.
Ia mengajak seluruh OPD dan pengunjung untuk membeli langsung produk peserta pelatihan, sebagai bentuk dukungan nyata.
Sementara itu, Kepala Bapperida Kabupaten Brebes, Tety Yuliana, memaparkan tantangan yang masih dihadapi. Angka kemiskinan di Brebes saat ini masih berada di angka 14,15 persen atau sekitar 257 ribu jiwa.
Untuk itu, pada 2026 Pemkab Brebes memfokuskan intervensi pada tiga pilar utama: optimalisasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), percepatan operasional Sekolah Rakyat di Desa Wlahar, Kecamatan Larangan, serta penguatan Gerakan Satu OPD Satu Desa Dampingan.
“DTSEN harus menjadi satu-satunya kompas kita dalam menyalurkan intervensi. Saya tidak ingin lagi mendengar ada warga miskin ekstrem yang terlewat, sementara warga yang mampu justru menerima bantuan,” tegas Tety.
Tety juga meminta setiap perangkat daerah aktif mendampingi desa binaannya, turun langsung mengidentifikasi persoalan di lapangan, dan membangun kolaborasi bersama pemerintah desa, sektor swasta, serta masyarakat.
Subandi optimistis, upaya pengentasan kemiskinan di Brebes akan berjalan lebih cepat bila kolaborasi ini terus diperkuat. Menurutnya, kunci keberhasilan ada pada tiga hal: komitmen, konsistensi, dan kepedulian seluruh pemangku kepentingan.
Kisah Indahyana dan para pelaku usaha Srikandi lainnya pun menjadi penanda bahwa pelatihan yang tepat, jika disertai pendampingan dan pasar, benar-benar mampu mengubah dapur rumah tangga menjadi sumber kemandirian ekonomi.***
(4905)












