Garudaxpose.com | Mandailing Natal — Hujan deras yang menghantam wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat kembali membuka kenyataan pahit bahwa masyarakat selalu menjadi pihak pertama yang menanggung dampak bencana, sementara pemerintah justru tertinggal dalam memberikan respons cepat.
Pantauan awak media menunjukkan jalur lintas provinsi Simpang Gambir – Jembatan Merah lumpuh total akibat longsor yang menutup seluruh badan jalan. Kendaraan terjebak berjam-jam, lampu PLN padam karena tiang listrik tumbang, dan jaringan komunikasi hilang. Warga menunggu dalam kecemasan tanpa kejelasan kapan akses itu kembali dapat dilalui.
Namun di tengah kelumpuhan itu, inisiatif warga justru menjadi penyelamat utama. Nasir, Bolqiah, dan Sapril bergerak cepat menurunkan tiga unit ekskavator untuk membersihkan material longsor sejak Kamis (27/11/2025) hingga Jumat (28/11/2025). Tanpa menunggu komando resmi, mereka bekerja siang-malam demi membuka jalur vital tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara warga berjibaku dengan alat seadanya dan dukungan swadaya, respons pemerintah daerah justru tampak lambat dan tidak terkoordinasi. Aparat baru terlihat hadir ketika antrean kendaraan sudah mengular panjang dan situasi semakin mendesak. Ironis, mengingat kawasan ini dikenal sebagai daerah langganan banjir dan longsor.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang menggelitik sekaligus menyakitkan:
Sampai kapan keselamatan rakyat harus bergantung pada kepedulian individu, bukan pada kesiapsiagaan negara?
Bencana kali ini kembali menegaskan satu hal: ketika alam mengamuk, solidaritas warga sering kali lebih cepat bekerja dibanding kebijakan pemerintah.
(M.SN)
Penulis : M.SN
Editor : Kaperwil Sumut












