Garudaxpose.com | Probolinggo – Peserta Jambore Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo mendapatkan materi tentang Peran Relawan dalam Pengelolaan Lingkungan yang disampaikan oleh Syaifudin Zuhri dari Perkumpulan Peduli Sampah (Papesa), Jumat (16/10/2026) malam. Kegiatan tersebut berlangsung di aula UPT Pelabuhan Perikanan Indonesia (PPI) Mayangan, Kota Probolinggo.
Materi ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Jambore FPRB Kota Probolinggo, khususnya untuk memperkuat pemahaman relawan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) mengenai keterkaitan antara kelestarian lingkungan dan upaya pengurangan risiko bencana di wilayah masing-masing.
Dalam pemaparannya, Syaifudin Zuhri menekankan bahwa relawan tidak hanya dibutuhkan ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki peran strategis dalam melakukan pencegahan melalui kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan risiko bencana dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Relawan Keltana harus hadir bukan hanya saat terjadi bencana, tetapi juga menjadi penggerak kepedulian lingkungan di tengah masyarakat. Upaya sederhana seperti menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya merupakan bagian dari langkah pencegahan yang bisa dilakukan bersama,” jelas Syaifudin di hadapan peserta Jambore.
Ia juga mengajak para relawan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah dan pemeliharaan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, perubahan perilaku dapat dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian diperluas melalui kegiatan warga dan program di tingkat kelurahan.
Syaifudin menambahkan, relawan Keltana memiliki posisi penting sebagai penghubung antara edukasi kebencanaan dan tindakan nyata di lingkungan permukiman. Dengan kedekatan mereka terhadap masyarakat, relawan diharapkan mampu mengajak warga mengenali persoalan lingkungan di sekitarnya sekaligus mendorong upaya penanganan secara gotong royong.
“Jangan menunggu lingkungan menjadi rusak atau bencana datang terlebih dahulu. Relawan perlu membangun kebiasaan peduli lingkungan sejak dini, mengajak warga terlibat, serta memberikan contoh melalui tindakan nyata. Kalau kesadaran ini tumbuh bersama, upaya mengurangi risiko bencana akan menjadi lebih kuat,” tegasnya.
Selain memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan, materi tersebut diharapkan dapat mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh setelah kembali ke wilayah masing-masing. Peran relawan dinilai tidak berhenti pada keikutsertaan dalam kegiatan Jambore, melainkan berlanjut melalui edukasi, pendampingan, dan kegiatan lingkungan yang melibatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui materi ini, Jambore FPRB Kota Probolinggo tidak hanya menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas relawan dalam menghadapi bencana, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam membangun lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan tangguh. Kolaborasi antara relawan, masyarakat, pemerintah, dan berbagai unsur lainnya menjadi salah satu kunci untuk menumbuhkan budaya sadar bencana.
Dengan bekal pengetahuan tersebut, para relawan Keltana diharapkan mampu menjadi pelopor pengelolaan lingkungan di kelurahan masing-masing. Kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama sehingga langkah pengurangan risiko bencana dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.
(Septyan)















