Garudaxpose.com, Tapteng | Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menanggapi munculnya wacana pemakzulan terhadap dirinya yang disebut-sebut diusulkan sejumlah partai politik di DPRD Tapanuli Tengah.
Masinton menilai, munculnya wacana tersebut tidak terlepas dari dinamika politik yang masih terbawa dari kontestasi Pilkada sebelumnya. Ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak menggunakan cara-cara politik lama yang dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi pemerintahan saat ini.
“Kalau kita masih menggunakan cara-cara politik lama, kapan Tapanuli Tengah ini mau maju? Kita harus menghormati aturan, etika dan norma dalam pemerintahan. Jangan karena kepentingan politik kemudian pembangunan dan kepentingan masyarakat kita korbankan,” tegas Masinton.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, dinamika politik di Tapanuli Tengah bukan hal yang baru. Bahkan sejak berakhirnya masa jabatan kepala daerah pada Mei 2022 dan daerah dipimpin oleh sejumlah Penjabat (Pj) Bupati, berbagai tekanan politik juga terjadi.
Masinton mencontohkan ada tiga Pj Saat itu menjabat di Tapteng semuanya diganggu, masa kepemimpinan Pj Bupati Yetty, Ellys dan Sugeng Riyanta yang menurutnya tetap menjalankan roda pemerintahan meskipun menghadapi berbagai persoalan dan tekanan, termasuk dalam pembahasan anggaran.
“Pj Bupati juga pernah mengalami tekanan-tekanan politik. Tetapi pemerintahan harus tetap berjalan. Kalau memang diperlukan untuk menjamin kesinambungan pembangunan, ada kewenangan kepala daerah untuk menerbitkan peraturan kepala daerah terkait APBD sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Masinton di rumdis. Minggu (6/09/2026)
Masinton juga menegaskan, dirinya bersama Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Mahmud Efendi Lubis, mendapatkan mandat langsung dari pilhan Rakyat melalui Pilkada.
“Yang memilih kami itu rakyat. Kami mendapatkan mandat dari rakyat melalui proses Pilkada. Jadi jangan karena ada kepentingan politik tertentu kemudian mandat rakyat itu diabaikan,” katanya.
Ia juga memastikan tidak akan mundur hanya karena adanya tekanan politik maupun wacana pemakzulan tersebut.
“Saya tidak akan mundur hanya karena tekanan politik. Kalau ada yang tidak menerima hasil Pilkada, mari kita hormati pilihan rakyat. Kalau ingin bertanding lagi, ada waktunya, ada Pilkada berikutnya. Silakan berkompetisi kembali secara demokratis,” tegasnya.
Masinton meminta seluruh pihak untuk tidak menjadikan persoalan politik sebagai sumber perpecahan di tengah masyarakat, terlebih Tapanuli Tengah masih dalam proses pemulihan pascabencana.
“Kita sedang menghadapi kondisi masyarakat yang masih membutuhkan perhatian. Banyak saudara-saudara kita yang terdampak bencana dan masih membutuhkan pemulihan. Jangan energi kita habiskan untuk konflik politik yang justru bisa memecah masyarakat,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk mengedepankan politik yang beretika dan berkeadaban.
“Berpolitik itu boleh, berbeda pandangan itu biasa. Tetapi jangan sampai perbedaan politik membuat kita bermusuhan. Mari kita bangun Tapanuli Tengah dengan politik yang beretika, berkeadaban dan berpihak kepada kepentingan masyarakat,” pungkas Masinton.
Masinton juga mengajak masyarakat Tapanuli Tengah tetap menjaga persatuan, kebersamaan dan semangat gotong royong dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan dan pemulihan pascabencana.(ps)












