BREBES, GarudaXpose.com //-Mentari Minggu menggantung di ufuk Brebes, tidak terik menyengat, melainkan hangat mengurapi tekad. Di jam yang sama, layar-layar gawai menyala serentak dari rumah-rumah di pesisir hingga pedalaman. Denting notifikasi menjadi genderang: babak baru regenerasi kepemimpinan partai berlambang banteng dimulai. Di ruang maya yang senyap namun bergemuruh ikrar, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes menggelar Fit and Proper Test bagi para calon Ketua PAC sebuah mahligai seleksi yang meramu zaman dan ideologi, algoritma dan amanah.
Larendra Restu Gusti Arrasyid, S.H., Wakil Ketua Bidang Keanggotaan, Organisasi dan Sumber Daya DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes, menuturkan bahwa titah partai telah jatuh tepat pada Ahad, 19 April 2026. “Jadwal Fit and Proper Test bagi calon Ketua PAC se-Kabupaten Brebes kita gelar hari ini, serentak secara daring,” ujarnya, tegas namun bersahaja. Nada bicaranya lurus, tak berbusa, sebab ia tahu: politik sejatinya adalah kerja, bukan sekadar kata.
Gelombang aspirasi itu tak kecil. Hampir 200 insan mendaftarkan diri, memadati daftar dengan nama dan niat. Karena jumlahnya membuncah, bahtera seleksi pun dibelah menjadi dua sesi agar layar tak sesak dan substansi tak tercecer. Sesi pertama membuka tirai pukul 09.00 WIB hingga rampung, disusul sesi kedua pukul 13.00 WIB sampai tuntas. Waktu bukan sekadar angka di jam, melainkan pagar disiplin bagi yang hendak memimpin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesi pembuka menghimpun 93 peserta dari tiga daerah pemilihan. Mereka datang dari delapan kecamatan: Brebes, Jatibarang, Songgom, Bulakamba, Banjarharjo, Tanjung, Kersana, dan Losari. Peta keterwakilan itu berbicara: dari pusat kota hingga tapal batas, dari jalan aspal hingga pematang sawah, semua mengirim utusan. Ragam latar menyatu di sana ada mantan kepala desa yang kenyang mendengar keluh di balai rakyat, purna PNS yang paham birokrasi dari dalam, pengusaha yang terbiasa menakar risiko, tokoh NU dan warga Muhammadiyah yang memanggul moral umat, hingga kaum muda yang napasnya sudah menyatu dengan nadi digital.
Ujian kali ini berdenyut dalam nadi zaman: berbasis digital. Bukan karena silau tren, melainkan karena partai menolak jadi arca di museum sejarah. “Kita menghadapi globalisasi, sehingga penjaringan calon Ketua PAC beserta jajaran pengurusnya harus menjamin mutu,” tandas Larendra. Zaman tak memberi jeda bagi yang tertinggal. Maka, kolaborasi menjadi mantra: yang senior menebar kebijaksanaan dari lumbung pengalaman, yang junior menyalakan inovasi dari bengkel gagasan. IT bukan sekadar alat, melainkan cermin kesiapan menghadapi tantangan dari hoaks yang lebih cepat dari kebenaran, hingga pelayanan rakyat yang menuntut kecepatan dan ketepatan.
Soal demi soal menderas di layar. Ada yang menguji wawasan kebangsaan, ada yang menakar paham ideologi, ada pula yang membedah kemampuan manajerial dan literasi digital. Bukan untuk meminggirkan yang gagap teknologi, tetapi untuk memastikan nahkoda PAC sanggup membaca peta zaman: kapan harus menebar layar, kapan harus berlabuh mendengar rakyat. Alhamdulillah, layar-layar ujian telah padam dengan tertib. “Tes berjalan lancar, khidmat, dan semua peserta mampu menuntaskan,” lanjut Larendra. Tak ada riuh yang tak perlu, tak ada jeda yang sia-sia.
Harapannya menukik dalam, seperti jangkar yang mencari dasar paling kokoh: lahirlah nakoda PAC yang bukan hanya cakap di jagat digital, tetapi juga berakar di denyut masyarakat. Sebab ketua PAC bukanlah admin grup, melainkan telinga partai di tingkat kecamatan. Ia harus bisa membuka laptop untuk merancang program, sekaligus membuka pintu rumah warga yang dilanda banjir rob. Ia harus fasih bicara data, sekaligus piawai meredakan sengketa di gardu ronda.
