Dari Apel hingga Simulasi Penyelamatan di Laut, Jambore FPRB Probolinggo Perkuat Kesiapsiagaan Relawan

- Penulis

Jumat, 16 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Probolinggo – Upaya membangun kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya melalui sosialisasi, tetapi juga membutuhkan keterampilan, koordinasi, dan keterlibatan aktif masyarakat. Semangat tersebut mewarnai pelaksanaan Jambore Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo yang digelar di Pantai Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Jumat (16/10/2026) sore.

Kegiatan yang diikuti 250 peserta tersebut menjadi ajang penguatan kapasitas relawan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) dari 29 kelurahan. Berbagai unsur lintas sektor turut dilibatkan untuk membangun sinergi dalam menghadapi potensi ancaman bencana di Kota Probolinggo.

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin hadir sebagai pembina apel dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah mitigasi harus menjadi perhatian utama karena upaya mengurangi risiko sebelum bencana terjadi jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan penanganan setelah bencana.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Aminuddin, kesiapsiagaan perlu dibangun melalui pemahaman terhadap potensi ancaman, sistem pemantauan yang memadai, serta partisipasi masyarakat. Dengan persiapan yang baik, dampak bencana diharapkan dapat ditekan dan keselamatan warga lebih terlindungi.

Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Probolinggo telah menjalankan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya melalui sistem peringatan dini atau early warning system yang terpusat di BPBD Kota Probolinggo. Sistem tersebut mendukung pemantauan berbagai potensi ancaman sebagai bagian dari kesiapan pemerintah daerah.

Pemantauan juga dilakukan terhadap perkembangan aktivitas kegempaan berskala kecil di wilayah Probolinggo hingga peningkatan aktivitas Gunung Bromo. Aminuddin menekankan pentingnya memperhatikan perkembangan kondisi tersebut agar langkah antisipasi dapat dipersiapkan sesuai potensi risiko.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Kota Probolinggo tetap menghadapi sejumlah ancaman bencana yang perlu diwaspadai. Kondisi wilayah yang berada di kawasan dataran rendah dan pesisir membuat potensi banjir, angin puting beliung, serta banjir rob perlu menjadi perhatian bersama.

“Kota Probolinggo ini aman, tetapi kita tetap harus waspada. Kita punya risiko banjir, angin puting beliung hingga ancaman rob karena wilayah kita dataran rendah,” ujar Aminuddin dalam sambutannya.

Ia berharap keberadaan FPRB dapat memperkuat kerja sama seluruh pemangku kepentingan dalam membangun masyarakat yang sadar risiko bencana. Menurutnya, kesiapsiagaan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, relawan, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat.

“Kami berharap forum ini dapat bersama-sama menciptakan Kota Probolinggo menjadi kota yang tangguh terhadap bencana,” tegasnya.

Apel Jambore FPRB tersebut turut dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto, perwakilan Kodim 0820/Probolinggo, perwakilan Polres Probolinggo Kota, Ketua FPRB Kota Probolinggo Sugeng Nufindarko, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, serta lurah se-Kota Probolinggo.

Ketua Panitia Jambore FPRB, Syaifudin Zuhri, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti 250 peserta yang berasal dari unsur Keltana dan pentahelix. Pelibatan berbagai unsur itu ditujukan untuk memperkuat kolaborasi dan meningkatkan pemahaman bersama mengenai pengurangan risiko bencana.

Syaifudin menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan diawali dengan Apel Ceremony, kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan simulasi penyelamatan di perairan atau *water rescue* yang diselenggarakan oleh PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI).

Selain kegiatan lapangan, Jambore FPRB juga menghadirkan pembekalan materi mengenai peran relawan dalam penanggulangan bencana, peran relawan dalam pengelolaan lingkungan, serta peran akademisi dalam penanggulangan bencana.

Ia berharap pembekalan tersebut mampu meningkatkan kemampuan para relawan dalam menerapkan langkah pengurangan risiko bencana di wilayah masing-masing. Dengan demikian, keberadaan Keltana dapat semakin memperkuat kesiapsiagaan masyarakat hingga tingkat kelurahan.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman atau *Memorandum of Understanding* (MoU) antara Ketua FPRB Kota Probolinggo Sugeng Nufindarko dan PT POMI. Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Probolinggo menyerahkan piagam sponsor secara simbolis sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap pelaksanaan jambore.

Usai seremoni, para tamu undangan dan peserta apel bergeser menuju Wisata Kum-Kum Surya Citra Bahari (SCB) untuk menyaksikan demonstrasi penyelamatan korban di perairan. Tim PT POMI memperagakan skenario penanganan dua wisatawan yang mengalami insiden saat berenang.

Dalam simulasi tersebut, kondisi darurat ditandai dengan lambaian tangan korban dari kejauhan. Isyarat meminta pertolongan itu menjadi tanda bagi tim penyelamat untuk segera bergerak menuju lokasi menggunakan perahu karet.

Sebanyak lima tim penyelamat dikerahkan dalam skenario tersebut. Mereka bergerak menuju titik kejadian untuk menjangkau korban, kemudian melakukan proses evakuasi secara hati-hati dengan memperhatikan tahapan penyelamatan.

