Yayasan Kaori Welas Asih Serahkan Bantuan Kursi Dan Alat – Alat Belajar Ke Yayasan Anak Unik

- Penulis

Selasa, 1 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Garudaxpose.com | Bali – Kaori Group melalui Yayasan Kaori Welas Asih yang aktif melakukan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti saat ini YKWA (Yayasan Kaori Welas Asih) menyerahkan bantuan berupa kursi belajar dan perlengkapan untuk belajar di Yayasan Anak Unik hal tersebut sebagai bentuk memberikan dukungan moral.

Yayasan Anak Unik di didirikan oleh Ni Gusti Putu Parmiti, SE untuk melayani anak – anak dengan kebutuhan khusus, khususnya tunagrahita atau keterbatasan mental berdiri tahun 2014 terketak di Jalan Pasung Grigis II, Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Yayasan ini berdiri dilatarbelakangi keprihatinan mendalam atas minimnya pengetahuan masyarakat dalam merawat dan mendidik anak berkebutuhan khusus, terutama anak – anak tunagrahita yang memiliki daya pikir dan perkembangan lebih lambat dibanding anak normal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ni Gusti Putu Parmiti, SE mengatakan, Yayasan Anak Unik berawal dari merintis dengan modal mandiri serta sedikit siswa, seiring waktu Yayasan Anak Unik berkembang menjadi pusat belajar, bermain dan pemberdayaan bagi puluhan anak, remaja hingga dewasa muda berkebutuhan khusus dengan dukungan tenaga pengajar yang sabar dan berdedikasi.

“Yayasan Anak Unik bekerjasama inklusif dengan Kemenag Gianyar pada Januari 2026, Kementerian Agama Kabupaten Gianyar secara resmi menjalin sinergi dengan menandatangani Perjanjian Kerjasama bersama Yayasan Anak Unik,” kata Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Lanjut Ni Gusti Putu Parmiti, SE menjelaskan, Yayasan Anak Unik memberikan ruang bagi anak – anak berkebutuhan khusus untuk berkarya, mengekspresikan diri, serta membuktikan bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama dalam dunia kreatif.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE mengatakan, dirinya selaku pendiri yayasan yang mendasari untuk mendirikan Yayasan Anak Unik ini mungkin sudah menjadi jalan hidupnya. Dirinya tidak mempunyai latar belakang guru tetapi merasa terpanggil untuk membantu mereka – mereka yang membutuhkan bantuan ekstra yaitu anak – anak berkebutuhan khusus tunagrahita, secara fisik mereka sama seperti kita, namun secara intelektual, mereka memiliki IQ yang dibawah rata – rata.

“Jadi karena banyak di sekitar kita ada anak – anak yang berkebutuhan khusus, salah diagnosa, salah penanganan, bahkan ada yang di kirim ke Rumah Sakit Jiwa, saya yakin orang tuanya tidak jahat tetapi mereka tidak tahu kemana mencari bantuan, oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk berbuat membantu anak – anak berkebutuhan khusus dan saya di support oleh guru – guru yang berjiwa besar, serta oleh orang – orang yang berjiwa besar diijinkan oleh keluarga memakai rumah adat kami sebagai sekolah,” jelas Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE menjelaskan, berawal dari mendirikan bimbel bahasa Inggris, Matematika untuk anak – anak SD yang ada di sekitar rumah tetapi lama kelamaan ada orang tua yang datang menitip anaknya yang tidak bisa membaca dan menulis.

“Saat itu pengetahuan saya belum sampai seperti ini, ternyata ada juga yang namanya cacat intelektual, otak yang bermasalah mereka secara fisik sama seperti kita, namun kalau di test oleh psikolog mereka memiliki IQ di bawah rata – rata sangat sulit belajar di sekolah formal,” kata Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ketika disinggung tantangan mengelola Yayasan Anak Unik ini, Ni Gusti Putu Parmiti, SE mengatakan, tantangan terberat kami ada di orang tua, mungkin saat itu informasi atau buku tentang anak – anak berkebutuhan khusus belum ada, kalaupun ada mereka harus bayar mahal di tempat – tempat tertentu, dirinya yakin tidak ada orang tua yang jahat, tetapi orang tua yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup.

