Keterangan: Dukung Asta Cita Presiden Prabowo, SMPN 2 Jatibarang Integrasikan Ketahanan Pangan dalam Kokurikuler dan Cetak Petani Milenial Menuju Generasi Emas 2045
JATIBARANG, BREBES,GarudaXpose.com//- Langkah kecil namun strategis untuk kemandirian pangan dilakukan SMP Negeri 2 Jatibarang. Sekolah tersebut menjadikan program ketahanan pangan sebagai tema pembelajaran Kokurikuler dengan memanfaatkan lahan sekolah untuk budidaya tanaman pangan, sekaligus memperluas wawasan dengan pembelajaran budidaya melon premium.
Program ini merupakan dukungan nyata terhadap program Asta Cita yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto tentang kemandirian pangan dan swasembada pangan.
Kepala SMPN 2 Jatibarang, Sri Yuliati, M.Pd., menjelaskan pemilihan tema ini berawal dari keprihatinannya melihat fenomena sosial keengganan generasi muda terjun ke dunia pertanian. Padahal, mayoritas orang tua murid di sekolah tersebut berprofesi sebagai petani, namun banyak siswa yang tidak memahami cara bertani.
“Saya prihatin melihat anak-anak petani sendiri tidak faham cara bertani. Karena itu, ketahanan pangan kami jadikan tema Kokurikuler,” tegas Sri Yuliati.
Di bawah arahan kepala sekolah, pelaksanaan kegiatan dipercayakan kepada Herul Istiqomah, S.Pd., sebagai koordinator pelaksana. Pembelajaran dikemas secara holistik dan terintegrasi dengan ilmu pertanian, di mana seluruh tahapan budidaya jagung melibatkan seluruh murid dan warga sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini sejalan dengan visi sekolah “Mewujudkan Generasi Cerdas Berkarakter, Kompetitif, Berwawasan Lingkungan Berlandaskan Iman dan Takwa”. Komitmen inovasi akademik dan non-akademik ini pula yang mengantarkan SMPN 2 Jatibarang meraih predikat Sekolah dengan Kemajuan Terbaik untuk ke-4 kalinya secara berturut-turut.
Rangkaian kegiatan Kokurikuler ketahanan pangan dimulai dari persiapan lahan yang melibatkan seluruh warga sekolah, penanaman benih, hingga perawatan yang dilakukan siswa secara bergilir. Kelas 9 mendapat penjadwalan pemupukan, sementara penyiangan rumput dilakukan oleh kelas 7 dan 8.
Setelah durasi tanam selama 70 hari, panen raya jagung dimulai tepat pada hari Selasa, 1 September 2026. Panen dilakukan secara bertahap: hari pertama oleh kelas 9, hari kedua oleh kelas 8, dan hari ketiga atau terakhir oleh kelas 7.
Dalam kegiatan panen tersebut, Sri Yuliati menegaskan bahwa panen bukanlah langkah terakhir. Ia menantang murid untuk berinovasi menjadikan jagung memiliki nilai tambah melalui kreasi pemanfaatan pasca panen. Murid juga diwajibkan membuat laporan dan refleksi kegiatan Kokurikuler secara berkelompok.
Bak mendapat durian runtuh, program ini mendapat atensi positif dari anggota DPRD Kabupaten Brebes, Heru Irawanto dan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Oryza Santifa.
Pada hari yang sama, Selasa 1 September 2026, guru dan murid SMPN 2 Jatibarang diundang mengikuti pembelajaran budidaya melon premium di perkebunan Garuda Farm Nusantara di Kecamatan Salem, milik Heru Irawanto dan Oryza Santifa.
Dalam kesempatan itu, Heru dan Oryza berpesan, “Tidak ada hal yang mustahil jika kita mau berusaha dan berupaya. Jadikan mental kita sebagai petarung yang tangguh dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Dengan bekal dan potensi yang kita miliki, niscaya kita akan mampu melewatinya.”
Pembelajaran dipandu oleh tenaga ahli Garuda Farm Nusantara, Mas Gito. Dengan bahasa santai tapi lugas, ia memaparkan secara urut dan terperinci proses budidaya melon premium, mulai dari penyiapan media tanam, penyemaian bibit, penanaman, pemeliharaan, hingga market value-nya. Sesi tanya jawab berlangsung aktif dan antusias, di mana siswa menggali informasi secara mendalam dan Mas Gito mengemasnya dalam suasana menyenangkan.
Di akhir pembelajaran, Heru dan Oryza memberi suntikan motivasi bahwa masa depan bangsa Indonesia ada di pundak generasi muda. Mereka berharap dari kegiatan ini akan tercipta generasi petani muda milenial menuju Generasi Emas 2045, dan siswa SMPN 2 Jatibarang bisa menjadi contoh baik bagi teman sebaya.***
(4905)













