Keterangaan foto:Kades
Kepala Desa Bulakparen, Narto, bersama istri tampil berkharisma mengenakan pakaian adat Jawa saat memimpin kirab Sedekah Bumi di Desa Bulakparen, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Kamis (2/7/2026).
BULAKPAREN, BREBES,GarudaXpose.com //”Ratusan warga Desa Bulakparen, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, tumpah ruah berebut gunungan hasil bumi dalam tradisi Kirain bakal untuk!!Budaya Sedekah Bumi, Kamis (2 Juli 2026). Tradisi turun-temurun ini menjadi wujud syukur warga atas melimpahnya hasil pertanian sekaligus doa untuk panen yang lebih baik ke depan.
Gunungan yang diperebutkan berisi aneka komoditas unggulan desa, mulai dari cabai, padi, bawang merah, hingga sayuran segar hasil jerih payah petani setempat. Sebelum menjadi rebutan, gunungan terlebih dahulu diarak keliling desa dengan rute start dan finis di Balai Desa Bulakparen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak pukul 11.00 WIB, warga sudah memadati jalur kirab. Iring-iringan budaya yang dimulai pukul 13.30 WIB itu melibatkan perangkat desa, Karang Taruna, hingga anak-anak dan orang tua. Suasana kian semarak saat Kepala Desa Bulakparen, Narto, beserta istri dan keluarga besarnya ikut dalam arak-arakan. Mereka tampil berkharisma mengenakan pakaian adat Jawa Narto berpeci dan beskap, sementara istrinya anggun berkebaya menaiki kereta kuda hias yang menjadi pusat perhatian.
Tepat di depan Balai Desa, usai kirab berakhir, warga langsung menyerbu gunungan. Tawa riang dan semangat kebersamaan pecah saat warga berebut cabai, bawang, hingga padi. Bagi masyarakat, isi gunungan diyakini membawa berkah bagi yang mendapatkannya.
“Ini ungkapan rasa syukur kami kepada Allah SWT atas rezeki dari bumi Bulakparen. Semoga hasil h pertanian warga semakin melimpah dan dijauhkan dari hama,” ujar Kepala Desa Narto di sela kegiatan.
Narto menegaskan, Sedekah Bumi bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi perekat kebersamaan sekaligus cara warga menjaga warisan adat Jawa yang sudah mengakar turun-temurun. “Apalagi sedekah bumi ini sangat penting dan sudah menjadi adat istiadat Jawa yang harus kita lestarikan,” tambahnya.
Rangkaian acara belum berhenti di siang hari. Pada malam harinya, warga akan menggelar selamatan bersama di Balai Desa sebagai puncak rasa syukur, diisi dengan doa bersama dan kenduri. Tak hanya itu, kemeriahan berlanjut esok harinya dengan pertunjukan Sandiwara yang digelar siang dan malam untuk menghibur seluruh warga dari berbagai dusun.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pemuda Karang Taruna yang ikut mempersiapkan acara sejak sepekan terakhir. Mereka bergotong royong menghias gunungan, menyiapkan kereta kuda, hingga mengatur jalur kirab agar berjalan tertib.
Tradisi Sedekah Bumi di Bulakparen menjadi bukti bahwa di tengah modernisasi, nilai gotong royong dan kearifan lokal tetap dijaga erat oleh masyarakatnya. “Harapan kami, generasi muda tetap mau melanjutkan tradisi ini. Jangan sampai hilang ditelan zaman,” pungkas Narto.***
(4905)













