GarudaXpose.com | Lumajang – Ribuan jama’ah Sholawat Wahidiyah Kabupaten Lumajang menghadiri Pengajian Umum dalam rangka Rubu’ussanah dan Do’a bersama yang digelar Departemen Pembina Wanita Wahidiyah (DPWW) Kabupaten Lumajang, Sabtu 30-5-2026, pukul 19.30 WIB bertempat di Lapangan Desa Kunir-Kidul, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, Jawa- Timur.
Kegiatan tersebut di hadiri Bupati Lumajang Ir. Hj Indah Amperawati, M. Si atau di kenal sapaan akrapnya Bunda Indah, beberapa anggota DPRD Lumajang,Solikin,S.H Fraksi PDIP,Marsiani Fraksi PPP, Sofiana Fraksi Gerindra, IMRON Kabag Kesra Pemkap Lumajang, Camat dan Forkopimca Kunir, Derajat Ali Fatoni,S.H Kepala Desa Kunir-Kidul,Toga, Tomas serta jama’ah Sholawat Wahidiyah se Kabupaten Lumajang dan perwakilan Yayasan Perjuangan Wahidiyah Kabupaten Jember.
Dalam sambutannya Ketua Perjuangan Wahidiyah Kabupaten Lumajang Muhammad Imron mengucapkan terimakasih kepada Kapolres Lumajang dan pihak pihak terkait yang telah mengeluarkan rekom/ijin hingga acara Rubu’ussanah dan Doa bersama yang digelar di lapsnfan desa Kunir-Kidul, Kecamsn Kunir dan acara tersebut sponsori DPWW Kabupaten Lumajang berjalan lancar dan tertib.
“Kami mengucapkan terimakasih kepada Kapolres Lumajang yang telah memberikan ijin /rekom hingga kami bisa melaksanakan kegiatan yang sudah ter agendakan tiap tiga bulan sekali. Juga kami ucapkan tetimakasi atas kehadiran Bunda Indah Bupati Lumajang, Pak Solikin,SH, Ibu Marsiani, Ibu Sofiana, Pak Camat Kunir, Kabag Kesra Kabupaten Lumajang, Kades Kunir-Kidul, tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh pengamal Sholawat Wahidiyah, pada acara Rubu’ussanah dan Doa bersama yang digelar DPWW Kabupaten Lumajang malam hari ini,” ujar M. Imron.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menjelaskan bahwa Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo sudah mendapatkan ijin secara resmi dari Pemerintah melalui Kementiran Hukum dan HAM RI.
“Jadi Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kediri, Jatim sudah terdaftar di KEMENKUMHAM RI NOMOR: AHU – 9371.AH.01.04 TAHUN 2011, AKTA NOMOR: 08 TAHUN 2011,”jelas M.Imron.
Disamping itu, M.Imron menyampaikan program Yayasan Perjuangan Wahidiyah di antaranya turut serta membantu Pemerintah untuk meningkatkan SDM di sektor pendidikan dan perekonomian pengamal melalui Koperasi Wahidiyah.
Di kecamatan Senduro telah didirikan SMP dan SMA Wahidiyah juga di beberapa Kecamatan telah berdiri TK Wahidiyah Plus.
“Untuk meningkatkan perekonomian pengamal di setiap Kecamatan sudah ada Koperasi Wahidiyah yang siap membantu permodalan pengamal Wahidiyah,” aku M.Imron.
Di dalam kesempatan tersebut, Bupati Lumajang Bunda Indah memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada Yayasan Perjuangan Wahidiyah yang dinilainya telah berkontribusi besar dalam pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan dan pembinaan moral masyarakat.
Menurutnya, keberadaan Wahidiyah selama ini telah membantu Pemerintah dalam mencetak generasi yang berkarakter dan berakhlak.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Lumajsng, saya menyampaikan terimakasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya MUJAHADAH Rubu’usanah dan Doa bersama ini. Saya yaqin doa-doa yang dipanjatkan malam hari ini dengan penuh keikhlasan akan diijabahi oleh Allah SWT,” kata Bunda Indah.