“Tantangan kami saat itu adalah orang tuanya, mereka merasa malu mempunyai anak seperti itu, mereka merasa gengsi, dan merasa anak ini adalah anak kutukan, kami juga sudah sering tampil ke media nasional, sehingga orang tua pada berdatangan membawa anaknya kesini, 1 – 5 tahun masih belum ada hasil setelah itu hasilnya membludak,” jelas Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE menjelaskan, setelah 5 tahun tantangannya adalah kekurangan tempat, karena rumah tempat belajar yang baru bulan Juni kemarin sekesai dan mereka baru merasakan sekolah yang sesungguhnya, bisa bermain semenjak pindah dari bulan Juni kemarin ini, guru dan murid kami merasakan sekolah yang ideal.

“Sekarang beda lagi levelnya seperti autis, non verbal, jadi mereka mungkin IQ-nya normal tetapi suara yang belum keluar, kita harus mengisi diri sebelum mengisi anak – anak artinya kita harus tahu bagaimana cara menangani anak – anak yang berkebutuhan khusus ini, supaya makin kesini datang supaya semakin melek orang tuanya dan semakin sadar,” kata Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE mengatakan, pernah ada yang berhenti sekolah karena orang tuanya pikir anaknya tidak dapat ijasah, anak – anak harus bergaul agar tidak bosan di rumah karena mereka perlu melihat sesuatu di luar, setelah setahun anaknya kabur dari rumah baru orang tua datang kesini lagi.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE menyatakan, kita tidak mengajarkan itu – itu saja di kelas, kita terus dipaksa oleh keadaan untuk terus mengimbangi. Tantangan kami menyederhanakan perintah kepada anak didik itu yang sulit, kalau di sekolah formal mengembangkan, kalau kami mengerucutkan informasi sampai ke telinga anak – anak dan bagaimana caranya menyederhanakan supaya otak mereka gampang menerima.

“Jadi kita menyederhanakan frekwensi supaya menjadi sederhana dan otak mereka gampang menerima, guru yang beradaptasi. Kalau di sekolah formal guru tinggal mengajar, disini kami mengajar dan mendidik, karena guru yang tenang dan guru tidak malu – malu menyampaikan kita benar – benar menjadi manusia dengan bayangan, kami selalu di awal masuk mengadakan kesepakatan dengan orang tua mereka mengenai pendidikan putra – putri mereka yang berkebutuhan khusus,” kata Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE mengatakan, awal tahun 2014 sampai 2020 dimana saat itu Covid-19 kita subsidi silang, sore bimbel bahasa Inggris dan Matematika, kebetulan mantan siswa disini sekarang menjadi guru dan mengajar les bahasa inggris, kami mempunyai murid dari wilayah Gianyar kita kenakan uang les Rp.100 ribu, kalau yang SMP Rp.150 ribu, saya bisa memberikan gaji guru,” jelas Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ni Gusti Putu Parmiti, SE mengatakan, pihaknya sangat berterimakasih kepada ibu Winie Kaori atas bantuannya, ini bukan karena di hadapan ibu tetapi sesuatu yang kami tidak mampu beli kami dapat, jadi kami tidak bisa mengungkap kata – kata tetapi apapun bentuk bantuan apalagi itu barang, sembako, minuman itu sudah lebih dari ekspektasi kami, itu sangat luar biasa sekali.

“Jadikanlah kita langganan karena ibu Kaori bertanya kenapa saya tidak kesana, bukan karena kita abaikan tetapi karena kita malu, kepada siapa saja saya begitu, alangkah baiknya yang berdonasi bisa langsung melihat keadaan kami dan kami, kita apa adanya justru dengan apa adanya orang jadi paham,” pungkas Ni Gusti Putu Parmiti, SE.

Ketua Yayasan Kaori Welas Asih, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, SE., MM kepada sejumlah media mengatakan, Yayasan Anak Unik yang merawat 60 lebih anak – anak yang berkebutuhan khusus di Kabupaten Gianyar, kami dari Yayasan Kaori Welas Asih Bali berterimakasih atas semangat dan jiwa besarnya yang selalu memberikan motivasi kepada anak – anak, keluarga dan orang tua disini untuk tetap semangat berjuang, tidak mengenal putus asa, siapa yang mengetahui akan diberikan anak yang memang unik tetapi disini kita diberikan sebuah contoh nyata di kehidupan no body perfect.

Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, SE., MM menjelaskan, beliau sang pencipta tentunya menyempurnakan kehidupan dengan rasa dan cinta, Yayasan Anak Unik hadir melengkapi, mewarnai sekaligus memberikan sentuhan cinta kasih dan memberikan sebuah contoh bagaimana kita hidup tidak sendirian, tidak hanya berpaku tangan, hidup tidak bisa menyerah pada keadaan, tetapi hidup untuk selalu berjuang dan memberikan energi positif kepada alam semesta.

“Disini Yayasan Anak Unik hadir tidak hanya profiter, bagaimana kesederhanaan dan suasana yang penuh dalam kekeluargaan di didik, di edukasi dan diberikan cinta kasih sekaligus diberikan sentuhan di mata masyarakat mungkin dianggap sebelah mata tetapi di mata beliau Yayasan Anak Unik sudah menjadi sebuah kewajiban, menjadi tanggung jawab sosial dan mental yang harus dijaga, disini kami sangat berterimakasih ada sosok ibu Gusti yang menjadi panutan di tengah – tengah masyarakat untuk tetap memberikan perhatian, tidak hanya keluarga tetapi seluruh masyarakat yang memang memiliki kebutuhan khusus untuk anak,” kata Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, SE., MM.

Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, SE., MM menjelaskan, anak – anak yang di didik dari dari usia dini hingga dewasa sampai usia 30 tahun, bagi masyarakat yang memiliki sesuatu yang berharga yang memang dibutuhkan oleh Yayasan Anak Unik, disinilah tempatnya kita berbagi pengalaman, berbagi kesempatan untuk anak – anak berkebutuhan khusus yang sedang tumbuh berkembang semampunya, tidak ada paksaan untuk belajar mampu, nah disini dengan rangkulan mereka di Yayasan Anak Unik dicintai selayaknya memanusiakan manusia,” pungkas Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, SE., MM. @ (suriasih)

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aksi Damai di BBWS Sumatera VIII, JAKOR Sumsel Bongkar Dugaan Penyimpangan Proyek Swakelola
Aksi Damai di Kejati Sumsel, LASKAR Minta Dokumen dan Transaksi Dana CSR/PPM Motor Cross Diperiksa
Aksi Jilid II SIRA: Jika Terbukti Cemari Lingkungan, PT Pusri Diminta Ditindak Tegas
BPN JANGAN BUNGKAM: PUBLIK BERHAK TAHU STATUS HAK ATAS TANAH UNIVERSITAS AMIR HAMZAH
I Made Mudarta, S.Sos : Gerakan Langit Biru Di Pantai Jasri Mengusung Semangat Nyegara Gunung
Dua Hari Telusuri Jejak Target di Banyuwangi, Satreskrim Polresta Malang Kota Berhasil Hadapkan Kades AS
I Made Mudarta, S.Sos : Nyegara Gunung Dalam Gerakan Langit Biru Adalah Filosofis Agama Hindu Di Bali Yang Memadukan Kesucian Laut Dan Gunung
Kapolsek Jombang Langsung Turun Cek Lokasi Apotek Anisa yang Ambruk, Timpa Warga di Pondok Jeruk

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 07:17 WIB

Yayasan Kaori Welas Asih Serahkan Bantuan Kursi Dan Alat – Alat Belajar Ke Yayasan Anak Unik

Selasa, 1 September 2026 - 06:27 WIB

Aksi Damai di BBWS Sumatera VIII, JAKOR Sumsel Bongkar Dugaan Penyimpangan Proyek Swakelola

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:21 WIB

Aksi Damai di Kejati Sumsel, LASKAR Minta Dokumen dan Transaksi Dana CSR/PPM Motor Cross Diperiksa

Senin, 31 Agustus 2026 - 05:05 WIB

Aksi Jilid II SIRA: Jika Terbukti Cemari Lingkungan, PT Pusri Diminta Ditindak Tegas

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:11 WIB

BPN JANGAN BUNGKAM: PUBLIK BERHAK TAHU STATUS HAK ATAS TANAH UNIVERSITAS AMIR HAMZAH

Berita Terbaru