Garudaxpose.com | Probolinggo – Capaian Kota Probolinggo yang berhasil mencatatkan rekor dunia melalui penampilan 2.705 penari berkostum batik mendapat apresiasi dari Ketua Dekranasda Kabupaten Probolinggo, Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris SE., MM.
Menurut Ning Marisa, penghargaan yang diterima Kota Probolinggo dalam rangkaian Batik In Motion 2026 tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dikemas secara kreatif sekaligus melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
Apresiasi itu disampaikan Ning Marisa saat menghadiri pertunjukan seni budaya di venue utama peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo, Jumat (4/9/2026). Ia hadir bersama rombongan Ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Jawa Timur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ribuan penari yang tampil secara bersamaan dengan mengenakan batik menjadi bagian yang paling mencuri perhatian. Penampilan kolosal tersebut kemudian mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Piagam penghargaan atas pencapaian tersebut diserahkan kepada Ketua Dekranasda Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, dalam rangkaian acara yang berlangsung meriah.
Bagi Ning Marisa, keberhasilan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan angka 2.705 penari maupun penghargaan yang diterima. Lebih dari itu, ia melihat adanya pesan kuat mengenai pentingnya menghadirkan budaya di tengah kehidupan masyarakat.

“Selamat kepada Ibu Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dan seluruh masyarakat Kota Probolinggo atas capaian yang luar biasa ini. Melibatkan 2.705 penari dengan mengenakan batik tentu bukan sesuatu yang mudah dan menjadi kebanggaan bersama,” ujar Ning Marisa.
Ia menilai keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi salah satu kekuatan utama dalam kegiatan tersebut. Batik tidak hanya diperkenalkan sebagai produk budaya, tetapi dipadukan dengan seni tari sehingga menghasilkan pertunjukan yang atraktif.
Menurutnya, pendekatan semacam itu penting untuk menjaga agar budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman. Tradisi, kata dia, tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang sama, tetapi dapat terus dikembangkan melalui kreativitas.
Pandangan tersebut dinilai sejalan dengan semangat Batik In Motion 2026 yang mengangkat tema “Tradition in Rhythm, Culture in Movement”.
Ning Marisa menyebut tema tersebut memiliki pesan bahwa tradisi harus terus bergerak mengikuti zaman. Generasi muda perlu diberi ruang untuk ikut mengembangkan budaya dengan cara yang kreatif tanpa menghilangkan nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.
“Yang paling membanggakan bukan hanya rekor yang berhasil diraih, tetapi bagaimana batik bisa hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari sebuah pertunjukan budaya. Ini menunjukkan bahwa tradisi bisa terus bergerak dan berkembang tanpa kehilangan jati dirinya,” jelasnya.
Ia pun mengapresiasi kerja sama berbagai pihak yang membuat pertunjukan tersebut dapat terlaksana. Menurutnya, pencapaian berskala besar tidak mungkin diwujudkan hanya oleh satu pihak, melainkan membutuhkan dukungan pemerintah, pelaku seni, perajin, komunitas, generasi muda dan masyarakat.

Selain penampilan ribuan penari, rangkaian pertunjukan juga diisi berbagai tarian daerah dan drama kolosal. Sajian tersebut menjadi gambaran keberagaman seni sekaligus identitas budaya masyarakat.
Bagi Ning Marisa, keberadaan batik dalam pertunjukan tersebut memberikan nilai tambah tersendiri. Karya para perajin dapat diperkenalkan melalui sebuah pertunjukan yang mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Ia berharap capaian Kota Probolinggo dapat menjadi pemicu bagi daerah lain di Jawa Timur untuk semakin berani mengangkat potensi budaya lokal. Setiap daerah, menurutnya, memiliki kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan bersama.
“Semoga capaian ini menjadi inspirasi dan semakin menguatkan semangat kita bersama untuk melestarikan batik dan budaya daerah,” katanya.
Ning Marisa menambahkan, Jawa Timur memiliki beragam warisan budaya yang memiliki potensi besar untuk diperkenalkan tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional bahkan internasional.
Karena itu, ia mendorong agar berbagai bentuk kreativitas budaya terus mendapatkan ruang. Pelestarian budaya akan lebih kuat apabila masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya menjadi penonton tetapi ikut mengambil bagian di dalamnya.
“Dari Jawa Timur kita bisa menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki nilai yang luar biasa dan layak dikenal sampai ke tingkat dunia,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa penggunaan batik oleh ribuan penari menjadi pesan sederhana namun kuat mengenai pentingnya menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya.
“Ketika masyarakat ikut terlibat, budaya akan terasa lebih hidup. Inilah yang harus terus kita bangun, agar generasi muda tidak hanya mengenal batik sebagai warisan, tetapi juga merasa memiliki dan bangga untuk menggunakannya,” pungkas Ning Marisa.
Bagi Ning Marisa, rekor dunia tersebut pada akhirnya bukan sekadar catatan prestasi. Capaian itu menjadi gambaran bahwa ketika budaya dikemas secara kreatif dan masyarakat dilibatkan secara luas, warisan tradisi dapat tampil lebih hidup, menarik, sekaligus memiliki daya jangkau hingga tingkat dunia.
Penulis : Septyan Dwi Cahyo













