Garudaxpose.com, Tapteng | Tangis seorang ibu memecah suasana di Alun-alun Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (8/7/2026). Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, ia menggenggam selembar kertas berisi kolom tanda tangan. Di sampingnya, sang suami hanya mampu menundukkan kepala, menahan duka yang belum juga menemukan jawaban.
Hari itu, keluarga almarhum Boy Simamora bersama Forum Masyarakat (Formas) menggelar Gerakan 1.000 Tanda Tangan sebagai bentuk dukungan masyarakat agar penyebab kematian Boy Simamora diusut secara tuntas oleh aparat penegak hukum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di hadapan warga yang mulai berdatangan, ibu almarhum menyampaikan permohonan yang membuat banyak orang terdiam.
“Bapak, ibu… lihatlah kami. Bantulah kami dengan memberikan dukungan tanda tangan agar kematian anak kami dapat diusut tuntas. Kami orang kecil yang tidak mengerti hukum. Hanya Tuhan yang dapat membalas semua kebaikan bapak dan ibu yang mau membantu kami,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
Ia bahkan mengulang permohonannya dalam bahasa Batak, berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak memberikan dukungan kepada keluarganya.

Bagi keluarga, setiap tanda tangan bukan sekadar coretan tinta di atas kertas. Tanda tangan itu menjadi simbol harapan agar mereka memperoleh kepastian atas penyebab kematian putra yang mereka cintai.
Dengan suara lirih, ayah Boy Simamora kemudian menyampaikan permohonannya kepada Kapolres Tapanuli Tengah agar kasus tersebut mendapat perhatian serius.
“Kami memohon kepada Bapak Kapolres Tapanuli Tengah agar mengusut tuntas kematian anak kami. Sudah begitu lama kami menunggu kepastian. Kami melihat ada beberapa hal yang menurut kami janggal pada kondisi jenazah anak kami. Karena itu kami berharap semuanya dibuktikan melalui penyelidikan dan hasil forensik,” katanya.

Menurutnya, keluarga hingga kini belum menerima hasil resmi autopsi yang dilakukan terhadap jenazah Boy Simamora. Mereka mengaku hanya ingin mengetahui penyebab pasti kematian anak mereka berdasarkan hasil pemeriksaan ilmiah.
“Kami hanya ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada anak kami. Kami menunggu hasil autopsi agar semuanya menjadi jelas. Kami hanya mencari kebenaran dan keadilan,” ujarnya.
Aksi Gerakan 1.000 Tanda Tangan itu berlangsung dengan tertib. Sejumlah warga yang hadir tampak memberikan dukungan dengan membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk solidaritas kepada keluarga.
Keluarga berharap hasil autopsi segera disampaikan kepada mereka dan proses penyelidikan dilakukan secara transparan. Mereka juga meminta aparat kepolisian mengungkap penyebab kematian Boy Simamora berdasarkan fakta, alat bukti, dan hasil penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga masih menanti hasil resmi autopsi dan perkembangan penyelidikan dari pihak kepolisian terkait penyebab kematian Boy Simamora.(ps)










