Garudaxpose.com | Bali – Puri Agung Gianyar melaksanakan press release pada Selasa 3 Maret 2026 bertempat di Puri Anyar, Puri Agung Gianyar mengenai rangkaian pelaksanaan Palebon Ida Raja Dewata dengan gelar kawikuan Ida Bhagawan Blibar dengan nama lahir saat walaka A. A Gde Agung Bharata mantan Bupati Gianyar dua periode 2003 – 2008, 2013 – 2018.
Anak Agung Alit Windara saat membuka press release pelaksanaan Palebon Ida Raja Dewata mengatakan, pihaknya mewakili keluarga Puri Agung Gianyar yang saat ini mengemban tugas selaku humas rangkaian pelaksanaan pelebon Ida Raja Dewata dengan gelar kawikuan Ida Bhagawan Blibar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Karya Palebon Ida Raja Dewata sebagai penghormatan terakhir atas wafatnya Ida Bhagawan Blibar pada Sabtu 21 Pebruari 2026, pukul 13.30 Wita di RSUD Sanjiwani Gianyar. Upacara puncak pelebon dijadwalkan berlangsung pada Saniscara Pon Ugu, Sabtu 7 Maret 2026, dengan tingkatan upacara Utamaning Utama menggunakan sarana Padma dan Naga Banda,” jelas Anak Agung Alit Windara dari Puri Agung Serongga Gianyar ini.
Koordinator Palebon Ida Raja Dewata Ida Bhagawan Blibar, Anak Agung Alit Asmara menjelaskan, bahwa keputusan tingkatan upacara telah melalui paruman semeton puri, hasil diskusi semeton puri yang berkaitan dengan warih Ida Bhatara Manggis, karena Ida Bhagawan Blibar warih Ida Bhatara Manggis yang terkumpul dalam pasemetonan Manggis Kuning, maka diputuskan mengambil upacara tingkatan utama atau Utamaning Utama dengan sarana Padma dan Naga Banda.
Menurut Anak Agung Alit Asmara menjelaskan, dalam konsep Dwijati kedudukan almarhum sebagai sulinggih sekaligus pernah menjadi pemimpin daerah dan penglingsir Puri menjadi dasar penggunaan sarana tersebut. “Dalam konsep Dwijati, Ida Bhagawan Blibar sebagai warih Puri Gianyar pernah sebagai pemimpin, maka palebon tanggal 7 Maret 2026 berisi sarana Naga Banda. Ini sebagai wujud tanggungjawab,” kata Anak Agung Alit Asmara dari Puri Bitra Gianyar ini.
Anak Agung Alit Asmara menambahkan, prosesi palebon kali ini tidak menggunakan bade, melainkan Padma Sari, Lembu Putih dan Naga Banda. Hal tersebut karena almarhum telah menjalani proses madwijati dan menjadi sulinggih. “Proses palebon beliau sedikit berbeda karena beliau juga seorang sulinggih, sehingga sarana upacara tidak menggunakan bade, tetapi padma sari, lembu putih serta Naga Banda,” jelasnya.
Anak Agung Alit Asmara menjelaskan, rangkaian upacara dimulai sejak 2 Maret 2026 dengan mendak Naga Banda dan melaspas. Sehari berikutnya dilaksanakan masiram, malelet dan munggah tumpang salu. Rangkaian dilanjutkan dengan ngareka kajang, ngaskara, matetangi, hingga pemargi nyuwung sebelum puncak acara puncak karya pelebon pada 7 Maret 2026.
Lanjut Anak Agung Alit Asmara mengatakan, pada puncak acara 7 Maret 2026, prosesi diawali dengan Macaru dan Marisuda Bumi di Setra Adat Beng. Layon akan dijemput dari Bale Sumanggen dengan iringan Tari Gambuh Masatya, lalu dipundut menuju Padma tanpa menggunakan Bade Tumpang 11 karena beliau telah menjalani proses Madwijati.
“Prosesi Manah Nagabanda dipuput Ida Padanda Peling sebelum iring – iringan menuju Setra Adat Beng dengan urutan Gambelan Angklung, pembawa Lalontek dan Upakara, Pedanda diusung Gayot, Lembu Putih, Panandan, penari Gambuh Masatya, Nagabanda, Padma dan Baleganjur. Keterlibatan desa adat juga menjadi bagian penting dalam Palebon ini, Desa Adat Samplangan mengerahkan 450 orang sebagai tukang sandang Padma, Desa Adat Abianbase 250 orang untuk Lembu dan Tragtag, serta 100 orang dari Bitra untuk Naga Banda,” jelas Anak Agung Alit Asmara.
Anak Agung Alit Windara menjelaskan, setelah prosesi perabuan, rangkaian dilanjutkan dengan Nuduk Galih, Nguyeg Galih, Ngareka Galih, Nyupit, dan Nganyut ke Pantai Masceti. Keluarga kemudian kembali ke Puri Agung Gianyar untuk prosesi Mapegat.
“Karya Palebon ini bukan hanya ritual pelepasan ragawi, tetapi juga momentum spiritual untuk mengenang perjalanan hidup seorang pemimpin, sulinggih dan tokoh masyarakat Gianyar,” jelas Anak Agung Alit Windara.
Melalui Palebon Utamaning Utama ini, Puri Agung Gianyar bersama masyarakat memaknai pengabdian Ida Rajadewata sebagai warisan keteladanan dalam menjaga dharma, adat dan kehormatan leluhur.
Sementara pihak keluarga Puri, Prof. Dr. Drs. Anak Agung Oka Wisnu Murti, M.Si menyampaikan, bahwa perjalanan spiritual almarhum tidak terlepas dari peristiwa musibah yang dialami pada 2010. “Awalnya beliau dan istri hanyut di pantai dan hilang enam jam dan diperkirakan sudah meninggal dunia, namun akhirnya ditemukan selamat. Istri beliau ditemukan meninggal dunia. Peristiwa itu yang memotivasi beliau menempuh jalan spiritual hingga madwijati,” kata Prof. Dr. Drs. Anak Agung Oka Wisnu Murti, M.Si dari Puri Agung Siangan Gianyar ini.
Prof. Dr. Drs. Anak Agung Oka Wisnu Murti, M.Si menjelaskan, bahwa almarhum semasa hidup pernah mengabdi sebagai pegawai di lingkungan Istana Negara dan menjabat sebagai Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring. Selain itu, almarhum pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Bali dan menjabat sebagai Bupati Gianyar selama dua periode.
Menurut Prof. Dr. Drs. Anak Agung Oka Wisnu Murti, M.Si, penggunaan Padma Sari dan Naga Banda pada palebon kali ini melanjutkan tradisi yang pernah dilaksanakan pada 1948 di lingkungan Puri Agung Gianyar. “Ini ternyata melanjutkan tradisi tahun 1948 ketika istri Raja Gianyar diupacarai dengan tata cara serupa,” ujar Prof. Dr. Drs. Anak Agung Oka Wisnu Murti, M.Si.
Keluarga dan masyarakat Gianyar memaknai Karya Palebon ini tidak hanya sebagai pelepasan secara ragawi, tetapi sebagai penghormatan atas pengabdian almarhum sebagai pemimpin daerah, sulinggih dan pamucuk Semeton Manggis di Gianyar. @ (suriasih/udiana)












