Garudaxpose.com | Probolinggo – Sebanyak 26 calon Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo mengikuti praktik simulasi penanggulangan kebakaran yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo, Selasa (21/07/2026) pagi. Kegiatan tersebut menjadi penutup rangkaian pembentukan Destana yang telah berlangsung selama hampir satu pekan.
Sebelum memasuki sesi praktik, para peserta terlebih dahulu mendapatkan pembekalan materi kebencanaan sejak Rabu (15/07/2026) yang dipandu oleh Fasilitator BPBD Kota Probolinggo, Eko Yudha. Beragam materi disampaikan secara bertahap, mulai dari penyusunan profil desa/kelurahan, kajian risiko bencana secara partisipatif, sistem peringatan dini terpadu, dasar-dasar pemetaan potensi bencana di wilayah, penyusunan rencana kontijensi, hingga rencana aksi kebencanaan tingkat kelurahan.
Seluruh materi tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu mengenali ancaman bencana di lingkungannya sekaligus menyusun langkah mitigasi dan penanganan secara mandiri sebelum bantuan dari instansi terkait tiba di lokasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Memasuki hari terakhir pembekalan, para calon relawan diberikan praktik lapangan berupa simulasi penanggulangan kebakaran. Dalam simulasi tersebut, peserta secara bergantian mempraktikkan teknik memadamkan api menggunakan kain basah dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sesuai standar keselamatan.
Fasilitator BPBD Kota Probolinggo, Eko Yudha mengatakan bahwa simulasi menjadi metode pembelajaran yang paling efektif karena peserta dapat merasakan langsung situasi penanganan kebakaran sehingga lebih siap ketika menghadapi kondisi nyata di lingkungan masyarakat.
“Pengetahuan tentang kebakaran tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Relawan harus memiliki pengalaman praktik agar mengetahui langkah-langkah yang benar, memahami risiko yang ada, dan mampu mengambil keputusan secara cepat namun tetap mengutamakan keselamatan,” ujar Eko.
Ia menjelaskan bahwa teknik pemadaman menggunakan kain basah merupakan salah satu metode sederhana yang dapat dilakukan masyarakat ketika menghadapi kebakaran kecil, terutama pada kebakaran yang berasal dari peralatan memasak atau benda-benda rumah tangga yang belum membesar.
Menurutnya, kain yang digunakan harus benar-benar basah agar mampu mengurangi panas sekaligus menutup seluruh permukaan api sehingga suplai oksigen terputus. Api tidak dipadamkan dengan cara dipukul atau diibaskan, melainkan ditutup secara perlahan hingga seluruh sumber api tertutup rapat.
“Banyak masyarakat yang masih keliru dengan mengibaskan kain ke arah api. Cara tersebut justru dapat membuat api semakin besar karena memperoleh tambahan oksigen. Yang benar adalah kain dibentangkan, kemudian diletakkan perlahan menutupi seluruh bagian api dan dibiarkan beberapa saat hingga bara benar-benar padam,” jelasnya.
Eko menambahkan, metode kain basah hanya digunakan pada kondisi tertentu. Apabila api berasal dari korsleting listrik yang masih bertegangan atau kebakaran akibat bahan bakar yang mudah terbakar dalam jumlah besar, masyarakat tidak disarankan menggunakan cara tersebut dan harus segera menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan fungsi dan jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Menurut Eko, APAR merupakan alat pemadam awal yang sangat penting tersedia di rumah, sekolah, kantor, tempat ibadah maupun fasilitas umum karena mampu mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar.
“Setiap APAR memiliki media pemadam yang berbeda. APAR Dry Chemical Powder menjadi yang paling banyak digunakan karena dapat menangani kebakaran benda padat, cairan mudah terbakar hingga instalasi listrik. Ada juga APAR Carbon Dioxide atau CO₂ yang lebih sesuai digunakan untuk kebakaran pada panel listrik dan perangkat elektronik karena tidak meninggalkan residu,” terangnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan metode penggunaan APAR melalui teknik *PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep)*. Tahapan pertama adalah menarik pin pengaman (Pull), kemudian mengarahkan selang ke pangkal api (Aim), menekan tuas (Squeeze), dan menggerakkan semprotan dari sisi ke sisi hingga api benar-benar padam (Sweep).
Eko menekankan bahwa pengguna APAR harus berdiri dengan posisi aman, memperhatikan arah angin, menjaga jarak sekitar dua hingga tiga meter dari sumber api, serta memastikan jalur evakuasi tetap terbuka apabila sewaktu-waktu api membesar.
“Jangan pernah memadamkan api sendirian apabila kondisi sudah tidak terkendali. Bila asap semakin tebal, api mulai menjalar, atau muncul suara ledakan, segera hentikan upaya pemadaman, lakukan evakuasi, dan hubungi petugas. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama dibandingkan menyelamatkan harta benda,” tegas Eko.
Ia berharap seluruh peserta dapat menjadi agen edukasi di tengah masyarakat dengan menyampaikan kembali pengetahuan yang telah diperoleh selama mengikuti pembentukan Destana. Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat akan semakin kuat apabila pengetahuan kebencanaan dimiliki oleh seluruh warga, bukan hanya relawan.
Dengan berakhirnya simulasi kebakaran tersebut, sebanyak 26 calon Relawan Destana Kelurahan Jrebeng Kulon resmi menyelesaikan seluruh rangkaian pembekalan pembentukan Destana. BPBD Kota Probolinggo berharap para relawan mampu menjadi garda terdepan dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, dan penanganan awal bencana, sehingga tercipta masyarakat yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di wilayahnya. (Septyan)












