Oleh: H. Syahrir Nasution, SE., MM.
Gelar Sutan Kumala Bulan
Dalam sejarah Romawi kuno, nama Brutus abadi sebagai simbol pengkhianatan. Ia bukan sekadar prajurit; ia adalah orang terdekat Kaisar Julius Caesar—sahabat yang dipercaya, dipuji, dan dibela. Namun, justru dari tangan Brutuslah Caesar menerima tikaman paling menyakitkan.
Fenomena “Brutus” rupanya tidak hanya hidup dalam buku sejarah. Di negeri ini pun kita melihat banyak Brutus–Brutus modern: mereka yang dahulu memuja, memuji, dan membela seseorang, kemudian tiba-tiba berbalik mencari “payung” baru demi menyelamatkan kepentingan diri sendiri. Kesetiaan dijual murah, komitmen ditukar dengan kenyamanan pribadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada pula orang yang merasa dirinya “radja”, padahal bukan. Tanpa sadar ia menggali kubur kehancurannya sendiri. Kekuasaan tanpa akhlak hanya akan menyeret pemiliknya menuju jurang kehinaan.
Bagi manusia yang masih memiliki akal sehat, kondisi ini seharusnya menjadi cambuk kesadaran—bahwa kekuasaan Allah SWT jauh lebih besar daripada segala tipu muslihat manusia. Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bagaimana Allah menjatuhkan orang-orang yang sombong, yang hanya mengikuti hawa nafsu, dan tidak mau bercermin pada tanda-tanda peringatan.
Namun sebagian manusia tetap enggan peduli. Godaan dunia membuat mereka buta terhadap pesan Ilahi. Padahal ketika Allah menurunkan peringatan, itu bukan tanpa tujuan—melainkan sebagai ajakan lembut untuk kembali ke jalan yang lurus.
Siapa yang memilih untuk mengabaikan? Tinggallah menunggu azab yang lebih berat. Sebab Allah tidak pernah tidur. Segala perbuatan, baik yang tampak maupun yang disembunyikan, seluruhnya berada dalam pengetahuan-Nya.
Pada akhirnya, kebenaran tidak pernah bisa dikalahkan. Ia mungkin diputarbalikkan, dituduh, dicemarkan, bahkan ditindas. Tetapi ia tidak akan pernah bisa dikuburkan selamanya. Dengan izin dan ridho Allah SWT, kebenaran akan menemukan jalannya untuk menang.
Aamiin.













