Terdakwa Eks KDS Kalidilem LEMES, saat Hakim Memvonis 2,6 Tahun Penjara, Dalam Perkara Penipuan dan Penggelapan Sewa Lahan

- Penulis

Rabu, 15 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GarudaXpose.com | Lumajang – Sidang terakhir kasus dugaan penipuan dan penggelapan sewa lahan seluas 2,3 hektare di Desa Kalidilem, Randuagung, Lumajang yang menyeret terdakwa eks Kades Kalidilem sebagai terdakwa. Majelis Hakim telah menjatuhkan hukuman penjara 2,6 tahun kepada terdakwa.

Sidang putusan digelar di ruang sidang Pengadilan Negeri(PN) Lumajang, pada hari Rabu (15-4-2026) dipimpin Hakim tunggala I Nyoman Ary Mudjana,S.H.,M.H, bersama Panitera Pengganti (PP) Hery Marsudi, S.H.,M.H.

Putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa tersebut, lebih berat dibandingkan dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yaitu terdakwa dituntut 1,6 tahun penjara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan telah divonisnya terdakwa 2,6 tahun penjara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) , Cok Satrya Aditya, S.H.,M.H, menegaskan bahwa pihaknya belum mengambil keputusan final dan memilih menyatakan “pikir-pikir” sebagaimana terdakwa. Sikap itu bukan tanpa alasan.
“Kalau kami langsung menerima, lalu terdakwa banding, itu bisa melemahkan memori banding kami. Maka kami juga menyatakan pikir-pikir,” tegasnya.

Menurutnya, waktu tujuh hari yang diberikan majelis hakim akan dimanfaatkan untuk melaporkan putusan kepada pimpinan sekaligus memantau langkah hukum dari pihak terdakwa. Jika dalam tenggang waktu tersebut tidak ada upaya hukum, maka putusan otomatis berkekuatan hukum tetap (inkrah).

Aditya juga menjelaskan skema lanjutan bila banding diajukan. Terdakwa memiliki 7 hari untuk menyatakan sikap, kemudian 7 hari berikutnya untuk menyusun memori banding. Jika tidak dilakukan, maka dianggap menerima putusan.
“Kalau tidak diajukan, langsung inkrah dan wajib kami laksanakan,” ujar Cok Satrya Aditya, pada awak media.

Namun, polemik muncul terkait status terdakwa yang hingga kini belum ditahan. Cok Satria menegaskan, hal itu karena tidak adanya dasar hukum untuk melakukan penahanan.
“Sejak awal tidak ada penetapan penahanan. Jadi kami tidak bisa mengeksekusi tanpa dasar. Tapi tetap dalam pengawasan, ada wajib lapor,” ungkapnya.

Di sisi lain, kuasa hukum terdakwa, Wahyu Firman Efendi, S.H.,M.H, memastikan pihaknya akan melangkah ke tingkat banding.

Wahyu, menilai putusan hakim yang lebih berat dari tuntutan merupakan hasil penilaian subjektif majelis.
“Kami akan gunakan waktu 7 hari ini untuk banding. Upaya hukum akan kami tempuh semaksimal mungkin sebelum inkrah,” tegasnya.

Ia juga menekankan, bahwa kliennya tetap kooperatif, menjalani wajib lapor dua kali seminggu, dan tidak meninggalkan tempat tinggal meski tidak ditahan.

Sementara itu, pihak korban kaget mendengar kabar bahwa terdakwa tidak ditahan, bersama kuasa hukumnya, Haris Eko Cahyono, S.H.,M.H, langsung menghadap Hakim dan menyatakan keberatan apabila belum dilaksanakannya perintah penahanan yang disebut dalam amar putusan hakim.
“Dalam putusan jelas ada perintah penahanan, kami menunggu keberanian jaksa untuk menjalankan itu,” pungkas Haris.

Haris Eko Cahyo dan korban menunggu berjam-jam di Pengadilan Negeri (PN) Lumajang, menanti kepastian dan sikap Jaksa.

Informasi terakhir menyebutkan terdakwa telah dihubungi melalui penasihat hukumnya untuk kembali ke pengadilan negeri.

Setelah penantian cukup lama, akhirnya terdakwa datang menjelang pukul 19.00 WIB, dan akhirnya terdakwa eks Kades Kalidilem digiring petugas masuk ke mobil tahanan di halaman PN Lumajang.

Kini, publik menanti dalam hitungan hari, langkah selanjutnya dari para pihak, apakah terdakwa benar-benar mengajukan banding atau justru menerima putusan Majelis Hakim.

Dengan di tahannya terdakwa, bara yang tadinya membara akhirnya sedikit redup, dan pihak korban berharap pada para penegak hukum agar tidak mempermainkan hukum, seperti peristiwa tadi yang sempat diwarnai ketidakpastian terkait eksekusi penahanan, meski putusan Hakim telah dibacakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Imigrasi Ngurah Rai Amankan 17 WNA Diduga Menyalahgunakan Izin Tinggal 
Satreskrim Polres Jember Ringkus Pelaku Perampokan Toko Emas Murni Berhasil di Banyuwangi
Operasi Sikat Semeru 2026, Polres Lumajang Ungkap 8 Kasus dan Amankan 7 Tersangka
Jejak Digital Bongkar Curanmor Kalibaru, Terduga Joki Diamankan di Bali
Kasus Pencurian Tas Berisi Uang 9 Juta Berakhir Damai, LBH GP Ansor Dampingi Proses Restorative Justice
Rp 1,2 Juta Telah Terpakai, Kurir Shopee di Probolinggo Akui Ambil Tas Berisi Rp 9 Juta
NMAX Raib Saat Korban Belanja, Polisi Tangkap Perangkat Desa dan Buru Rekannya
Teriakan Keadilan Riskiana: Korban Dugaan Pengeroyokan Keluarga Kades Sukosari Lumajang, Mata Luka & Laporan di Polres Jalan di Tempat?

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 00:59 WIB

Imigrasi Ngurah Rai Amankan 17 WNA Diduga Menyalahgunakan Izin Tinggal 

Jumat, 23 Oktober 2026 - 01:39 WIB

Satreskrim Polres Jember Ringkus Pelaku Perampokan Toko Emas Murni Berhasil di Banyuwangi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Operasi Sikat Semeru 2026, Polres Lumajang Ungkap 8 Kasus dan Amankan 7 Tersangka

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:43 WIB

Jejak Digital Bongkar Curanmor Kalibaru, Terduga Joki Diamankan di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:55 WIB

Kasus Pencurian Tas Berisi Uang 9 Juta Berakhir Damai, LBH GP Ansor Dampingi Proses Restorative Justice

Berita Terbaru

Uncategorized

Pemkab Bangli Sampaikan Jawaban Atas Tiga Raperda Strategis

Selasa, 27 Okt 2026 - 04:52 WIB