Garudaxpose.com | Banyuwangi – Polemik mencuat di kalangan petani Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, usai kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam kegiatan Kerja Bhakti dan Dialog Tani di kawasan Dam Gembleng pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Dalam dialog yang dihadiri ratusan petani tersebut, salah seorang Jogotirto dari wilayah Dampring menyampaikan secara langsung keluhan mengenai serangan hama tikus yang semakin meresahkan. Hama tersebut dinilai telah menyebabkan kerusakan tanaman padi dan berpotensi mengakibatkan gagal panen apabila tidak segera ditangani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi keluhan itu, Menko Pangan Zulkifli Hasan yang didampingi jajaran Dinas Pertanian langsung merespons dengan memberikan bantuan berupa obat racun tikus kepada para petani sebagai langkah awal pengendalian hama.
Namun, beberapa hari setelah kegiatan tersebut, muncul dugaan peristiwa yang menimbulkan keresahan di kalangan petani.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Garudaxpose.com, pada Jumat, 24 Juli 2026 siang, seorang Jogotirto berinisial Ef (60), warga Dusun Dampring, Desa Wonosobo, dipanggil menghadiri pertemuan di aula kelompok tani (Poktan) setempat.
Dalam pertemuan itu, Ef mengaku mendapat tekanan dari beberapa orang yang diduga berasal dari unsur pengurus kelompok tani dan oknum Dinas Pertanian. Ia mengaku diminta agar tidak lagi menyampaikan atau melaporkan persoalan serangan hama tikus kepada pihak yang lebih tinggi atau “atasan”.
Apabila keterangan tersebut benar, tindakan tersebut tentu sangat disayangkan karena dapat menghambat penyampaian aspirasi petani. Dalam sistem pemerintahan yang terbuka, masyarakat, termasuk petani, memiliki hak untuk menyampaikan keluhan, masukan, maupun kondisi yang mereka alami kepada pemerintah tanpa adanya tekanan maupun intimidasi.
Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa keluhan mengenai hama tikus yang sebelumnya disampaikan secara terbuka dalam forum resmi justru diduga berujung pada adanya tekanan terhadap salah satu pelapor? Apakah ada pihak yang merasa terganggu dengan penyampaian kondisi riil di lapangan?
Sejumlah petani berharap persoalan ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi maupun instansi terkait. Mereka menginginkan agar penanganan hama tikus dilakukan secara maksimal, sekaligus memastikan tidak ada bentuk intimidasi terhadap warga yang menyampaikan aspirasi demi kepentingan pertanian.
Hingga berita ini ditulis, Garudaxpose.com masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pengurus kelompok tani, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, serta pihak-pihak terkait lainnya guna memperoleh penjelasan dan klarifikasi atas dugaan tersebut. Demi menjaga keberimbangan informasi, tanggapan dari seluruh pihak akan dimuat pada pemberitaan selanjutnya.
(Tim Investigasi Garudaxpose.com)












