GarudaXpose.com | Lumajang – Tradisi ruwat air dalam rangka 1 Muharram 1448 H (1 Suro) kembali digelar masyarakat Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Kamis (18/6/2026) pagi. Kegiatan yang dipusatkan di kawasan wisata Tirtosari View itu berlangsung khidmat dengan pengamanan dan monitoring dari jajaran Polsek Candipuro.
Kapolsek Candipuro AKP Lugito, S.H. menjelaskan bahwa kegiatan adat tahunan tersebut merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat dalam memaknai tahun baru Hijriah sekaligus wujud rasa syukur atas keberadaan sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga.
“Ruwat air ini adalah tradisi masyarakat Desa Penanggal yang dilaksanakan setiap 1 Suro atau 1 Muharram. Selain sebagai ungkapan syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga dalam menjaga kelestarian sumber air,” ujar AKP Lugito saat dikonfirmasi di lokasi kegiatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 WIB tersebut dihadiri oleh unsur Forkopimcam Candipuro, di antaranya Camat Candipuro Shela Fasri, S.S.T.P., M.M., Danramil Candipuro Kapten Inf. Sumarno, Kepala Desa Penanggal Cikono, S.H., perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta sekitar 80 warga masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi doa dan pembacaan mantra oleh tokoh adat setempat di tepi sumber mata air Tirtosari. Setelah itu, warga melaksanakan prosesi simbolis membasuh wajah menggunakan air langsung dari sumber mata air sebagai bentuk harapan keselamatan dan tolak bala.
Acara kemudian dilanjutkan dengan kembul bujono atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong antarwarga.
AKP Lugito menambahkan, pihak kepolisian bersama unsur TNI dan pemerintah kecamatan melakukan pengamanan terbuka dan tertutup guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan kondusif.
“Kami melakukan monitoring sejak awal hingga akhir kegiatan. Alhamdulillah seluruh rangkaian berjalan lancar tanpa gangguan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan aturan hukum serta tetap mengedepankan nilai persatuan dan kerukunan masyarakat.
“Tradisi seperti ini memiliki nilai sosial yang kuat, mempererat hubungan antarwarga, dan menjadi bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga bersama,” tambahnya.
Kegiatan ruwat air di Desa Penanggal tersebut berakhir sekitar pukul 08.30 WIB dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif.













