BANYUWANGI – Potret memprihatinkan kembali terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Seorang warga kurang mampu bernama Miskini (60), warga Dusun Tugurejo RT 001/RW 002, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tegalsari, harus menjalani perawatan dalam kondisi sakit selama beberapa hari tanpa adanya perhatian serius dari pemerintah setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Miskini yang sehari-hari bekerja sebagai petani/perkebun mengalami kondisi kesehatan yang menurun hingga harus mendapatkan perawatan intensif. Yang menjadi sorotan, menurut keluarga dan pihak pendamping sosial, selama kurang lebih enam hari kondisi warga tersebut belum mendapatkan perhatian yang memadai dari pihak Pemerintah Desa Tegalrejo maupun Pemerintah Kecamatan Tegalsari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini kemudian mengundang keprihatinan dari sejumlah aktivis sosial dan anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gadjah Mada Indonesia, yang turun langsung menjenguk dan melakukan pendampingan terhadap pasien di rumah sakit.
Dalam kunjungan tersebut, tim LBH Gadjah Mada Indonesia melihat secara langsung kondisi pasien yang terbaring lemah di ruang perawatan. Pendampingan dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kecil yang membutuhkan perhatian dan perlindungan, terutama dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan yang layak.
Menurut pihak LBH Gadjah Mada Indonesia, kasus seperti ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah desa maupun kecamatan. Sebab, keberadaan aparatur pemerintahan tidak hanya menjalankan fungsi administrasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap warga yang mengalami kesulitan.
“Ketika ada warga yang sakit hingga berhari-hari dan berasal dari keluarga kurang mampu, seharusnya pemerintah desa menjadi pihak pertama yang hadir memberikan bantuan, koordinasi, maupun pendampingan. Jangan sampai masyarakat merasa sendirian menghadapi persoalan hidup dan kesehatan,” ungkap salah satu pendamping sosial saat berada di lokasi perawatan.
Lebih lanjut, kondisi yang dialami Miskini menjadi cerminan bahwa sistem deteksi dini dan kepedulian sosial di tingkat desa perlu dievaluasi. Sebab dalam situasi darurat kesehatan, kecepatan respon pemerintah sangat menentukan keselamatan warga.
LBH Gadjah Mada Indonesia juga meminta agar pihak terkait, baik Pemerintah Desa Tegalrejo maupun Kecamatan Tegalsari, memberikan klarifikasi mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan terhadap warga tersebut. Hal ini penting agar tidak muncul anggapan bahwa pemerintah menutup mata terhadap penderitaan masyarakat kecil.
Di sisi lain, masyarakat berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memperkuat pengawasan terhadap pelayanan sosial di tingkat bawah. Warga miskin, lansia, dan kelompok rentan merupakan bagian masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dan tidak boleh dibiarkan menghadapi kesulitan seorang diri.
Peristiwa yang menimpa Miskini juga menjadi pengingat bahwa kehadiran negara harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga lapisan paling bawah. Jangan sampai program-program sosial yang selama ini digembar-gemborkan hanya berhenti pada tataran administrasi tanpa menyentuh warga yang benar-benar membutuhkan.
LBH Gadjah Mada Indonesia menegaskan akan terus mengawal kondisi pasien hingga mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal serta memastikan hak-hak dasar sebagai warga negara dapat terpenuhi. Selain itu, pihaknya berharap ada langkah nyata dari pemerintah desa dan kecamatan untuk menunjukkan kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi cobaan berat.
“Jangan tunggu viral, jangan tunggu pemberitaan ramai. Ketika ada warga sakit dan membutuhkan pertolongan, pemerintah harus hadir lebih dahulu. Itulah hakikat pelayanan publik yang sesungguhnya,” tegas pihak pendamping.
Kasus ini kini menjadi perhatian masyarakat sekitar yang berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan sosial di wilayah Kecamatan Tegalsari, agar kejadian serupa tidak kembali menimpa warga lainnya.











