Garudaxpose.com | Palembang, – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan membutuhkan sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Hal tersebut menjadi perhatian Corporation Anti Corruption Agency (CACA) Sumatera Selatan yang menggelar diskusi publik bertema “Sinergi Kolaboratif Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan.”

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Kopi Loer Sudirman, Palembang. Diskusi ini menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan pertukaran gagasan antara masyarakat sipil dengan instansi pemerintah terkait dalam menghadapi ancaman karhutla.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan dan kehutanan. Dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan, hadir Beni Yusnandar, ST., MSc., sementara Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan diwakili Herwin Purnomo, S.Hut., M.Si.
Jalannya diskusi dipandu oleh Mukri AS, S.Sos., M.Si. sebagai moderator.
Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan di wakili oleh Herwin Purnomo S.Hut M.Si mengatakan dalam diskusi ini mengajak mari kita bersama – sama dalam upaya pencegahan Karhutlah.
‘Seperti kita ketahui dalam upaya pengendalian kebakaran lahan ada upaya-upaya mulai dari pencegahan, kemudian pemadaman sampai kepada pasca kebakaran,”ujarnya
Sekilas informasi di Sumsel pada saat ini sekarang ini kita di dalam puncak-puncaknya musim kemarau menurut prediksi BMKG kita berada di puncak musim kemarau di bulan Agustus dan September namun ada kemungkinan dengan meningkatnya angka enso sehingga El Nino akan menjadi lebih panjang bisa jadi sampai akhir tahun,”tambahnya
“Saya berharap diskusi dengan tema Sinergi Kolaboratif Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) ini ada timbal balik,”pungkasnya.
Ditempat yang sama, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan, Beni Yusnandarsyah ST M.Sc, mengatakan setiap tahun bencana alam ini terjadi, sebenarnya bencana alam ini ditimbulkan oleh manusia itu sendiri.
“Kalau masih kecil belum jadi bencana tetapi kalau sudah menyebar dan besar menjadi bencana, karena manusia tidak dapat lagi mengatasi bencana alam sehingga perlu Kalobarasi antara masyarakat, pemerintah dan Dinas terkait,”ujarnya.
Bencana ini, sebenarnya ada dua macam di akibat oleh alam dan akibat oleh manusia.
Sementara itu, Ketua CACA Sumsel sekaligus panitia pelaksana, Reza Fahlepie, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong kepedulian bersama terhadap persoalan karhutla yang tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas sosial ekonomi.
Menurutnya, pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu institusi. Diperlukan keterlibatan pemerintah, aparat, masyarakat, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, serta seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui diskusi publik ini, kita ingin membangun sinergi dan kolaborasi. Pencegahan karhutla harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan,” ujar Reza Fahlepie.
Ia menambahkan, forum diskusi juga diharapkan dapat menjadi wadah untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan dan lahan dari berbagai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain langkah penanganan ketika kebakaran terjadi, menurutnya, aspek pencegahan dan edukasi harus menjadi perhatian utama.
“Kalau kita ingin menyelamatkan lingkungan dan masa depan generasi berikutnya, maka pencegahan harus dimulai dari sekarang. Semua pihak memiliki peran,” tegasnya.
CACA Sumsel berharap diskusi tersebut tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi dapat melahirkan komitmen bersama dan langkah nyata dalam memperkuat upaya pencegahan karhutla di Sumatera Selatan.
“Bersinergi, Berkolaborasi, Selamatkan Hutan, Selamatkan Masa Depan.”