“PDI Perjuangan adalah rumah terbuka. Kita merangkul semua komponen agamis, organisasi, pengusaha, tokoh masyarakat. Yang kita cari adalah kader terbaik: berkualitas, berpotensi, paham IT, sekaligus menjadi suluh di tengah warga,” tegasnya. Partai ini, katanya, tak mencari seragam tunggal. Yang diseragamkan adalah komitmen: pada Pancasila, pada rakyat, pada kerja nyata. Selebihnya, biarlah keberagaman menjadi mozaik kekuatan.
Keterangan tambahan disampaikan Suntoro, Wakil Ketua DPC Bidang Bapilu Legislatif dan Eksekutif. Menurutnya, Fit and Proper Test daring ini bukan sekadar ujian teknis, melainkan pisau bedah untuk mengukur daya tempur politik di era baru. “Bapilu butuh mesin partai yang lincah. Ketua PAC adalah komandan teritorial. Kalau ia gagap digital, maka koordinasi pemenangan akan pincang. Tapi kalau hanya pintar digital tanpa mengakar, maka suara rakyat tak akan sampai ke meja strategi,” ujarnya. Suntoro menegaskan, hasil seleksi ini akan menjadi peta jalan konsolidasi menghadapi agenda elektoral ke depan. “Kami ingin memastikan, dari PAC hingga ranting, barisannya rapat: melek teknologi, melek sosial, dan melek ideologi. Sebab pertarungan politik hari ini bukan hanya di TPS, tapi juga di ruang persepsi. Dan itu butuh nakoda yang tangguh di dua medan.”
Proses ini bukan garis akhir. Setelah PAC, jalan pengkaderan akan mengalir ke ranting, merembes hingga anak ranting. Dari layar menuju akar, dari data menuju dada rakyat. Sebab partai ini percaya, marwah politik tak hanya dihitung dari klik dan kode, melainkan dari tapak yang membekas di tanah Pantura di pasar yang becek, di tambak yang butuh tanggul, di sekolah yang butuh perhatian.
Di Brebes, Minggu ini, politik tak lagi sekadar orasi di podium yang diterbangkan angin. Ia menjelma baris-baris ujian di layar, menjelma ikhtiar sunyi untuk memastikan bahwa yang memimpin kelak adalah mereka yang mampu merukunkan algoritma dengan adab, dan keyboard dengan kebijaksanaan. Sebab di ujungnya, yang dinanti rakyat bukan seberapa cepat jari mengetik, melainkan seberapa dalam hati berpihak.
Dan ketika sesi terakhir ditutup, yang tersisa bukan hanya nilai di server, melainkan janji yang menggantung di langit Brebes: bahwa regenerasi ini bukan seremoni, melainkan sumpah untuk tidak meninggalkan zaman, tanpa mencabut akar dari bumi sendiri.
Pungkasnya, seleksi daring ini adalah fajar yang dititipkan pada pundak para calon. Ia bukan panggung untuk gagah-gagahan, melainkan kawah candradimuka yang menguji: sanggupkah mereka menjadi jembatan antara kecepatan zaman dan kelambanan birokrasi yang harus dipangkas? Sanggupkah mereka menjadikan wifi sebagai wasilah, bukan sekadar wifian?
Larendra menutup dengan kalimat yang menancap: “Kami tidak mencari yang paling pintar sendiri, tapi yang paling mau mengajari. Tidak mencari yang paling senior sendiri, tapi yang paling mau mendengar. Ketua PAC kelak harus punya dua telapak: satu untuk mengetuk pintu langit, satu lagi untuk menggenggam tangan rakyat.”
Maka biarlah hasil Fit and Proper Test ini menjadi lembar pertama dari buku panjang pengabdian. Sebab partai boleh berlayar di samudra digital, tetapi sauhnya tetap harus menghunjam di lumpur sawah, di pasir pantai, dan di hati rakyat Brebes. Di situlah banteng menambatkan marwah: bukan pada sorak, tapi pada tapak.red*
(Gus)














