Gubernur Koster; PKB Wahana Pelestarian Nilai-nilai Spiritual dan Budaya Bali

- Penulis

Kamis, 2 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


 Parade Gong Kebyar Dewasa PKB XLVIII 2026, Bangli dan Denpasar Suguhkan Spiritualitas serta Kekuatan Tradisi Bali


Garudaxpose.com l Denpasar Bali – Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri pementasan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar, Rabu (1/7) malam. Di hadapan ribuan penikmat seni, dua duta seni dari Kabupaten Bangli dan Kota Denpasar menampilkan karya-karya yang memadukan kekuatan tradisi, spiritualitas, dan kreativitas dalam bingkai seni pertunjukan Bali.

Kehadiran Gubernur Koster yang didampingi jajaran kurator PKB menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah seniman dan penonton memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berfoto bersama di sela-sela berlangsungnya pertunjukan.

Pada kesempatan itu, Duta Kabupaten Bangli yang diwakili Sekaa Gong Tirta Nirmala uUlundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani, tampil bersama Sanggar Seni Semara Budaya, Banjar Badak Sari, Desa Sumerta Klod, Denpasar Timur, sebagai duta pendamping.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penampilan pembuka Bangli menghadirkan Tari Ratu Kebasan, sebuah garapan yang mengangkat ritual sakral masyarakat Desa Songan. Karya ini menggambarkan perjalanan manusia menuju penyucian diri melalui proses spiritual yang diawali dengan gerak-gerak tenang, kemudian berkembang menjadi dinamika penuh energi ketika kekuatan suci hadir dalam prosesi kerauhan.

Melalui koreografi yang sarat simbol, tarian tersebut memperlihatkan transformasi batin manusia dalam melepaskan ego dan menyerahkan diri kepada kehendak alam semesta. Gerak spontan, lompatan, hingga hentakan yang intens membangun atmosfer magis yang menjadi ciri utama tradisi sakral tersebut.

Sementara itu, Duta Kota Denpasar membuka penampilannya dengan Tari Banda Yowana, sebuah tari kreasi yang lahir pada 1987. Karya ini mengisahkan sekelompok pemuda yang terikat dalam semangat organisasi, kebersamaan, dan persaudaraan.

Melalui komposisi gerak yang dinamis dan serempak, tarian tersebut merepresentasikan semangat generasi muda dalam membangun solidaritas sekaligus menjaga warisan estetika Tari Bangdu yang menjadi sumber inspirasi utama penciptaannya.

Pada sajian pamungkas, kedua duta seni kembali menampilkan karya monumental bernuansa magis yang mendapat apresiasi meriah dari penonton.

Bangli mempersembahkan garapan Merujaklalang, sebuah interpretasi artistik atas ritus sakral masyarakat Desa Songan yang menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara pengabenan sekaligus identitas budaya desa Bali Aga tersebut.

Pertunjukan menampilkan prosesi perebutan rumput ilalang sebagai simbol penyucian yang dikemas melalui tata gerak maskulin, dinamika gong kebyar, serta ritme dramatik. Simbol perebutan “rujak” dimaknai sebagai penghancuran ego jasmani menuju pemurnian jiwa, sebelum bermuara pada sukacita sebagai lambang keikhlasan menerima kematian sebagai proses transformasi spiritual.

Adapun Duta Kota Denpasar menutup penampilannya melalui fragmentari Tamtam, yang mengangkat kisah spiritual dua atma, Gina dan Gidul.

Dalam cerita tersebut, Gidul bereinkarnasi menjadi pengembara suci bernama Tamtam, murid Aji Saka dari Pulau Jawa, sementara Gina bereinkarnasi menjadi Dewi Aryeswara di Kerajaan Mesir. Pertemuan keduanya bermula dari sebuah sayembara, namun berkembang menjadi perjalanan spiritual menuju penyatuan nilai-nilai Siwa-Buddha.

Melalui alur dramatik yang sarat pesan filosofis, fragmentari ini menegaskan bahwa perjalanan hidup manusia pada akhirnya merupakan proses penyucian diri melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran dharma hingga mencapai pelepasan menuju swargaloka.

Gubernur Koster sendiri mengapresiasi Parade Gong Kebyar Dewasa malam itu yang kembali menunjukkan bahwa Pesta Kesenian Bali tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni pertunjukan, tetapi juga wahana pelestarian nilai-nilai spiritual, sejarah, dan identitas budaya Bali yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya melalui karya-karya kreatif berakar kuat pada tradisi.(Noer/Tra).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang
Kades Bulakparen Pimpin Kirab Sedekah Bumi Naik Kereta Kuda, Warga Antusias Berebut Gunungan
Dedikasi Hingga Purna Tugas, Polres Sibolga Beri Penghormatan kepada AKP (Purn.) Suyatno
Kebakaran TPA Jatiwaringin, Upaya Pemadaman dan Evakuasi Terus Dilakukan
Proyek Bedah Rumah Pagu Dewan di Jayanti Diduga Siluman, KIP Tak Terpasang dan Abaikan K3
Bupati Banyuwangi dan BNNK Luncurkan Inovasi Greeting–Closing P4GN pada Seluruh Layanan Publik
Alasmalang, Sonny T. Danaparamita Apresiasi Lahirnya Organisasi ARWALOS
Bupati Ipuk Apresiasi Kinerja Polresta Banyuwangi di HUT Bhayangkara ke-80

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 17:58 WIB

Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

Kamis, 2 Juli 2026 - 15:48 WIB

Kades Bulakparen Pimpin Kirab Sedekah Bumi Naik Kereta Kuda, Warga Antusias Berebut Gunungan

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:40 WIB

Dedikasi Hingga Purna Tugas, Polres Sibolga Beri Penghormatan kepada AKP (Purn.) Suyatno

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:02 WIB

Proyek Bedah Rumah Pagu Dewan di Jayanti Diduga Siluman, KIP Tak Terpasang dan Abaikan K3

Kamis, 2 Juli 2026 - 09:01 WIB

Bupati Banyuwangi dan BNNK Luncurkan Inovasi Greeting–Closing P4GN pada Seluruh Layanan Publik

Berita Terbaru