LUMAJANG, GARUDAXPOSE.COM | Istilah “Buruh Momong” meluncur dari Kepala SMAN 1 Tempeh Lumajang, Sutrisno, M.Pd, saat menggambarkan beratnya tugas guru di era digital. Pernyataan itu ia sampaikan dalam laga persahabatan dengan SMAN 1 Tapen Bondowoso yang digelar di lapangan olahraga SMAN 1 Tempeh, Sabtu (10/10/2026).
Laga persahabatan yang melibatkan cabang Bola Voli putra-putri, Futsal ( Mini Soccer) , dan Bulu Tangkis ini mempertemukan dua kepala sekolah, Sutrisno, M.Pd dari SMAN 1 Tempeh sebagai tuan rumah, dan Yudi Kurniawan, M.Pd dari SMAN 1 Tapen Bondowoso sebagai tamu kehormatan.
Dalam wawancara eksklusif bersama wartawan GARUDAXPOSE.COM dan R_SEMERU.COM, Sutrisno menegaskan bahwa guru di era sekarang adalah buruh momong.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pekerjaan kita ini buruh, Pak, buruh momong. Momong anake uwong,” ujar Sutrisno.
Menurutnya, kegiatan persahabatan yang diinisiasi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dari kedua sekolah, termasuk Deki Hendriyanto yang berasal dari Semampir, ini memiliki tujuan ganda.
“Harapan kami sederhana saja, bahwa guru itu juga butuh refreshing. Ketemu dengan temannya begini sambil main sepak bola, sambil voli, sambil bulu tangkis, itu akan mengakrabkan sesama profesi dan sesama sekolah. Mengakrabkan itu yang terpenting,” kata Yudi Kurniawan.
Di sisi lain, Kepala SMAN 1 Tapen Bondowoso, Yudi Kurniawan, M.Pd, menambahkan tujuan utama dari sisi siswa adalah meningkatkan kompetensi di bidang olahraga dan melawan kecanduan gadget.
“Tujuan utama kami itu meningkatkan kompetensi anak di bidang olahraga. Karena kebetulan di SMA Negeri 1 Tapen itu terkenal dengan volinya. Dan di era sekarang ini kan jarang anak-anak yang suka olahraga. Cari atlet kan susah. Ini salah satu cara agar anak-anak tidak tergantung pada gadget terus,” jelas Yudi.
Ia mengungkapkan di SMAN 1 Tapen telah diterapkan program bijak penggunaan HP. Saat jam pelajaran, HP wajib disimpan di tempat khusus dan hanya boleh digunakan atas arahan guru untuk googling materi. Kebijakan serupa juga diterapkan di SMAN 1 Tempeh, di mana saat jam istirahat anak-anak tidak boleh pegang HP sehingga awalnya sering mengeluh “Gabut, Pak!”.
SMAN 1 Tapen sendiri baru saja menjuarai kompetisi bola voli putra Juara 1 tingkat Kabupaten Bondowoso tahun lalu. Banyak siswanya juga berminat masuk TNI, sehingga sekolah akan MoU dengan Koramil untuk pembinaan khusus.
Sementara SMAN 1 Tempeh pernah mewakili Kabupaten Lumajang untuk tim Mini Soccer ke Jember, meski belum meraih juara karena keterbatasan intensitas latihan dan faktor pendanaan.
“Kalau di dalam, kita merasa sudah top markotop. Begitu keluar kandang, baru tahu di luar banyak yang lebih hebat. Rasa untuk bertemu dengan orang lain itu penting biar wawasannya terbuka, tidak hanya merasa besar di dalam kandang,” ungkap Sutrisno, pada awak media.
Kedua kepala sekolah sepakat, kegiatan ini sejalan dengan Kurikulum Pembelajaran Mendalam yang menekankan tiga prinsip: Mindfulness (kesadaran), Meaningful (bermakna), dan Joyful (menyenangkan).
“Target olahraga di SMA bukan untuk menjadi atlet profesional, tapi untuk membangun kesehatan. Namun bagi anak yang punya klub sendiri, sekolah perlu memberi naungan. Di Lumajang ada Kacab Cup sebagai wadah mereka,” pungkas KS. SMAN 1 Tempeh Sutrisno, M.Pd















