BREBES,GarudaXpose.com//-Di bawah langit Brebes yang menyimpan ribuan bisik pilu, ada langkah yang tak gemar sorot. Tim pengampu nalar dan rasa dari Dinkesda Brebes menyusur lorong-lorong sunyi, menunaikan titah kesehatan berkala. Mereka menilik denyut dan napas para pejalan diam Orang Dengan Gangguan Jiwa agar hak paling dasar untuk sehat tak tercerabut dari genggaman, seperti yang digariskan standar pelayanan. Sebab bagi mereka, merawat jiwa sama sakralnya dengan merawat raga.
Lembar kinerja Kota Bawang sepanjang Januari hingga Desember 2025 menorehkan angka yang bicara sekaligus menggugat: 3.966 insan dengan gangguan di benaknya telah direngkuh tangan pengobatan. Seluruhnya sudah mengetuk pintu fasilitas kesehatan milik daerah. Artinya, tak satu pun dibiarkan berjalan sendiri menembus riuh di kepalanya. Obat telah dijadwalkan, pendampingan dijanjikan, dan catatan medis terus bertambah tebal.
Namun di sudut yang lebih perih, catatan itu belum sepenuhnya teduh. Sebanyak 33 raga masih bersekutu dengan pasung. Amuk masih datang tanpa permisi, menjadi alasan getir yang belum terelakkan. Mereka dirantai bukan karena tega, melainkan karena raga itu berpotensi melukai diri, pun mengancam keselamatan sesama. Emosinya bagai badai yang belum tahu cara reda, dan setiap lepas kendali adalah taruhan nyawa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinkesda Brebes, dr Heru Padmonobo, membuka tabir data hasil pemetaan dan pendampingan Program Pencegahan dan Pengendalian Kesehatan Jiwa. Ia menyebut, tren pasien berstatus ODGJ sepanjang 2025 masih didominasi Skizofrenia dan Gangguan Psikotik. Kasus baru yang ditemukan pun tak ringan: menengah hingga berat menjadi warna dominan yang menuntut kewaspadaan lebih dari sekadar resep dan jadwal kontrol.
“Dari hasil penapisan, usia 0-14 tahun tercatat 81 jiwa, 15-59 tahun sebanyak 3.779 jiwa, dan usia lebih dari 60 tahun ada 106 jiwa. Semuanya telah mengakses layanan kesehatan secara berkala,” jelasnya saat dikonfirmasi, Senin (13/4/2026).
Empat tahun terakhir, kata Heru, temuan kasus ODGJ kian bertambah. Namun dari total jumlah itu, usia produktif masih menjadi ladang tempat Skizofrenia dan luka psikologis akut bersemi paling lebat. Mereka yang seharusnya menenun masa depan, justru harus lebih dulu berdamai dengan gemuruh di kepalanya. Kategori ODGJ sedang hingga berat menuntut pengawasan khusus yang tak boleh lengah, sebab tanpa itu, hal yang tak diingini mudah menjelma nyata di gang-gang kampung atau ruang tamu rumah sendiri.
Persoalan lain yang menganga adalah celah kekambuhan. Heru menuturkan, kurangnya pengawasan minum obat dari keluarga menjadi pintu yang kerap terbuka. Jiwa yang sempat teduh bisa kembali bergolak hanya karena satu butir obat yang luput. Pasien yang sudah membaik dapat relaps, kembali ke titik nol yang melelahkan, dan keluarga pun kembali menanggung duka yang berulang.
“Masih terjadinya ODGJ dalam pasungan, karena kondisinya berpotensi melukai diri sendiri. Termasuk, mengancam keselamatan orang lain karena emosinya sangat sulit dikendalikan,” terangnya.
Maka ikhtiar ini, tegas Heru, tak cukup dipikul dinas semata. Penyelesaian masalah kesehatan jiwa perlu peran seluruh elemen: pemerintah, desa, lingkungan tempat tinggal, hingga keluarga mesti merapatkan barisan. Kabar baiknya, Dinkesda Brebes, Dinsos, dan Dindukcapil sudah menautkan langkah. Sinergi itu dirajut agar pelayanan ODGJ berjalan sesuai standar, dari hulu hingga hilir, dari puskesmas hingga meja makan keluarga.
Sementara itu, pengelola program kesehatan jiwa Dinkesda Brebes, Nuke Prasetyani, mengurai akar yang lebih dalam. Ia menyebut dua pemantik utama ODGJ: psikotik dan psiko sosial. Artinya, potensi gangguan kejiwaan tak hanya lahir dari dalam, melainkan juga karena pengaruh lingkungan yang rapuh. Kata yang menyudutkan, tatap yang menghakimi, dan bisik tetangga yang lebih tajam dari sembilu bisa menjadi angin yang meniup bara gangguan hingga menyala.
Sehingga, kata Nuke, upaya menyelesaikan permasalahan ODGJ hanya bisa ditempuh dengan optimalisasi pelayanan kesehatan jiwa masyarakat. Yakni peningkatan cakupan yang dilaksanakan secara komprehensif dari hulu ke hilir. Tidak berhenti pada obat, tetapi juga merawat nalar keluarga dan tetangga, mengajari bahwa gangguan jiwa bukan aib, melainkan luka yang butuh diobati bersama.
“Edukasi kesehatan jiwa bagi keluarga penderita adalah suluh. Semua pasien ODGJ sudah terlayani sesuai standar dengan pendampingan berkala untuk memotivasi keluarga. Sekaligus, berobat secara teratur dan merubah stigma negatif yang kadung mengakar,” tandasnya.
Di Tanah Bawang, 3.966 luka telah dijamah obat. Angka itu bukan sekadar prestasi, melainkan napas lega bagi ribuan keluarga. Namun pekerjaan belum usai. Selama 33 raga masih menunggu merdeka dari pasung, selama satu suara sumbang masih lebih nyaring dari empati, maka cerita tentang jiwa-jiwa yang sunyi ini belum boleh ditutup.
Pungkasnya, kesehatan jiwa bukan urusan rumah sakit semata. Ia hidup di meja makan ketika keluarga mengingatkan jadwal obat tanpa amarah. Ia tumbuh di teras rumah ketika tetangga memilih menyapa, bukan menggunjing. Ia menetap di kebijakan ketika pemerintah tak lelah merangkul yang rapuh. Sebab merdeka yang sejati bukan hanya lepas dari rantai besi, melainkan juga lepas dari rantai stigma yang diam-diam lebih mengikat. Dan selama itu belum tercapai, Brebes masih punya utang pada 33 raganya yang menanti.
Rincian Data Kunci Program Kesehatan Jiwa Dinkesda Brebes 2025:
Total ODGJ terlayani pengobatan: 3.966 orang
Masih dalam kondisi terpasung: 33 orang
Sebaran usia: 0–14 tahun = 81 pasien, 15–59 tahun = 3.779 pasien, >60 tahun = 106 pasien
Tren diagnosis dominan: Skizofrenia dan Gangguan Psikotik
Tingkat keparahan kasus baru: Menengah hingga berat
Peningkatan kasus: Terjadi dalam empat tahun terakhir, didominasi usia produktif
Penyebab utama relaps: Kurangnya pengawasan minum obat dari keluarga
Faktor pemicu ODGJ: Psikotik dan psiko sosial/lingkungan
Langkah penanganan: Sinergi Dinkesda, Dinsos, Dindukcapil; pelayanan komprehensif hulu-hilir; edukasi keluarga; pendampingan berkala; penghapusan stigma.(red*)
(Agus)









