*Ngayah Tanpa Pamrih*
Garudaxpode.com l Buleleng Bali – Gubernur Bali Wayan Koster bertatap muka dengan pecalang di Desa Adat Buleleng. Dalam pertemuan yang berlangsung di Setra Desa Adat Buleleng itu, Gubernur Koster menyerahkan bantuan seragam kepada 503 pecalang dari 14 Banjar Adat di Desa Adat Buleleng, bertepatan dengan perayaan Tumpek Uye, Sabtu (7/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Seragam lengkap yang terdiri dari udeng, baju, kamen hingga saput senilai Rp. 250 juta ini merupakan dukungan dari Perumda Kertha Bali Saguna. Bantuan seragam ini adalah bentuk penghargaan atas dedikasi pecalang yang selama ini ngayah tanpa pamrih.
Menyusul Desa Adat Buleleng, Gubernur Koster juga akan memberikan bantuan seragam bagi seluruh pecalang se-Bali yang jumlahnya lebih dari 20 ribu orang.
Di tengah-tengah pembagian seragam, Gubernur Koster membuka sesi dialog yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Dalam sesi dialog, seorang pecalang menyinggung realisasi pemberian insentif bagi para pecalang di Desa Adat.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Koster menegaskan bahwa pecalang memiliki peran yang sangat penting sebagai ujung tombak pengamanan adat dan mendamaikan masyarakat Bali.
Bahkan dalam berbagai kondisi mendesak, pecalang sering dilibatkan pemerintah di luar peran TNI dan Polri.

“Kontribusi pecalang sangat besar. Karena itu saya memang memikirkan bagaimana memberi perhatian yang layak kepada pecalang melalui desa adat,” ujar Koster.
Kendati demikian, Gubernur Koster mempermaklumkan kalau pemberian insentif belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Pemerintah Provinsi Bali masih melakukan perhitungan kemampuan anggaran, di tengah kewajiban menyelesaikan sejumlah program prioritas pembangunan.
“Mudah-mudah 2027 atau paling lambat 2028 bisa direalisasikan. Tidak bisa hanya satu kabupaten, harus se-Bali,” tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.
Ditambahkan olehnya, dana Rp 50 juta per desa adat itu nantinya khusus dialokasikan sebagai insentif pecalang, bukan untuk kepentingan lain.
Program tersebut, kata Koster, sudah masuk dalam perencanaan dan pembahasan lintas pihak.
“Saat ini masih banyak yang harus dikerjakan, seperti perbaikan jalan dan infrastruktur. Mohon sabar dulu,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Koster juga menekankan pentingnya peran desa adat dan pecalang sebagai fondasi utama kelangsungan Bali. Desa adat disebutnya sebagai penyangga adat, budaya, dan kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi.
“Kalau tidak ada desa adat, Bali mungkin tidak bisa eksis seperti sekarang. Ini yang membedakan Bali dengan daerah lain,” papar Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.
Terima Kasih Gubernur Koster
Kelian Desa Adat Buleleng menyampaikan terima kasih atas perhatian yang ditunjukkan Gubernur Koster.
“Dukungan ini sangat berarti bagi kami, pecalang sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban desa,” ucapnya.
Rasa bangga dan haru juga diutarakan sejumlah pecalang yang hadir dalam acara tersebut. Pecalang Banjar Adat Kalintu I Nengah Bagus Mahendra bersama Pecalang Banjar Adat Banjar Jawa Made Dwi Arsa Nata mengatakan, selama ini masing-masing pecalang di banjar adat sudah punya seragam yang berbeda-beda.
Dengan seragam baru dari Gubernur Bali ini, ia merasa lebih gagah dalam melaksanakan tugas.
“Sekarang seragam sudah satu pasikian pecalang Bali, kami merasa lebih layak dan gagah,” ujar Dwi Arsa.
Terkait rencana pemberian insentif, para pecalang berharap janji pemerintah segera terwujud. Alasannya, selama ini pecalang murni ngayah untuk kepentingan adat tanpa menerima insentif.
Dalam pertemuan tersebut juga hadir Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra beserta istri, Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, Anggota DPRD Bali asal Buleleng Gede Kusuma Putra dan anggota DPRD Buleleng Ni Kadek Turkini, Prajuru dan pecalang Desa Adat Buleleng.( Gustra).
Gubernur Koster Tinjau Progres Pengerjaan Fasilitas Pendukung Turyapada Tower

Target Operasi Akhir 2026, Jadi Pusat Teknologi dan Ikon Wisata Baru Bali Utara
Garudaxpose.com l Buleleng – Gubernur Bali Wayan Koster meninjau langsung kelanjutan pembangunan kawasan Taman Teknologi Turyapada Tower Komunikasi Bali Smart 6.0 Kerthi Bali di Desa Amerta Sari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada akhir pekan Sabtu (7/2). Peninjauan ini untuk memastikan proyek strategis tersebut berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Dalam kunjungannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa Turyapada Tower merupakan proyek strategis daerah yang dirancang sebagai pengungkit transformasi Bali Utara menuju pusat teknologi, pendidikan, dan konektivitas digital, sekaligus mendukung pemerataan pembangunan Bali secara menyeluruh.

Salah satu area yang menjadi fokus peninjauan adalah kawasan gondola yang nantinya akan menghubungkan area menara dengan kawasan alam di bawahnya. Jalur gondola ini dirancang menyuguhkan panorama alam khas Bali Utara, meliputi pemandangan laut, perbukitan, kawasan hutan, serta keindahan tiga danau kembar, yakni Danau Buyan, Danau Tamblingan, dan Danau Beratan.
Selain gondola, Gubernur Koster juga memantau langsung progres tahap kedua pembangunan kawasan Turyapada. Tahapan ini mencakup penyelesaian akses jalan dari shortcut menuju terminal utama, pembangunan area parkir dengan kapasitas hingga 200 kendaraan roda empat, terminal gondola, taman wisata, area camping, ruang komunal, sentra UMKM, serta fasilitas restoran.

Tak hanya itu, penyelesaian interior menara juga menjadi perhatian utama, termasuk tahap akhir atau finishing Ruang Konferensi dan Ballroom yang diproyeksikan menjadi fasilitas penunjang kegiatan berskala nasional maupun internasional.
Peninjauan tersebut turut dihadiri oleh Ketua DPRD Provinsi Bali Dewa Made Mahadnyana, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali Gede Pramana, serta Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali IB Surja Manuaba, memastikan kesiapan infrastruktur dan dukungan lintas perangkat daerah terhadap proyek ini.
Proyek Turyapada Tower ditargetkan rampung pada Agustus 2026 dan mulai beroperasi secara penuh pada akhir tahun 2026.
Keberadaan kawasan ini diharapkan menjadi ikon wisata baru Bali Utara sekaligus magnet baru bagi wisatawan domestik dan mancanegara yang mengedepankan konsep wisata berbasis teknologi, edukasi, dan kelestarian alam.

Dengan kehadiran Turyapada Tower, Pemerintah Provinsi Bali optimistis Bali Utara akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing, sejalan dengan visi pembangunan Bali berlandaskan Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Bali era baru.(Gustra)












