Photo Doc. Ketua PSSI Heri Fitriansyah Memberikan Trofi Juara 1 Piala Soeratin U13 (Sabtu 16/5/2026)
BREBES, GarudaXpose.com//–Stadion Karangbirahi jadi saksi drama adu mental Sabtu sore, 16 Mei 2026. SSB Trisula Jipang Bantarkawung resmi mengunci gelar juara Piala Soeratin U-13 PSSI Brebes 2026 usai menundukkan SSB Bhineka Raya Dukuh Badag Ketanggungan 3-1 lewat adu penalti. Duel final berformat 2×25 menit itu berakhir tanpa gol di waktu normal, 0-0.
Ratusan penonton di tribun sejak pukul 14.30 WIB. Atribut kedua suporter, tabuhan drum, dan yel-yel sahutan membuat atmosfer Karangbirahi seperti final profesional. Cuaca redup mendung 29°C menemani laga gengsi ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Babak Pertama: Adu Taktik, Benteng Sama Kokoh
Tepat 15.20 WIB, wasit Irvan meniup peluit kick off. Trisula Jipang langsung ambil inisiatif. Trio gelandang mereka sabar mengalirkan bola dari kaki ke kaki, memaksa Bhineka Raya turun lebih dalam.
Bhineka Raya tak tinggal diam. Begitu merebut bola, transisi cepat jadi senjata. Winger kanan bernomor punggung 7 berulang kali menusuk, melepas dua crossing berbahaya yang dipatahkan bek Trisula. Pertarungan paling panas terjadi di lingkaran tengah. Setiap duel 50:50 disambut gemuruh penonton.
Peluang terbaik Trisula datang di menit 18’. Umpan terobosan membelah pertahanan, striker mereka tinggal berhadapan dengan kiper. Sontekan pelan sudah melewati kiper, tapi bola cuma mencium tiang kanan. Bhineka membalas 4 menit kemudian. Tendangan bebas dari 22 meter meluncur deras ke pojok atas, namun kiper Trisula terbang menepis bola. Babak pertama ditutup 0-0.
Babak Kedua: Rotasi Pemain, Hujan Peluang Tanpa Gol
Masuk babak kedua, kedua pelatih sama-sama menyegarkan lini depan. Trisula memasukkan striker bertubuh jangkung nomor 9 untuk duel udara. Bhineka Raya merespons dengan menarik gelandang bertahan, menambah satu penyerang cepat.
Tempo makin naik. Trisula Jipang dominan penguasaan bola 58%. Mereka melepas 7 tembakan tepat sasaran sepanjang babak kedua. Bhineka Raya lebih efisien: 5 shots on target dari 3 serangan balik. Menit 40an’, publik tuan rumah sempat bersorak. Sepakan voli Adi Graha dari luar kotak penalti sudah tak terjangkau kiper, tapi lagi-lagi mistar jadi penyelamat Bhineka.
Di kubu seberang, kiper Trisula Jipang layak dapat standing applause. Menit 43’, ia dua kali beruntun menggagalkan peluang emas Bhineka dalam situasi kemelut. Sampai peluit panjang, skor 0-0 tak berubah. Final harus ditentukan lewat adu tos-tosan.
Adu Penalti: 3 Eksekutor Sempurna, Kiper Jadi Pahlawan
Undian dimenangkan Trisula Jipang untuk menendang lebih dulu. Suasana mendadak senyap saat penendang pertama maju.
Penendang 1 Trisula: tenang, bola menghujam kanan bawah. 1-0.
Penendang 1 Bhineka: terkecoh, kiper Trisula terbang ke kiri menepis bola.
Penendang 2 Trisula: kaki kiri, bola meluncur ke kiri atas. 2-0.
Penendang 2 Bhineka: sukses, menempatkan bola ke tengah. 2-1.
Penendang 3 Trisula: M. Adi Graha Pandegla, sang top score, maju tanpa ekspresi. Ia jeda sejenak, kiper mati langkah, bola dicungkil pelan ke tengah. 3-1.
Penendang 3 Bhineka: harus masuk untuk menjaga asa. Tapi tendangannya terlalu lemah, lagi-lagi dibaca kiper Trisula.
Skor akhir 3-1. Skuad Trisula Jipang langsung berlari ke arah tribun selatan, tempat orang tua dan pendukung setia mereka. Pelatih kepala tak kuasa menahan tangis. Laga bersih dipimpin wasit Irvan, dibantu asisten wasit 1 Mu’tiah dan asisten wasit 2 yang sigap menjaga jalannya pertandingan.
Top Score: Berbagi Panggung, Berbagi Cerita
Gelar individu paling bergengsi, Top Score, harus dibagi dua. M. Adi Graha Pandegla dari Trisula Jipang dan M. Ibnu Hamzah dari SSB Persepa FC Padakaton sama-sama mengemas 5 gol.
Bedanya, Adi menutup turnamen dengan cara paling manis: gol penentu di final. “Gol di adu penalti itu buat teman-teman, pelatih, dan orang tua di Bantarkawung,” ucap Adi malu-malu saat pengalungan medali. Ibnu Hamzah tak kalah bersinar meski Persepa terhenti di semifinal. Lima golnya jadi bukti ketajaman lini serang Padakaton.
Suara ketua PSSI: “Kalah Hari Ini, Bahan Bakar Besok”
Prosesi penyerahan hadiah berlangsung khidmat. Ketua PSSI Brebes Heri Fitriansyah menyerahkan trofi juara, piala bergilir, dan uang pembinaan kepada kapten Trisula Jipang.
“Selamat untuk SSB Trisula Jipang. Kalian buktikan disiplin dan kerja keras tak pernah bohong. Terima kasih juga untuk orang tua yang setia antar-jemput latihan,” kata Heri disambut tepuk tangan.
Untuk Bhineka Raya, Heri punya pesan khusus. “Kalian runner-up terbaik. Main kalian luar biasa, taktik rapi, mental kuat. Sepak bola itu bukan cuma soal piala. Yang belum juara jangan kecil hati. Usia kalian masih dini, jalan masih panjang. Kalah hari ini jadi bahan bakar untuk lebih kuat besok.”
Dia menambahkan catatan teknis. “Secara taktikal dua finalis ini bagus. Mental teruji, main dengan kepala dingin di bawah tekanan. Ini modal Brebes untuk bersaing di level provinsi dan nasional.”
18 Tim, Satu Semangat, Nol Insiden
Ketua Panitia Piala Soeratin U-13, Tri Boedy Hermanto, didampingi Bendahara Drs. Bambang Purwanto dan Sekretaris Fauzi, menyebut edisi 2026 sukses besar.
“18 tim dari seluruh penjuru Brebes ikut. Dari fase grup sampai final, alhamdulillah nol insiden. Ini berkat sportivitas pemain, pelatih, dan suporter,” ujar Tri Boedy.
Fauzi menambahkan, “Capek panitia terbayar lunas lihat senyum anak-anak. Evaluasi pasti ada, tapi secara umum lancar. Tahun depan kita target lebih meriah, wasit kita upgrade lisensinya, hadiah kita tambah.”
Hasil Lengkap Piala Soeratin U-13 Brebes 2026
Juara: SSB Trisula Jipang Bantarkawung
Runner-up: SSB Bhineka Raya Dukuhbadag Ketanggungan
Juara 3 Bersama: SSB Cakrawala Nusantara Larangan & SSB Brebes United
Top Score: M. Adi Graha Pandegla (Trisula Jipang) & M. Ibnu Hamzah (Persepa FC Padakaton) – 5 gol

Penutup: Karangbirahi Melahirkan HarapanPiala Soeratin U-13 2026 resmi ditutup dengan satu kesimpulan: Brebes tak kekurangan talenta. Duel taktis, adu mental di titik putih, dan pelukan sportivitas di akhir laga jadi potret ideal pembinaan usia dini.
Dari Karangbirahi sore itu, Trisula Jipang pulang membawa trofi dengan top score di barisannya. Bhineka Raya pulang dengan kepala tegak sebagai finalis yang merepotkan. Lebih dari sekadar menang dan kalah, turnamen ini jadi kawah candradimuka bagi ribuan mimpi anak-anak Brebes.
Sebab di usia 13 tahun, juara sejati adalah yang mau terus belajar, yang bangkit setelah jatuh, dan yang tetap rendah hati saat di atas. Sepak bola Brebes punya masa depan, dan masa depan itu dimulai dari sini, pungkasnya.red**
(Gus)












