Garudaxpose.com | Jember – Warga Desa Grenden, Kecamatan Puger, Jember, kian geram dengan aktivitas truk pengangkut material pabrik semen yang melintas tanpa batasan waktu. Warga menilai lalu-lalang kendaraan bertonase besar itu sudah mengancam keselamatan pengguna jalan, terutama anak sekolah, Selasa (7/4/2026).
Pantauan di lapangan menunjukkan truk-truk besar melintas sejak pagi hingga malam hari. Jalan desa yang relatif sempit dipadati kendaraan proyek bersamaan dengan aktivitas warga. Suara bising dan getaran dari truk dirasakan hingga ke rumah-rumah di pinggir jalan.
Gelombang protes tak lagi berhenti di Grenden. Keluhan serupa kini muncul dari warga Gumukmas, Kencong, hingga Jombang. Mereka mengaku jalan di wilayahnya juga cepat rusak akibat intensitas truk bermuatan berat yang melintas setiap hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jalan di wilayah kami juga rusak parah, tapi penanganannya hanya tambal sulam. Kalau dibiarkan, kami tidak akan tinggal diam,” kata seorang warga dari luar Grenden yang enggan disebutkan namanya. Ia menyebut kerusakan makin parah saat musim hujan.
Di Desa Grenden, titik rawan terjadi pada jam-jam padat. Pagi hari ketika anak-anak berangkat sekolah dan sore saat aktivitas warga memuncak, truk tetap melintas tanpa jeda. Warga khawatir kondisi ini memicu kecelakaan lalu lintas.
Mujib, warga Grenden, menyampaikan keresahan yang menurutnya sudah di titik jenuh. “Kalau pagi dan siang itu sangat padat, truk-truk besar lewat terus. Kami khawatir terjadi kecelakaan,” ujarnya saat ditemui di sekitar jalan desa.
Selain keselamatan, dampak lain yang dikeluhkan warga adalah kerusakan infrastruktur. Aspal di sejumlah ruas jalan mulai retak, bergelombang, dan ambles. Warga menilai beban truk melebihi kapasitas jalan desa yang tidak dirancang untuk kendaraan berat.
Upaya mediasi antara warga dan pihak terkait disebut pernah dilakukan, namun belum menghasilkan keputusan konkret. Warga menilai belum ada pengaturan jam operasional yang tegas dan mengikat bagi armada pengangkut material tersebut.
Mediasi lanjutan direncanakan dalam waktu dekat. Namun sebagian warga mulai skeptis jika forum itu hanya berakhir formalitas tanpa solusi. Mereka menuntut ada pembatasan jam melintas, pengawasan di lapangan, dan sanksi bagi pelanggar.
Tekanan publik kini membesar seiring meluasnya dukungan dari kecamatan tetangga. Warga lintas wilayah menyatakan siap menggelar aksi dengan tuntutan sama: pembatasan jam operasional truk serta perbaikan jalan secara menyeluruh, bukan tambal sulam.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pabrik semen maupun instansi terkait soal pengaturan jam operasional truk. Pemerintah desa Grenden disebut masih mengupayakan komunikasi lanjutan dengan seluruh pihak.
Warga berharap ada langkah cepat sebelum situasi memburuk. Mereka menuntut kepastian aturan di lapangan demi menjamin keselamatan anak sekolah, pengguna jalan lain, serta keberlangsungan infrastruktur desa yang kini semakin tergerus. (SR)