Ia, menceritakan saat pilkada tahun kemaren, Bunda Indah mengakui bisa menjadi Bupati tidak terlepas dari do’a /mujahadah para pengamal Sholawat Wahidiyah dan para Kyai, selama 40 hari para pengamal Wahidiyah mujahadah mendo’akan saya agar menjadi Bupati Lumajang.
Bunda Indah juga mengajak seluruh jamaah Wahidiyah untuk terus menjaga dan mengembangkan perjuangan Wahidiyah yang telah dirintis oleh para pendahulu dengan penuh pengorbanan. Dan perkembangan Wahidiyah saat ini merupakan hasil perjuangan panjang yang patut dijaga bersama oleh seluruh pengamal.
Lebih lanjut, Bunda Indah menegaskan bahwa Pemkab sangat terbantu dengan keberadaan lembaga-lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan Perjuangan Wahidiyah mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi yang berada di PonPes Kedunglo Kediri Jawa-Timur.
Di akhir sambutannya, Bupati Lumajang mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kondosifitas wilayah dan tingkatkan semangat gotong royong di tengah – tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Acara inti yaitu kuliah Wahidiyah yang disampaikan Ibu Nyai Failatul Khoiroh dari Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kediri Jawa-Timur.
Pertama tama Ibu Nyai Failatul Khoiroh menyampaikan salam Kanjeng Romo KH Abdul Majid Ali Fikri, RA Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo kepada seluruh pengamal Kabupaten Lumajang.
Lebih lanjut, Ibu Nyai Lailatul Khoiroh memaparkan tentang Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah didalam memberikan Kuliah Wahidiyah.
Sholawat Wahidiyah dita’klif oleh Mbah Yahi KH.Abdul Majid Ma’ruf, QS.RA pada tahun 1963.
Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah adalah amalan yang berfaedah menjernihkan hati dan Ma’rifat Billah wa Rosulilahi,SAW.
Menurutnnya, kalau mendengar keterangan tentang ajaran-ajaran Wahidiyah terlihat begitu mudah, teorinya begitu mudah. Tapi sebenarnya, dalam praktiknya itu tidak semudah teori yang kita dengarkan. Sehingga masih dibutuhkan mujahadah atau bersungguh-sungguh dalam pencapaian ajaran tersebut.
“Dan alhamdulillah, di dalam Wahidiyah mujahadah itu dilaksanakan dengan membaca Sholawat Wahidiyah itu sendiri, sebagai bentuk permohonan hidayah petunjuk Allah, permohonan taufik pertolongan Allah, dan syafaat beliau Rasulullah *Shallallahu ‘Alaihi Wasallam* serta nadhrah beliau Ghauts Hadzaz Zaman *Radhiyallahu ‘Anhu*,” terangnya.
Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa khususnya para pengamal. Begitu sulitnya takorub kepada Allah *Subhanahu Wa Ta’ala*, begitu sulitnya makrifat kepada Allah wa Rasulihi *Shallallahu ‘Alaihi Wasallam*, begitu sulitnya bagi kita mendekatkan diri kepada Allah *Subhanahu Wa Ta’ala*. Makanya, Mbah Yahi Muallif Sholawat Wahidiyah *Qoddasallahu Sirrohu wa Radhiyallahu ‘Anhu* juga menyediakan tangga bagi kita untuk mempermudah takorub tersebut.
“Dengan anak-anak tangga yang harus kita pijak satu demi satu secara urut demi keselamatan kita.
Apakah anak tangga tersebut, para hadirin-hadirat? Anak tangga tersebut adalah mujahadah-mujahadah yang sudah menjadi tuntunan pasti, tuntunan paten dari Muallif Sholawat Wahidiyah. Antara lain: mujahadah yaumiyah, mujahadah usbu’iyah, syahriyah, dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Pertama adalah mujahadah yaumiyah.
“Ini diibaratkan sebagai anak tangga pertama. Siapapun dengan mudah akan mampu melaksanakan mujahadah yaumiyah, asalkan punya keinginan. Saking mudahnya, banyak di antara pengamal itu yang bilang, *”Aku ngamalno dewe nek omah.”* Ini menggambarkan begitu mudahnya mujahadah yaumiyah,” jelasnya.
