Garudaxpose.com | PROBOLINGGO – Jalan Sunan Ampel, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, berubah menjadi panggung budaya pada Minggu (6/9/2026) pagi. Warga dari berbagai lingkungan di Jrebeng Lor tumpah ruah mengikuti Bing Dejeh Carnival 2026 dengan membawa beragam atraksi seni dan budaya.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam menyemarakkan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo sekaligus menjadi ruang bagi warga untuk menunjukkan kreativitas dan kepedulian terhadap keberadaan budaya lokal.
Antusiasme masyarakat semakin terlihat dengan hadirnya 11 kontingen yang berasal dari RW 01 hingga RW 11. Masing-masing kontingen membawa konsep dan penampilan yang berbeda sehingga membuat sepanjang rute pawai dipenuhi suasana meriah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pawai budaya tersebut turut mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Probolinggo. Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin hadir bersama Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari dan Ketua TP PKK dr. Evariani Aminuddin untuk menyaksikan langsung jalannya karnaval.
Kehadiran jajaran pimpinan daerah tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap inisiatif masyarakat yang secara mandiri menggelar kegiatan berbasis budaya di lingkungan tempat tinggalnya.
Wali Kota Aminuddin menilai kegiatan masyarakat seperti Bing Dejeh Carnival memiliki nilai penting bagi keberlangsungan budaya daerah. Menurutnya, pelestarian budaya akan semakin kuat apabila masyarakat dilibatkan secara langsung sebagai pelaku.
Ia juga memberikan apresiasi kepada warga Jrebeng Lor yang terus menghadirkan berbagai kegiatan positif dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi Kota Probolinggo.
“Bukan main di Jrebeng Lor juga sudah banyak kegiatan-kegiatan yang mendukung Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo, termasuk pawai budaya seperti ini. Bukan hanya menjadi ruang untuk menampilkan kreativitas masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya kita menjaga dan melestarikan budaya,” ungkapnya.
Menurut Aminuddin, keberagaman penampilan dalam pawai menunjukkan masih kuatnya potensi seni dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.
Kegiatan semacam itu juga tidak hanya berkaitan dengan pelestarian tradisi. Interaksi warga yang terbangun selama proses persiapan hingga pelaksanaan dinilai mampu memperkuat hubungan sosial dan semangat kebersamaan.
Di sisi lain, keramaian yang tercipta selama kegiatan juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran warga dan penonton membuka peluang bagi pelaku usaha kecil di sekitar lokasi untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Lurah Jrebeng Lor Yudo Pratomo menjelaskan, Bing Dejeh Carnival merupakan agenda yang secara rutin digelar oleh masyarakat setempat. Kegiatan tersebut dirancang sebagai wadah untuk memperkenalkan sekaligus mempertahankan keberagaman budaya yang dimiliki wilayah Jrebeng Lor.
Menurut Yudo, keterlibatan warga menjadi unsur utama dalam pelaksanaan carnival. Masyarakat diberikan ruang untuk mengembangkan ide, kreativitas serta kemampuan dalam mengemas kesenian daerah agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
“Melalui kegiatan ini juga diharapkan dapat mempererat kebersamaan dan persaudaraan antarwarga, menambahkan rasa bangga dan rasa cinta terhadap budaya daerah. Sekaligus menjadi upaya untuk mengembangkan potensi pariwisata di wilayah Jrebeng Lor,” jelasnya.
Tahun ini, semangat warga untuk terlibat terlihat dari keikutsertaan seluruh RW di Kelurahan Jrebeng Lor. Sebanyak 11 kontingen ambil bagian dalam Bing Dejeh Carnival 2026.
Mulai RW 01 hingga RW 11 menampilkan berbagai kesenian dan unsur budaya yang telah dipersiapkan oleh masing-masing kelompok. Keikutsertaan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya menjadi tontonan, melainkan benar-benar menjadi ruang partisipasi masyarakat.
“Mulai dari RW 01-RW 11 turut serta menyemarakkan kegiatan dengan menampilkan berbagai kesenian dan budaya. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi kami karena masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam kegiatan Bing Dejeh Carnival 2026 ini,” ungkap Yudo.
Keterlibatan lintas lingkungan tersebut sekaligus memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong warga Jrebeng Lor. Persiapan penampilan masing-masing kontingen menjadi ruang bagi masyarakat untuk bekerja bersama dan membangun kekompakan.
Yudo berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata. Menurutnya, Bing Dejeh Carnival masih memiliki peluang untuk terus dikembangkan sehingga mampu menjadi salah satu kegiatan budaya yang memiliki daya tarik lebih luas.
Selain memberikan ruang ekspresi bagi masyarakat, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu menjadi media pengenalan budaya kepada anak-anak dan generasi muda.
Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, pengenalan budaya secara langsung dinilai penting agar generasi penerus tetap mengenal identitas serta kekayaan budaya daerahnya.
Semangat warga Jrebeng Lor dalam menggelar Bing Dejeh Carnival 2026 pada akhirnya tidak hanya menghasilkan sebuah pertunjukan. Kegiatan tersebut menjadi gambaran bagaimana kebudayaan, kreativitas, gotong royong dan kebersamaan dapat dipadukan dalam satu kegiatan masyarakat.
Melalui agenda tersebut, Kelurahan Jrebeng Lor menunjukkan bahwa upaya menjaga budaya tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan formal. Partisipasi warga secara langsung justru menjadi kekuatan utama untuk membuat tradisi tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo













