GarudaXpose.com | Lumajang – Perkembangan modus perdagangan orang (human trafficking) yang semakin beragam, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital dan media sosial, menjadi perhatian serius Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang.
Kondisi ini mendorong penguatan kapasitas kader agar mampu mengenali potensi risiko sejak dini di lingkungan masyarakat.
Ketua TP PKK Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa perubahan pola kejahatan tersebut menuntut respons yang lebih adaptif dari kader di lapangan. Menurutnya, ancaman tidak lagi terbatas pada cara-cara konvensional, tetapi semakin tersembunyi melalui ruang digital.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Perkembangan modus saat ini semakin kompleks, termasuk melalui media sosial. Karena itu, kader harus memiliki kemampuan untuk mengenali tanda-tanda awal agar bisa melakukan pencegahan lebih cepat,” ujarnya saat membuka kegiatan Penguatan Kader Pokja 1 di Kantor Kecamatan Pasirian, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, berbagai tawaran pekerjaan atau bantuan yang beredar di platform digital kerap menjadi pintu masuk praktik perdagangan orang. Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat berpotensi terpapar risiko tersebut.
Dalam konteks itu, peningkatan kapasitas kader menjadi langkah strategis. Kader tidak hanya dibekali pengetahuan dasar, tetapi juga kemampuan membaca pola, memahami risiko, serta menyampaikan edukasi yang relevan kepada masyarakat.
“Kader harus mampu menjadi penghubung informasi di tingkat keluarga. Semakin cepat risiko dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah,” jelasnya.
Pendekatan ini menempatkan kader PKK sebagai ujung tombak dalam sistem perlindungan berbasis masyarakat. Melalui kehadiran langsung di lingkungan sosial, kader diharapkan dapat menjangkau kelompok rentan secara lebih efektif.
Selain itu, edukasi berkelanjutan kepada keluarga juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan sosial. Masyarakat didorong untuk lebih selektif terhadap informasi dan tawaran yang beredar di ruang digital.
Dewi Natalia menambahkan bahwa upaya pencegahan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi dari berbagai pihak, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
“Ini adalah kerja bersama. Kader menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memiliki pemahaman yang cukup untuk melindungi diri,” imbuhnya.
Melalui penguatan ini, PKK Lumajang berupaya membangun sistem deteksi dini yang lebih responsif terhadap perubahan modus kejahatan. Dengan kapasitas kader yang semakin kuat, diharapkan potensi risiko dapat diidentifikasi lebih awal sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pencegahan perdagangan orang perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman, dengan menempatkan literasi digital dan kewaspadaan sosial sebagai bagian penting dari perlindungan masyarakat.











