GarudaXpose.com | Kabupaten Tangerang – Di SPBU 34.156.03 Sumur Bandung, Senin malam (08/12/2025), pemandangan unik terjadi: motor-motor Thunder berbaris rapi seperti peserta upacara, tapi dengan tujuan mulia: berpetualang bolak-balik menimbun Pertalite bersubsidi.
Para pelaku usaha sembako di Jayanti dan Balaraja tampaknya telah menemukan formula suci ekonomi lokal: beli Pertalite subsidi, botolin, lalu jual lagi.
Bisnis sampingan?
Bukan. Ini seni.
Awak media mengamati langsung, dan benar motor Thunder keluar-masuk SPBU seperti sedang uji coba teleportasi. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa malu, hanya gas, isi, ulangi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketika ditanya salah satu pengguna motor Thunder mengungkapkan rahasia dapur:
> “Boleh bolak-balik asal bayar uang cor Rp 5.000.”
Ah, tentu.
Siapa yang butuh aturan negara kalau sudah ada Uang Cor – mata uang premium yang disakralkan di SPBU tertentu?
Operator SPBU pun tampil bersahaja, mengaku tidak tahu apa-apa – mungkin karena sibuk menghitung jumlah napas pelanggan.
“Lebih jelasnya tanya pengawas saja,” ujarnya.
Lalu muncul sang pengawas, ENG, dengan jawaban yang begitu suci:
> “Saya tidak tahu ada pengisian berulang-ulang.”
Luar biasa.
Di depan mata antrean motor Thunder panjangnya seperti cerita sinetron 700 episode.
Tapi pengawas tetap tenang. Mungkin mengandalkan kekuatan ketidaktahuan yang mendalam.
Saat awak media mengajak melihat antrean, pengawas memilih mode ninja: hening, menghindar, tak terlihat.
Mungkin sedang menjalani pelatihan silent retreat di tengah SPBU.
Padahal UU Migas No. 22 Tahun 2001 sudah menegaskan larangan penimbunan BBM bersubsidi.
Tapi apa daya?
Di Sumur Bandung, aturan negara kalah telak oleh Thunder dan Uang Cor.
Sampai berita ini terbit, pihak SPBU masih memilih jurus sunyi-sepi, mungkin karena sibuk mengecek apakah Thunder sudah booking slot antrean berikutnya.
(Spi)













