GARUDAXPOSE.COM | LUMAJANG — Gunung Semeru yang membentang di wilayah Lumajang dan Malang, Jawa Timur, terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang dinamis.
Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada periode pengamatan Kamis, 10 September 2026, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berada pada Status Level III (Siaga).
Selama enam jam pemantauan, Pos Pengamatan Gunungapi Semeru mencatat sebanyak 29 kali gempa letusan dengan amplitudo 10–22 mm dan durasi berkisar antara 73 hingga 162 detik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, instrumen seismograf merekam 11 kali gempa guguran, 2 kali gempa hembusan, 3 kali tremor harmonik, serta 1 kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, visualisasi puncak kawah Gunung Semeru tidak teramati secara langsung lantaran tertutup kabut tebal (skala 0-III).
Kondisi cuaca di sekitar kawasan puncak terpantau mendung hingga hujan dengan intensitas curah hujan mencapai 11,4 mm per hari, disertai angin lemah yang bertiup ke arah barat laut serta suhu udara berkisar 19–20 °C.
Menyikapi perkembangan tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat untuk mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan:
Sektor Tenggara (Besuk Kobokan): Warga dilarang melakukan aktivitas apa pun di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga sejauh 13 km dari pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, batas aman aktivitas berada pada radius minimal 500 meter dari tepi sungai hingga jarak 17 km guna mengantisipasi perluasan awan panas dan aliran lahar.
Radius Bahaya Puncak: Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawah/puncak Gunung Semeru dalam radius 5 km karena potensi bahaya lontaran batu pijar.
Kewaspadaan Lahar: Potensi awan panas, guguran lava, dan banjir lahar dingin perlu diwaspadai di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, khususnya di aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai sekitarnya.













