BANYUWANGI – GARUDAXPOSE.COM
Polemik yang sebelumnya diberitakan Garudaxpose.com terkait pengakuan Sulastri kini kembali menjadi sorotan. Dalam keterangan terbarunya, Sulastri menegaskan bahwa persoalan yang ingin ia perjuangkan berkaitan dengan uang miliknya, penggunaan mobil pribadi, serta kejelasan mengenai peristiwa yang menurut pengakuannya terjadi ketika dirinya dibawa ke Pakis Asri dan wilayah Licin.
Dengan nada kecewa, Sulastri mempertanyakan sikap TR yang menurutnya membantah persoalan tersebut. Ia bahkan mengingatkan bahwa nilai uang pada masa lalu memiliki daya beli yang berbeda dibandingkan saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“TR iki, kok mbantah barang. Uang segitu banyaknya dulu kalau misalnya untuk beli tanah di Sukorejo dapat setengah hektare lebih seperdelapan. Dulu uang kan masih berharga. Jadi, saya dibuat bodoh dan dianggap gila,” ungkap Sulastri.
Pernyataan itu menjadi bagian dari tuntutan Sulastri agar persoalan yang disampaikannya mendapatkan kejelasan. Besaran dana yang dimaksud, riwayat transaksi, dan siapa yang menguasai uang tersebut perlu dibuktikan melalui dokumen maupun keterangan para pihak.
PEMINDAHAN UANG DARI KSP BIMA DIPERTANYAKAN
Sulastri menyebut persoalan bermula ketika TR,menurut pengakuannya, mengajak memindahkan uang simpanannya dari KSP BIMA dengan alasan keamanan.
“Awalnya TR itu mengajak memindahkan uangku yang di KSP BIMA. Katanya tidak aman, mau dipindah uangku ke bank yang aman. Akhirnya terjadi masalah ini dan itu. Awal mulanya yang bikin masalah ini TR” tegasnya.
Dari keterangan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana proses pemindahan dana dilakukan, berapa jumlah uang yang dipersoalkan, dan apakah tersedia bukti transaksi yang dapat menjelaskan perjalanan dana tersebut?
Kejelasan itu penting. Jika terdapat perselisihan mengenai kepemilikan atau penguasaan uang, penyelesaiannya perlu bertumpu pada bukti, bukan sekadar pernyataan yang saling berlawanan.
MOBIL PRIBADI TURUT MENJADI PERSOALAN
Sulastri juga mengaku pernah dibawa ke Pakis Asri selama lebih dari satu bulan, kemudian ke wilayah Licin. Ia menyatakan bahwa selama periode tersebut TR menggunakan mobil miliknya.
“Jadi, TR selama itu memakai mobil saya. Kalau disewakan mobil per hari, sudah bayar berapa kira-kira?” ujarnya.
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai durasi penggunaan kendaraan, kesepakatan antara kedua pihak, serta ada atau tidaknya pembayaran maupun kompensasi.
Apabila memang terdapat tuntutan terkait penggunaan mobil, persoalan itu perlu diperjelas melalui bukti kepemilikan, komunikasi, kesepakatan, dan keterangan saksi yang relevan.
PERTANYAKAN ALASAN DIBAWA KE LICIN
Sulastri turut mempertanyakan alasan dirinya dibawa ke sebuah rumah di wilayah Licin, siapa yang mengambil keputusan, dan siapa yang bertanggung jawab atas penempatannya di lokasi tersebut.
“Saya sama TR malam-malam dibawa ke Licin pakai mobil saya, dan di sana saya ditaruh di rumahnya orang. Saya diberi makan sayur kelor dan mandi di sungai. Saya tidak pernah dibelikan apa-apa sama TR,” tuturnya.
Ia juga mempertanyakan apakah ada pihak yang memberikan rujukan atau instruksi untuk membawanya ke tempat tersebut.
“Siapa yang menyuruh TR membawa aku? Siapa yang merujuk? Tidak ada petugasnya karena bukan rumah sakit, melainkan di rumah orang,” ungkapnya.
Keterangan ini perlu ditindaklanjuti dengan menggali tujuan perjalanan, kondisi Sulastri saat itu, persetujuan yang diberikan, serta keterangan orang yang menjadi tuan rumah. Tanpa informasi tersebut, belum dapat ditarik kesimpulan mengenai ada atau tidaknya pelanggaran.
SULASTRI TEGASKAN PERSOALAN UTAMANYA ADALAH UANG
Sulastri membantah bahwa persoalan yang ia sampaikan berkaitan dengan hubungan pribadi. Ia menegaskan bahwa fokus keberatannya adalah uang yang menurut pengakuannya menjadi sumber perselisihan.
“Selain itu aku gak ada, dan juga tidak pernah hubungan karo TR. Masalahnya ya karena uangku itu, dibuat kesempatan sama TR,” tegasnya.
Ia juga melontarkan dugaan keterlibatan TR bersama istrinya dalam persoalan uang tersebut. Namun, dugaan itu masih membutuhkan bukti dan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebutkan.
Karena itu, penting bagi seluruh pihak untuk memberikan keterangan secara terbuka agar duduk persoalan dapat diperiksa secara objektif.
GARUDAXPOSE.COM MENUNGGU KLARIFIKASI DAN BUKTI
Sebagai tindak lanjut dari pemberitaan sebelumnya, Garudaxpose.com memandang bahwa persoalan ini perlu diarahkan pada kejelasan fakta, terutama mengenai:
- Jumlah dan riwayat uang yang dipersoalkan Sulastri.
- Bukti pemindahan dana dari KSP BIMA dan pihak yang menerima atau menguasainya.
- Dasar serta durasi penggunaan mobil pribadi milik Sulastri.
- Alasan Sulastri dibawa ke Pakis Asri dan Licin, termasuk pihak yang mengetahui atau mengambil keputusan.
- Tanggapan TR dan pihak-pihak lain atas pernyataan terbaru Sulastri.
Pertanyaan tersebut perlu dijawab berdasarkan dokumen, saksi, dan keterangan yang dapat diverifikasi.
Garudaxpose.com menegaskan bahwa pemberitaan lanjutan ini bukan untuk menghakimi, melainkan memberikan ruang bagi persoalan yang disampaikan narasumber agar mendapatkan kejelasan. Sulastri berhak menyampaikan pengaduan dan menunjukkan bukti yang dimilikinya, sementara TR dan pihak-pihak terkait berhak memberikan klarifikasi serta hak jawab.
Apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum, penilaiannya harus diserahkan kepada pihak berwenang berdasarkan bukti dan proses yang berlaku.(kabiro)
Garudaxpose.com membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi TR maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini.
Catatan redaksi: Berita ini merupakan tindak lanjut atas pemberitaan sebelumnya. Pernyataan mengenai uang, penggunaan kendaraan, dan peristiwa di Pakis Asri serta Licin bersumber dari keterangan Sulastri dan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
(foto sulastri)















