Lumajang, GarudaXpose.com | Pendekatan humanis dan pembinaan karakter kembali dikedepankan jajaran Polres Lumajang dalam menangani insiden lalu lintas yang melibatkan generasi muda. Seorang pelajar SMA yang sempat hilang kendali hingga menyenggol personel Polwan di kawasan Alun-Alun Lumajang, Senin sore (26/10/2026), diselesaikan melalui jalur edukatif dan pembinaan moral.
Insiden terjadi saat personel Satlantas Polres Lumajang melaksanakan poros sore guna mengurai kepadatan arus lalu lintas. Kendaraan pengendara muda melintas dari arah Pendopo Arya Wiraraja menuju Tugu Adipura. Saat melihat keberadaan petugas yang bersiaga di lapangan, pengendara yang terkejut mendadak panik hingga kehilangan kendali (loss control) atas kendaraannya, yang berujung benturan dengan Aiptu Rima Mayangga Rivasari, S.H., M.H., yang tengah bertugas.
Kapolres Lumajang melalui Kasubsi PIDM Sihumas Polres Lumajang, Ipda Eko Budi Laksono, S.H., menegaskan kepolisian memahami situasi psikologis pengendara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa pengendara mengalami reaksi panik spontan saat mendapati keberadaan petugas di jalur lalu lintas. Kepanikan di usia remaja kerap memicu tindakan spontan yang kurang terhitung, hingga akhirnya kendaraan hilang kendali dan mengenai anggota kami yang sedang mengatur jalan,” ujar Ipda Eko.
Ipda Eko menambahkan, kepolisian memilih melihat kejadian ini dari kacamata edukasi dan penyelamatan masa depan anak, tanpa mengabaikan fungsi penertiban.
“Kapolres Lumajang memberi arahan agar penanganan terhadap anak di bawah umur atau pelajar diprioritaskan pada langkah pembinaan moral dan edukasi kesadaran berkendara. Sepeda motor yang tidak memenuhi standar teknis tetap kami amankan sebagai barang bukti penindakan aturan lalu lintas, namun pengendaranya kami bina agar memahami risiko dari kepanikan di jalan raya,” lanjut Ipda Eko.
Sementara itu, Aiptu Rima Mayangga Rivasari yang menjadi korban benturan dalam tugas tersebut, secara tulus memilih jalur kekeluargaan.
“Sebagai petugas di lapangan, saya memahami bahwa tindakan pengendara tersebut murni dipicu rasa kaget dan panik yang luar biasa ketika melihat penjagaan petugas, bukan ada niat sengaja untuk menabrak. Oleh karena itu, saya pribadi bersedia memaafkan dengan syarat dia hadir bersama orang tuanya, mengakui kekhilafannya, dan memohon maaf secara terbuka di hadapan orang tua agar timbul penyesalan mendalam dan efek jera secara moral,” ungkap Aiptu Rima.
Ipda Eko Budi Laksono mengimbau seluruh masyarakat, khususnya para orang tua di Kabupaten Lumajang, untuk lebih aktif mengawasi serta memberikan edukasi keselamatan berkendara kepada anak-anak mereka demi mencegah terulangnya insiden serupa.