Setelah mencapai lokasi korban, tim segera melakukan pertolongan dan membawa keduanya menuju tepi pantai. Peragaan ini menunjukkan pentingnya kecepatan respons dan koordinasi personel ketika menghadapi kecelakaan di kawasan perairan.

Setibanya di tepi pantai, kedua korban mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing. Dalam skenario tersebut, satu korban digambarkan selamat, sedangkan korban lainnya tidak sadarkan diri sehingga membutuhkan pertolongan pertama dari petugas medis.

Petugas medis yang bersiaga di lokasi segera memberikan pertolongan pertama kepada korban yang tidak sadarkan diri. Setelah korban kembali sadar, tim melanjutkan evakuasi menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif.

Simulasi tersebut memperlihatkan bahwa proses penyelamatan tidak hanya membutuhkan personel yang terlatih, tetapi juga dukungan peralatan, komunikasi yang efektif, serta kesiapan tenaga medis. Setiap tahapan harus berjalan secara terkoordinasi agar korban dapat memperoleh pertolongan sesuai kebutuhannya.

Demonstrasi *water rescue* sekaligus memberikan gambaran mengenai pentingnya keselamatan di kawasan wisata perairan. Keterampilan dalam mengenali situasi darurat, melakukan evakuasi, dan memberikan pertolongan pertama menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi kecelakaan.

Bagi para relawan, kegiatan lapangan tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai penanganan kondisi darurat. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat mendukung pelaksanaan tugas relawan ketika menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan respons cepat.

Di sisi lain, materi mengenai pengelolaan lingkungan dalam jambore juga menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana perlu didukung upaya menjaga lingkungan. Pengenalan potensi bahaya dan kepedulian terhadap kondisi sekitar menjadi bagian dari langkah membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi ancaman.

Keterlibatan unsur pentahelix dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa upaya pengurangan risiko bencana membutuhkan kontribusi dari berbagai sektor. Kolaborasi yang kuat memungkinkan pertukaran pengetahuan, dukungan sumber daya, serta penyebaran informasi kebencanaan kepada masyarakat secara lebih luas.

Melalui Jambore FPRB, para relawan Keltana diharapkan mampu meningkatkan peran mereka sebagai penggerak kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing. Kehadiran relawan di tingkat kelurahan menjadi penting untuk membantu masyarakat memahami potensi ancaman dan langkah antisipasi yang perlu dilakukan.

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah, BPBD, aparat keamanan, relawan, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media. Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan jambore, tetapi berlanjut dalam kegiatan pengurangan risiko bencana secara nyata.

Dengan menggabungkan pembekalan materi, penguatan kerja sama, dan simulasi penyelamatan, Jambore FPRB Kota Probolinggo diharapkan memberikan manfaat bagi peningkatan kapasitas peserta. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh menjadi bekal untuk mendukung kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.

Melalui keterlibatan 250 peserta dari 29 kelurahan dan berbagai unsur pentahelix, Pemerintah Kota Probolinggo mendorong penguatan budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Upaya tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk mewujudkan Kota Probolinggo yang tangguh, tanggap, dan lebih siap menghadapi berbagai potensi ancaman bencana.

Penulis : Septyan Dwi Cahyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Berikan Materi Pengelolaan Lingkungan, Syaifudin Zuhri Ajak Peserta Jambore Berperan Aktif di Wilayah Sendiri
Wajah Baru Lumajang: Penataan Jalan PB Sudirman 730 Meter Ditarget Rampung Awal Desember 2026
Operasi Gabungan Satgas TNI Berhasil Temukan Senjata Caracal dan 17 Butir Amunisi di Wilayah Ayata Kabupaten Maybrat
Berlangsung Gayeng, Bupati Ipuk dan Sopir Truk Bahas Solusi Kemacetan Pelabuhan Ketapang
Info Jembrana Terkait Instruksi Bupati Terhadap Pengawalan SPBU dan BBM
Di Tengah Antrean BBM, Perumda dan OPD Pemkot Denpasar Serentak Bagikan Ratusan Nasi Bungkus
Sambut Hari Santri, Puluhan Ribu Santri Banyuwangi Ikuti Kegiatan Cek Kesehatan Gratis
Sampah Sungai Kalimati Kembali Menumpuk Meski Telah Dibersihkan, Pemkab Cari Solusi Bersama Warga

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Berikan Materi Pengelolaan Lingkungan, Syaifudin Zuhri Ajak Peserta Jambore Berperan Aktif di Wilayah Sendiri

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Dari Apel hingga Simulasi Penyelamatan di Laut, Jambore FPRB Probolinggo Perkuat Kesiapsiagaan Relawan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Operasi Gabungan Satgas TNI Berhasil Temukan Senjata Caracal dan 17 Butir Amunisi di Wilayah Ayata Kabupaten Maybrat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Berlangsung Gayeng, Bupati Ipuk dan Sopir Truk Bahas Solusi Kemacetan Pelabuhan Ketapang

Jumat, 16 Oktober 2026 - 04:09 WIB

Info Jembrana Terkait Instruksi Bupati Terhadap Pengawalan SPBU dan BBM

Berita Terbaru