Kedai Wedang Jahe! 33 Tahun Menjaga Bara: Warung Bambu Mbah Waiti di Utara Jembatan Rengaspendawa

- Penulis

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo Doc:Cuplikan warung Jahe Susu Mbah Waiti 67 tahun (Sabtu, 23 Mei 2026

BREBES, RENGAS PENDAWA, GarudaXpose.com //– Kalau kamu melintas utara jembatan kecil arah Pebatan, pelankan kendaraan. Di pinggir kali, ada warung bambu beratap rumbia. Asapnya tipis, wangi jahe bakarnya khas, bercampur aroma jagung gosong. Itu tandanya Warung Arang Mbah Waiti sudah buka.

Pukul 10.00 WIB, Sabtu 23 Mei 2026, bara di Blok Lers itu kembali menyala. Sejak 1993, tungku arangnya tak pernah padam. Mbah Waiti, 67 tahun, sudah duduk menumbuk 10 kg jahe pakai lumpang kayu. “Sehari segitu. Ditumbuk, terus direbus pakai arang,” katanya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tungku sebelah, anaknya Mas Dhani menjaga bara. Tugasnya berat: membakar 1 kuintal atau 100 kg jagung muda setiap hari, satu per satu. “Prinsipnya simpel. Kalau kompor kan nggak bisa bakar jagung. Nggak ada gosongnya, nggak ada asapnya. Beda,” ujar Mas Dhani sambil membolak-balik jagung Rp5.000 per buah.

Dapur Arang yang Tak Terganti
Kunci Warung Mbah Waiti cuma satu: arang. Wedang jahe Rp5.000 dan jahe susu Rp7.000 direbus di atas bara, bukan kompor. Hasilnya beda. “Kalau pakai kompor, rasanya beda. Angetnya nggak nendang,” kata Karso, pelanggan setia sejak 2005.

Karso bukan satu-satunya. Tiap sore, bangku kayu warung bambu itu penuh. Ada bapak-bapak pulang tani, anak muda nongkrong, sampai perantau yang kangen kampung halaman. “Banyak yang datang bukan cuma cari anget, tapi cari cerita. Ada yang reuni, ada yang sekadar melepas penat habis kerja di sawah,” kata Mas Dhani.

Jagung bakarnya juga begitu. Gosongnya pas, manisnya keluar, asap arangnya jadi bumbu tambahan yang tak bisa ditiru kompor listrik. Itu alasan 100 kg jagung selalu habis sebelum malam tiba.

Turun-temurun Bukan Sekadar Cerita
“Jualan dari tahun 1993, Mas. Dulu di sana, sekarang di sini,” kenang Mbah Waiti sambil menunjuk ke arah selatan Blok Lers. Warungnya memang sempat pindah. Dari selatan Blok Lers, kini menetap di utara jembatan kecil arah Pebatan, tetap di pinggir kali, tetap dari bambu.

Tongkat estafet kini dipegang Mas Dhani. “Setelah orang tua, sekarang saya yang nerusin. Sudah ikut bantu sejak remaja,” ujarnya. Generasi kedua, tapi rasa tetap generasi pertama.

Ditanya apa kelebihan warungnya dibanding kafe kekinian, Mbah Waiti hanya menjawab polos, “Ini banget, tidak kelebihan.” Jawaban yang bikin pelanggan senyum. Karena bagi warga Rengaspendawa, kelebihannya sudah jelas: rasa otentik, harga merakyat, dan suasana nongkrong yang “legend”. Semua duduk sama rata di bangku kayu, menghirup asap arang yang sama.

Angka di Balik Tungku Mbah Waiti
Nama Usaha: Warung Arang Mbah Waiti
Pemilik: Mbah Waiti, 67 tahun
Penerus: Mas Dhani, juru bakar jagung
Lokasi: Warung bambu pinggir kali, utara jembatan kecil arah Pebatan, Blok Lers, Desa Rengaspendawa, Brebes
Berdiri: Tahun 1993, berjalan 33 tahun
Jam Buka: Setiap hari, pukul 10.00 WIB – malam
Bahan Baku Harian: 100 kg jagung muda, 10 kg jahe
Menu & Harga: Jagung bakar Rp5.000/buah, Wedang jahe Rp5.000/gelas, Jahe susu Rp7.000/gelas
Ciri Khas: 100% tungku arang. Nol kompor.

Pungkasnya: Setia Itu Menang
Di tengah gempuran kafe, minuman sachet, dan jagung bakar pakai kompor listrik, Warung Mbah Waiti memilih setia pada arang. Bukan karena anti modern. Tapi karena percaya: rasa jujur lahir dari proses yang sabar.

Hitungan kasarnya, dari jagung saja omzetnya bisa Rp500.000 sehari. Ditambah wedang jahe, bisa tembus Rp1 juta. Tapi bagi Mbah Waiti, angka bukan segalanya. “Rezeki sudah ada yang ngatur. Yang penting kita usaha, jujur, dan jangan tinggalkan arang,” ucapnya sebelum kembali menumbuk jahe.

Hasilnya? Antrean pembeli yang tak pernah putus selama 33 tahun.

Jadi, kalau suatu hari hidungmu menangkap wangi jahe dibakar bercampur jagung gosong di utara jembatan Pebatan, ikuti saja. Di Blok Lers, ada bara yang sudah 33 tahun dijaga. Dan selama arang Mbah Waiti masih menyala, cerita tentang rasa yang tak pernah bohong itu akan terus ada.

(Gus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaga Surplus Pangan, Kapolda Jatim dan Bupati Ipuk Kembali Panen Raya Jagung di Banyuwangi
Punya Potensi Besar, KAI Pilih Banyuwangi Buka Layanan Baru Angkutan Ternak dan Pertanian
Perkuat Kualitas Pembangunan, Pemkab Banyuwangi Gandeng IAI Kembangkan Arsitektur Berbasis Lokal dan Berkelanjutan
BUPATI IPUK AJUKAN HELIKOPTER WATER BOMBING
Tapteng Punya Laut Luas, Tapi PAD Tak Seberapa: Wabup Mahmud Persoalkan Regulasi PNBP
Gesah Pendidikan Bareng Bupati Ipuk, Beasiswa hingga Masa Depan Anak Disabilitas Jadi Pembahasan
Karya Cantik Dari Balik Lapas Banyuwangi, Warga Binaan Pelajari Seni Meronce Tas Bersama IWAPI
KORCAM BARISTAN TEGALSARI APRESIASI DINAS PENGAIRAN DAN KORSDA, PETANI DASRI–TAMANSARI TETAP DAPAT AIR DI MUSIM KEMARAU

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 00:30 WIB

Jaga Surplus Pangan, Kapolda Jatim dan Bupati Ipuk Kembali Panen Raya Jagung di Banyuwangi

Minggu, 13 September 2026 - 00:25 WIB

Punya Potensi Besar, KAI Pilih Banyuwangi Buka Layanan Baru Angkutan Ternak dan Pertanian

Minggu, 13 September 2026 - 00:24 WIB

Perkuat Kualitas Pembangunan, Pemkab Banyuwangi Gandeng IAI Kembangkan Arsitektur Berbasis Lokal dan Berkelanjutan

Sabtu, 5 September 2026 - 06:21 WIB

BUPATI IPUK AJUKAN HELIKOPTER WATER BOMBING

Kamis, 3 September 2026 - 08:42 WIB

Tapteng Punya Laut Luas, Tapi PAD Tak Seberapa: Wabup Mahmud Persoalkan Regulasi PNBP

Berita Terbaru