Kemudian pijakan kedua,
“Anak tangga kedua, ini diibaratkan adalah mujahadah usbu’iyah. Dalam tangga yang sebenarnya, di pijakan kedua ini kita pasti membutuhkan keseimbangan. Dan dalam pijakan ini adalah merupakan langkah awal untuk mampu menuju pijakan-pijakan selanjutnya. Jika seseorang telah mampu menyeimbangkan tubuhnya dalam pijakan yang kedua, maka dia akan mudah baginya untuk melanjutkan pijakan-pijakan selanjutnya. Dan itulah dalam Wahidiyah, yaitu dengan mujahadah usbu’iyah,”paparnya
“Hadirin-hadirat, mujahadah usbu’iyah dibanding mujahadah yaumiyah itu agak berat mungkin, nggih? Dilaksanakan… karena harus dilaksanakan dalam satu dusun seminggu sekali kumpul di situ. Kalau yaumiyah dilaksanakan secara sendiri-sendiri di rumah, tapi kalau usbu’iyah secara berjamaah dalam satu desa ataupun satu dusun dalam satu kelompok seminggu sekali.
Mujahadah usbu’iyah ini begitu sangat penting, para hadirin-hadirat. Bahkan sangat pentingnya, sangat selalu diperhatikan. Mulai zamannya Kanjeng Romo sangat diperhatikan, sampai pernah ada pengabsenan usbu’iyah. Bahkan akhir… akhir-akhir ini, bahkan ini yang terakhir, besok Mujahadah Kubro, ada pendataan jamaah usbu’iyah. Karena beliau Kanjeng Romo Kiai Abdul Latif Madjid *Qoddasallahu Sirrohu* pun pernah dawuh, pentingnya mujahadah usbu’iyah ini sama dengan, seperti salat Jumat bagi orang muslim yang laki-laki. Sampeyan bisa berpikir sendiri seberapa wajibnya, diibaratkan seperti itu oleh beliau. Dan dalam mujahadah usbu’iyah, juga dalam pengalaman rohani merupakan pengabsenan, ajang pengabsenan bagi para pengamal Sholawat Wahidiyah. Karena sering, banyak sekali pengalaman rohani ketika mujahadah usbu’iyah, ada seseorang yang dibuka *ainul bashiroh*-nya, dia melihat Mbah Yahi *Qoddasallahu Sirrohu wa Radhiyallahu ‘Anhu*, melihat Kanjeng Romo rawuh langsung dalam arena mujahadah usbu’iyah mengabsen satu-satu pengamal.
Saya juga mendengar saking pentingnya tekanan mujahadah usbu’iyah ini, Mbah Yahi *Qoddasallahu Sirrohu wa Radhiyallahu ‘Anhu* pernah dawuh, mujahadah usbu’iyah apabila ditinggalkan tanpa alasan, nggih tanpa alasan, sekali lagi tanpa alasan, itu ibarat kita dapat penyakit kulit. Dua kali kita meninggalkan usbu’iyah tanpa alasan pula, maka penyakit kulit itu semakin melebar. Tiga kali, tubuh yang kulitnya terkena penyakit kulit itu pantas untuk diamputasi. Inilah para hadirin-hadirat, betapa besarnya penekanan dalam pelaksanaan mujahadah usbu’iyah.
Karena seorang pengamal apabila sudah aktif, sudah rajin melaksanakan mujahadah usbu’iyah, maka baginya akan eman untuk meninggalkan mujahadah syahriyah dan selanjutnya.
Para hadirin-hadirat yang kami muliakan, itu tadi adalah sedikit dari khasiat Sholawat Wahidiyah,”tungkas Ibu Nyai Lailatul Khoiroh.
Melalui kegiatan ini, sesuai SOP yang telah ditetapkan oleh Mualif Sholawat Wahidiyah Mbah Yahi KH Abdul Majid Ma’ruf, QS.RA dan Kanjeng Romo KH Abdul Latief Majid, QS.RA dan Kanjeng Kyai Abdul Majid Ali Fikri, RA diharapkan terjalin sinergi yang kuat antara Pemerintah, Toga, Tomas didalam menjaga ukuwah Islamiyah serta mewujudkan kondosifitas di Kabupaten Lumajang.











