Garudaxpose.com | Probolinggo – Gemuruh tabuhan dug-dug menggema di Stadion Bayuangga Kota Probolinggo, Jumat (30/10/2026) malam. Sebanyak 13 sanggar seni musik dug-dug tampil kolosal dalam Festival Musik Dug-Dug yang menjadi bagian dari rangkaian Mango Carnival of Indonesia (MCI) 2026.
Festival berlangsung meriah. Satu per satu sanggar menampilkan atraksi terbaiknya dengan tabuhan perkusi khas dug-dug yang dipadu gerakan energik para penari. Setiap kelompok menunjukkan karakter dan kreativitas yang berbeda, sehingga penonton yang memadati stadion tidak beranjak hingga akhir acara.
Kemeriahan bertambah ketika kelompok Universal Line Dance tampil berkolaborasi. Bahkan Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin ikut turun dan menari bersama, menciptakan suasana hangat dan akrab di tengah penonton.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin mengatakan, Mango Carnival of Indonesia merupakan langkah strategis untuk mengangkat potensi lokal agar bisa naik kelas menjadi event nasional.
“Alhamdulillah, hari ini merupakan lanjutan rangkaian acara Mango Carnival of Indonesia. Melalui kegiatan ini, ada salah satu potensi yang sedang kita perjuangkan agar bisa menjadi event nasional. Harapannya, Kota Probolinggo semakin dikenal sebagai kota event dan kota wisata. Tentu kita semua ingin kegiatan seperti ini terus ada dan semakin berkembang,” ujar Evariani.
Ia memberikan apresiasi tinggi kepada para pelaku seni dug-dug yang telah tampil berjejer dalam satu panggung kolosal. Menurutnya, musik dug-dug adalah warisan budaya khas Kota Probolinggo yang harus terus dilestarikan dengan inovasi.
“Harapan kami, penyelenggaraan festival ini terus dievaluasi dan ditingkatkan inovasinya dari tahun ke tahun. Mudah-mudahan Mango Carnival of Indonesia ke depan bisa masuk dalam Karisma Event Nusantara dan menjadi agenda tahunan berskala nasional. Dengan adanya event seperti ini, UMKM semakin berkembang, seni budaya semakin dikenal, dan tentunya dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo Setiorini Sayekti menjelaskan, Festival Musik Dug-Dug 2026 sengaja dikolaborasikan dengan Mango Carnival of Indonesia karena keduanya sama-sama mengangkat ikon kebanggaan Kota Probolinggo. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda.

“Festival kali ini merupakan pertama kalinya. Dari sekitar 15 sanggar yang ada, alhamdulillah 13 sanggar dapat berpartisipasi. Penampilan mereka juga didukung oleh para penari yang merupakan penggiat seni budaya dalam asuhan Bapak Peny Priyono,” jelas Rini.
Menurutnya, festival ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga menjadi katalog hidup bagi masyarakat untuk mengenal karakter masing-masing sanggar dug-dug di Kota Probolinggo, sehingga bisa diundang untuk mengisi berbagai acara dan hajatan.
Seniman Kota Probolinggo, Peny Priyono, mengaku bangga dan berterima kasih atas ruang yang diberikan Pemkot kepada pelaku seni.
“Kami sebagai seniman di Kota Probolinggo merasa mendapatkan apresiasi dan kesempatan untuk tampil dalam kegiatan ini. Harapan kami, Kota Probolinggo terus melestarikan dan mengembangkan keseniannya sendiri. Semoga ke depan para seniman selalu diberikan ruang untuk menuangkan ekspresi dan kreativitas,” tuturnya.
Selain pertunjukan seni, kawasan Stadion Bayuangga juga diramaikan dengan stan UMKM dan pameran berbagai varietas mangga. Kolaborasi antara musik tradisional dug-dug, seni tari, promosi mangga, dan UMKM diharapkan mampu mengangkat branding Kota Probolinggo sebagai Kota Event dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat serta pariwisata.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo















