BREBES,GarudaXpose.com//-Suasana di Pendopo Kabupaten Brebes pagi itu terasa berbeda dari pelantikan biasanya. Bukan sekadar acara seremonial yang selesai dengan foto bersama, pelantikan 51 pejabat baru kali ini membawa pesan perubahan yang jelas dan tegas. Di hadapan jajaran Forkopimda, Wakil Bupati Wurja SE, Sekda Dr Tahroni MPd, para kepala OPD, serta Direktur BUMD, Bupati Hj Paramitha Widya Kusuma SE MM resmi melantik dan mengambil sumpah 49 pejabat manajerial eselon III dan 2 Kepala Unit Organisasi Bersifat Fungsional (UOBF) Puskesmas.Senin,13 April 2026.

Dalam sambutannya, Bupati Paramitha langsung meluruskan pandangan yang keliru soal rotasi jabatan. “Saya tegaskan, rotasi ini bukan hukuman untuk siapa pun. Ini juga bukan hadiah yang perlu dirayakan berlebihan. Anggap saja ini sebagai penyegaran dan pengingat untuk kita semua. Sudah saatnya kita memperbaiki cara kerja yang lama, memotong birokrasi yang berbelit, agar pelayanan kepada masyarakat jadi lebih cepat, lebih mudah, dan lebih manusiawi,” ujarnya dengan nada tegas namun tenang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Paramitha menjelaskan bahwa jabatan punya dua makna besar yang harus dipegang semua pejabat. Pertama, jabatan adalah amanah atau titipan dari rakyat yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Kedua, jabatan adalah kesempatan untuk memperbaiki sistem kerja di pemerintahan yang selama ini masih lambat dan kaku. “Saya tidak mencari pemimpin yang hanya duduk di belakang meja dan pintar tanda tangan. Saya butuh pemimpin yang mau turun langsung ke lapangan, yang bisa membuat timnya bergerak cepat, dan yang hasilnya bisa dirasakan langsung oleh warga. Jadilah contoh yang baik bagi staf kalian. Kalau merasa tidak sanggup, beri kesempatan kepada yang lain yang lebih siap,” pesan Bupati.
Fokus Utama: Perang Melawan Stunting dan Perbaiki Layanan Kesehatan dari Hulu
Dari semua arahan yang disampaikan, sorotan paling tajam Bupati Paramitha adalah soal kesehatan, terutama stunting dan keselamatan ibu-anak. Dua Kepala UOBF Puskesmas yang baru dilantik langsung mendapat tugas khusus yang tidak ringan. Paramitha menekankan bahwa masalah stunting bukan sekadar angka di atas kertas laporan. Angka kematian ibu dan bayi juga bukan sekadar data statistik. “Ini soal nyawa manusia. Ini soal masa depan anak-anak Brebes. Kalau kita gagal menangani ini hari ini, artinya kita kehilangan satu generasi di masa depan,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan itu, ia meminta program unggulan Nakes Door to Door dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya jadi nama di baliho atau slogan. “Tenaga kesehatan harus proaktif dan jemput bola. Jangan menunggu pasien datang ke Puskesmas. Datangi rumah warga satu per satu. Ketuk pintunya. Dengar langsung keluhan ibu-ibu. Timbang dan ukur anak-anak di rumahnya. Lihat kondisi dapur, sumber air, dan lingkungannya,” perintah Paramitha.
Ia menambahkan, kunci keberhasilan program ini ada pada tiga hal. Pertama, data yang akurat dan jujur. “Data tidak boleh asal-asalan atau asal bapak senang. Kalau datanya salah dari awal, semua langkah kita ke depan juga akan salah. Data yang jujur adalah awal dari kebijakan yang tepat.” Kedua, pelibatan kader. “Rangkul kader kesehatan di desa, PKK, dan karang taruna. Mereka yang paling tahu kondisi warganya.” Ketiga, kolaborasi lintas sektor. “Kepala Puskesmas harus aktif bekerja sama dengan kepala desa, camat, penyuluh pertanian, dan semua pihak terkait. Menurunkan stunting itu kerja keroyokan. Tidak bisa Puskesmas jalan sendiri.”
Pesan untuk 49 Pejabat Manajerial: Tinggalkan Mental Lama, Bangun Sistem Baru
Kepada 49 pejabat eselon III yang baru dilantik, mulai dari Sekretaris Dinas, Sekretaris Camat, Kepala Bagian, Kepala Bidang, hingga Kepala Seksi, Bupati menyampaikan pesan dengan nada yang sama tegasnya. Menurut Paramitha, masyarakat Brebes sudah jenuh dengan birokrasi yang lambat, ribet, dan suka menunda pekerjaan.
“Zaman sudah berubah cepat. Masyarakat sekarang butuh serba cepat, pasti, dan transparan. Cara kerja lama yang lambat harus kita tinggalkan. Jangan lagi ada budaya menumpuk berkas. Jangan lagi ada alasan ‘masih diproses’ kalau sebenarnya bisa diselesaikan hari ini,” ujarnya.
Ada tiga pesan penting yang ia tekankan berulang kali. Pertama, soal anggaran. “Gunakan setiap rupiah uang rakyat dengan bijak, efektif, dan tepat sasaran. Pastikan setiap program menyentuh warga yang benar-benar membutuhkan. Jangan ada pemborosan, apalagi kebocoran.” Kedua, soal pengambilan keputusan. “Jangan takut mengambil keputusan selama itu sesuai aturan dan untuk kepentingan warga. Pimpinan harus berani bertanggung jawab. Jangan tunda-tunda.” Ketiga, soal kerja sama tim. “Ego sektoral harus dibuang. Tidak ada lagi OPD yang kerja sendiri-sendiri. Semua harus terhubung, semua harus saling mendukung. Tanpa kolaborasi, semua program hebat hanya akan jadi wacana di atas kertas.”
Paramitha mengingatkan bahwa setiap tanda tangan pejabat itu berdampak langsung ke warga. “Satu tanda tangan kalian bisa menentukan apakah seorang anak mendapat bantuan gizi atau tidak. Bisa menentukan apakah jalan desa cepat diperbaiki atau tidak. Bisa menentukan apakah UMKM dapat izin usaha dengan mudah atau tidak. Jadi jangan anggap remeh pekerjaan kalian. Waktu rakyat terlalu berharga untuk kita sia-siakan.”
Target Jelas: Pelayanan Publik yang Prima dan Kepercayaan yang Pulih
Bupati juga menyampaikan bahwa rotasi ini adalah bagian dari ikhtiar besar mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah daerah. “Kepercayaan itu dibangun dari hal-hal kecil: senyum saat melayani, kecepatan saat mengurus KTP, kepastian saat warga butuh bantuan. Kalau hal kecil saja kita abaikan, jangan harap warga percaya untuk hal yang besar,” katanya.
Ia meminta para Sekretaris Dinas dan Sekretaris Camat yang baru untuk memastikan mesin organisasi berjalan rapi. Para Kepala Bidang dan Kepala Seksi diminta membuat inovasi yang mempermudah warga, bukan malah mempersulit. “Ukur kinerja kalian dari senyumnya warga, bukan dari tebalnya laporan,” imbuhnya.

Penutup: Jabatan Adalah Ladang Pengabdian, Bukan Kursi untuk Bersantai
Menutup sambutannya yang berlangsung hampir 30 menit, Bupati Paramitha kembali menegaskan bahwa jabatan bukanlah tempat untuk berleha-leha atau mencari kenyamanan. “Jabatan adalah ladang pengabdian. Tempat kita bekerja, berkeringat, dan melayani. Kepercayaan warga itu seperti gelas kaca, sekali pecah karena kita lalai dan abai, susah menyatukannya lagi. Maka jalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab, dengan hati yang tulus. Tidak perlu banyak bicara, tidak perlu pencitraan. Biar hasil kerja saja yang berbicara untuk kalian,” pungkasnya.
Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat dari Bupati, Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, dan seluruh kepala OPD kepada 51 pejabat yang baru dilantik. Wajah-wajah tegang bercampur lega terlihat saat mereka bersalaman satu per satu.
Dengan resminya pelantikan ini, 51 pejabat baru di lingkungan Pemkab Brebes kini memikul tanggung jawab yang sama: membuktikan bahwa pemerintah Kabupaten Brebes hadir, bekerja cepat, dan hasilnya nyata dirasakan warga sampai ke pelosok desa.
Bupati sudah memberi arahan yang jelas, tegas, dan terukur. Harapan warga juga sudah disampaikan lewat berbagai saluran. Sekarang, semua mata tertuju pada 51 nama yang hari ini mengucap sumpah. Masyarakat Brebes menunggu bukti kerja, bukan janji manis.(red*)
(Agus)











