Garudaxpose.com | Probolinggo – Aktivitas seorang nenek lanjut usia yang berjualan es teh dan sempat menjadi perhatian di media sosial mendapat perhatian dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Probolinggo. Setelah dilakukan asesmen, aktivitas berjualan tersebut diketahui dilakukan atas kemauan sendiri.
Informasi yang beredar di media sosial sebelumnya menjadi dasar bagi petugas untuk turun langsung melihat kondisi nenek tersebut. Asesmen dilakukan untuk memastikan keadaan sebenarnya sekaligus mengetahui latar belakang aktivitas yang dijalani sehari-hari.
Dinsos Kabupaten Probolinggo tidak hanya menggali informasi mengenai aktivitas berjualan, tetapi juga melihat kondisi sosial, pemenuhan kebutuhan dasar serta dukungan keluarga terhadap lansia tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Samsul mengatakan, asesmen lapangan diperlukan agar penanganan tidak hanya didasarkan pada informasi yang berkembang di media sosial.
“Yang kami lakukan adalah memastikan kondisi sebenarnya melalui asesmen, termasuk melihat dukungan keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar dan aktivitas yang dilakukan oleh lansia tersebut,” ujar Samsul, Kamis (08/10/2026) pagi.
Dari hasil penelusuran tersebut, aktivitas menjual es teh yang dilakukan sang nenek bukan karena adanya paksaan dari pihak lain. Ia menjalankan aktivitas tersebut berdasarkan kemauan sendiri.
Fakta tersebut menjadi salah satu bagian penting yang diperhatikan petugas dalam melakukan asesmen. Sebab, kondisi setiap lansia memiliki latar belakang yang berbeda sehingga diperlukan penanganan berdasarkan situasi masing-masing.
Petugas juga memastikan bagaimana hubungan dan dukungan keluarga terhadap lansia tersebut. Pemeriksaan dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kehidupan sehari-hari serta kebutuhan yang masih dapat dipenuhi secara mandiri maupun yang membutuhkan dukungan.
Samsul menegaskan, langkah asesmen dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah dalam merespons informasi yang telah menjadi perhatian publik.
Menurutnya, informasi yang viral di media sosial perlu dipastikan terlebih dahulu melalui pengecekan langsung. Dengan demikian, langkah penanganan yang diambil tidak hanya berdasarkan asumsi atau informasi yang belum terverifikasi.
“Yang kami lakukan adalah memastikan kondisi sebenarnya melalui asesmen,” tegasnya.
Dalam penanganan tersebut, Dinsos Kabupaten Probolinggo juga membangun koordinasi dengan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Probolinggo.
Koordinasi lintas daerah dilakukan untuk memastikan proses asesmen berjalan secara komprehensif, mengingat persoalan sosial membutuhkan penanganan yang melibatkan berbagai pihak.
Selain unsur pemerintah, proses asesmen juga melibatkan mahasiswi magang dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi lansia, termasuk aktivitas sehari-hari, kondisi keluarga serta kebutuhan sosial yang perlu mendapat perhatian.
Dinsos Kabupaten Probolinggo memastikan proses penanganan dilakukan dengan mengedepankan pendekatan yang manusiawi dan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Aktivitas berjualan yang dilakukan sang nenek pun tidak serta-merta dipandang sebagai bentuk keterpaksaan. Hasil asesmen menjadi dasar penting untuk memahami bahwa kegiatan tersebut merupakan pilihan dan kemauan pribadi yang bersangkutan.
Pemerintah tetap memberikan perhatian dengan memastikan kondisi lansia, kebutuhan dasarnya serta dukungan keluarga tetap menjadi bagian dari pemantauan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk respons pemerintah terhadap informasi masyarakat yang berkembang di media sosial, dengan tetap mengutamakan verifikasi dan asesmen sebelum mengambil kesimpulan.
Melalui asesmen langsung, pemerintah berharap penanganan terhadap persoalan sosial dapat dilakukan secara tepat sasaran, tanpa mengabaikan keinginan dan kemandirian lansia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
(Septyan)














