Keterangan:Di Depan Rumah H. Ridhohul Khukam, Ki Haryo Entus Susmono Hidupkan Warisan Ayahanda, Sisipkan Dakwah dan Otokritik Kebangsaan dalam Rangkaian HUT RI ke-81 dan Maulid Nabi
BREBES,GarudaXpose.com// – Ratusan warga Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes tumpah ruah di depan kediaman H. Ridhohul Khukam, Senin malam (15/9/2026). Di tengah gempuran zaman digital, mereka membuktikan wayang masih berdenyut di jantung masyarakat. Bukan wayang biasa, melainkan Wayang Santri – perpaduan gemuruh gamelan, syair religi, dan dakwah yang menghibur sekaligus menuntun.
Tampah hadir, Kapolres Brebes,Suami Bupati Brebes,Sekda Kabupaten Brebes, dan camat Bulakamba serta Kapolsek Bulakamba
Dalang muda kharismatik, Ki Haryo Entus Susmono, putra almarhum maestro Ki Entus Susmono, membawakan lakon legendaris Sayidin Macan Gembong. Lakon ini mengisahkan heroiknya perjuangan Negara Sakatunggal melawan penjajahan Belanda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun yang paling tajam adalah kehadiran sosok Londo Ireng.
“Londo Ireng itu pribumi yang rela mengorbankan tanah airnya untuk kepentingan pribadi. Saudara sendiri berdarah-darah bertempur sampai mengorbankan nyawa tidak dipedulikan. Menting weteng dewek,” tegas Ki Haryo kepada GarudaXpose usai pementasan.
Ia menyebut lakon ini sebagai otokritik keras bagi bangsa hari ini. Jangan sampai menjadi bangsa Indonesia yang sudah menjadi ‘wong sugih’, namun justru mengeruk kekayaan nusantara tanpa peduli pada kehidupan rakyatnya sendiri.
Kekuatan Wayang Santri terletak pada pakemnya. Wayang yang pertama kali diciptakan almarhum Ki Entus Susmono ini adalah revolusi budaya. Jika zaman Walisongo wayang diterima tanpa perlu dalil karena Islam adalah agama baru, maka kini Wayang Santri justru diperkuat dengan dalil dan tausiyah, salah satunya dari ceramah KH.Subkhan Maimun Zubair, agar tontonan benar-benar menjadi tuntunan.
“Wayang santri itu bukan hanya tontonan, tapi harus menjadi tuntutan. Harapan kami, wayang ini efektif merubah perilaku masyarakat yang belum baik menjadi baik,” ujar Ki Haryo.
Hal itu diamini penyelenggara, H. Ridhohul Khukam, ST. Pementasan ini digelar sebagai wujud syukur dalam dua momentum besar: HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Dengan adanya wayang santri ini kita bisa mengenal warisan leluhur dari zaman Sunan Kalijaga. Apalagi kita yang masih muda harus mengerti budaya leluhur. Alhamdulillah ini pertama kali bisa kita laksanakan di desa kita untuk pengajian,” kata H. Ridhohul.
Antusiasme warga, dari anak-anak hingga orang tua, menjadi bukti sahih. Saat tokoh punakawan Lupit dan Slenteng naik panggung, suasana pecah. Dengan dialog ringan penuh humor, keduanya menyentil isu-isu kekinian – mulai dari soal ekonomi, sosial, hingga perilaku beragama yang langsung mengena di hati penonton.
Wayang Santri di Luwungragi malam itu bukan sekadar hiburan. Ia adalah cermin, pengingat, dan doa agar budaya tak mati ditelan teknologi.***
Laporan: Agus salim GarudaXpose.com
(4905)












