Garudaxpose.com | Tangerang – Anggota DPRD Provinsi Banten Komisi V Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Ahmad Imron, mendorong standarisasi model pendidikan berbasis industri yang diterapkan oleh SMK Gyokai Indonesia Kompeten agar dapat diadopsi oleh sekolah-sekolah lain di Provinsi Banten.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Imron saat kunjungan kerja Komisi V DPRD Banten ke SMK dan LPK Gyokai Indonesia Kompeten di kawasan Perumahan Pesona Wibawa Praja, Cisoka, Kabupaten Tangerang, Kamis (30/4/2026).
Dalam kunjungannya, Imron mengaku kagum terhadap inisiatif sekolah swasta tersebut yang mampu menghadirkan fasilitas pendidikan bernilai miliaran rupiah tanpa membebankan biaya kepada siswa. Menurutnya, model pendidikan berbasis industri yang diterapkan sekolah tersebut menjadi solusi nyata dalam menekan angka pengangguran dan mengatasi persoalan anak putus sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami terharu, ada SMK gratis tapi kualitasnya luar biasa. Jika fasilitas sekelas ini dibangun negara, biayanya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah. Ini adalah inspirasi bagi lembaga pendidikan se-Indonesia,” ujar Ahmad Imron kepada awak media.
Ia menegaskan, DPRD Banten berkomitmen mendukung dan memfasilitasi pengembangan model pendidikan serupa karena dinilai mampu menciptakan lulusan yang siap kerja dan sesuai kebutuhan industri.
Sementara itu, CEO Gyokai Indonesia Kompeten, Teguh Imam Pambudi, menjelaskan bahwa keberhasilan lembaganya terletak pada sistem pembelajaran yang mengedepankan praktik sebesar 70 persen dan teori 30 persen.
“Di sini, anak-anak tidak hanya belajar teori. Mereka langsung melakukan praktik kerja di industri melalui program magang yang terintegrasi. Mereka benar-benar merasakan suasana kerja di pabrik sejak masih dalam masa pendidikan,” ujar Teguh.
Menurutnya, seluruh kurikulum disusun bersama perusahaan mitra agar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Bahkan, para siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan gratis, tetapi juga memperoleh uang saku selama masa pendidikan karena pembiayaan pelatihan ditanggung langsung oleh industri mitra.
“Kami tidak hanya memberi ikan, tapi juga kailnya. Di sini siswa selain sekolah gratis, mereka justru mendapatkan uang saku karena program yang kita jalankan langsung terkoneksi dengan industri. Jadi bukan sekolah dibayar, tapi sekolah yang dibayar,” tambahnya.
Sejak berdiri pada tahun 2017, SMK Gyokai Indonesia Kompeten telah bermitra dengan puluhan perusahaan dari berbagai sektor manufaktur, termasuk industri alas kaki. Tercatat lebih dari 20 ribu peserta didik telah dilatih dan disalurkan ke berbagai industri di wilayah Tangerang dan sekitarnya.
Selain itu, Teguh juga memaparkan program “Paksa Sarjana”, yakni program yang mewajibkan lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana setelah bekerja, melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dengan biaya terjangkau.
Di tempat yang sama, Kasi SMK Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah Kabupaten Tangerang, Maksis Sakhabi, menilai SMK Gyokai merupakan prototipe kebangkitan SMK di Banten karena berhasil menerapkan konsep link and match antara pendidikan dan industri secara nyata.
“SMK selama ini menghadapi masalah ketidaksesuaian antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan industri. Apa yang dijalankan di sini sudah menerapkan penyelarasan kurikulum yang patuh pada standar nasional namun memiliki inovasi basis industri,” jelasnya.

Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, lanjut Maksis, berencana mendorong agar SMK lain di Banten memiliki keselarasan serupa agar lulusan SMK benar-benar siap kerja dan mampu terserap pasar industri.
Sementara itu, Asda I Kabupaten Tangerang, Prima Saras Puspa, turut mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh LPK-SMK Gyokai Indonesia Kompeten dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia industri.

“Karena untuk SMK ini ranahnya ada di provinsi, kami tidak dapat berbicara banyak, tapi tentu hal ini akan kami dorong ke Disnaker juga, semoga semuanya dapat berjalan dengan baik,” tutupnya.













