667 Tahun Kota Probolinggo: Dari Warisan Sejarah Menuju Kota yang Makin Berdaya

- Penulis

Jumat, 4 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Garudaxpose.com | Probolinggo – Tepat 667 tahun sejak awal perjalanan sejarahnya, Kota Probolinggo memasuki fase baru pembangunan dengan membawa satu pesan utama: kemajuan kota harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Apel Peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo yang berlangsung di Alun-alun, Jumat (4/9/2026). Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin yang bertindak sebagai inspektur apel menempatkan momentum hari jadi sebagai titik evaluasi sekaligus pijakan untuk menatap masa depan.

Mengusung tema “Bersolek Menuju Kota yang Berdaulat, Adil, dan Makmur”, peringatan tahun ini dihadiri Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, unsur Forkopimda, Ketua TP PKK dr. Evariani Aminuddin, pimpinan DPRD, Sekretaris Daerah, jajaran kepala perangkat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat serta berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di hadapan peserta apel, Aminuddin mengajak seluruh masyarakat tidak memandang hari jadi hanya sebagai perayaan bertambahnya usia kota. Lebih dari itu, peringatan tersebut dinilai penting untuk memahami perjalanan yang telah dilalui sekaligus menentukan arah yang hendak dicapai.

Kota Probolinggo memiliki perjalanan sejarah panjang yang bermula dari pembabatan Hutan Banger pada 4 September 1359. Selanjutnya, pada 28 September 1359, wilayah tersebut diresmikan Sang Prabu Hayam Wuruk sebagai pusat permukiman dan perdagangan hasil bumi.

Seiring perubahan zaman, Probolinggo terus mengalami perkembangan. Setelah Indonesia merdeka, penetapan sebagai kota administratif pada 1950 menjadi salah satu tahapan penting yang memperkuat proses pembangunan dan pelayanan pemerintahan.

Perjalanan panjang itu kemudian membentuk Probolinggo sebagai kota yang memiliki karakter tersendiri. Sejarah, budaya, keberagaman, tradisi serta keterbukaan menjadi bagian yang terus melekat dalam kehidupan masyarakat.

“Dari sejarah yang panjang, kita belajar menghargai perjalanan. Dari capaian hari ini, kita membangun keyakinan untuk menatap masa depan dengan lebih optimis,” ujar Aminuddin.

Optimisme tersebut kemudian diterjemahkan pemerintah melalui berbagai sektor pembangunan. Istilah “Bersolek” yang menjadi tema hari jadi tidak dimaknai sebatas mempercantik wajah kota, tetapi sebagai gerakan memperbaiki kualitas kehidupan secara menyeluruh.

Salah satu fondasinya adalah kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota Probolinggo memperkuat cakupan Universal Health Coverage, mengembangkan digitalisasi posyandu, jam tangan kesehatan terintegrasi, pemenuhan gizi bagi kelompok rentan serta memperluas layanan pemeriksaan kesehatan gratis.

Hasil dari intervensi tersebut salah satunya terlihat dari penurunan prevalensi stunting. Pada Desember 2025, angka stunting Kota Probolinggo tercatat 9,56 persen, lebih rendah dibandingkan 9,88 persen pada tahun sebelumnya.

Pemerintah juga menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan menjadi perhatian melalui program Sahabat ATS, pendidikan kesetaraan, penguatan PAUD hingga Sekolah Rakyat.

Tidak hanya itu, kerja sama di bidang numerasi, matematika, sains, robotik dan teknologi bersama Prof. Masami Isoda dari University of Tsukuba, Jepang, turut dikembangkan untuk memperkuat kemampuan generasi muda menghadapi perubahan zaman.

Wajah kota secara fisik juga terus dibenahi. Revitalisasi Alun-alun, peningkatan jalan, penanganan drainase dan kawasan permukiman, penerangan jalan hingga pengembangan GOR A. Yani menjadi bagian dari pembangunan fasilitas perkotaan.

Sementara dari sisi konektivitas, pengoperasian kereta komuter Surabaya–Pasuruan–Probolinggo, rencana renovasi Stasiun Probolinggo dan pengembangan jalur rel menuju pelabuhan menjadi bagian dari upaya memperkuat mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Transformasi digital juga mendapat perhatian. Hampir 100 titik Wi-Fi gratis, penguatan super koridor dan pemanfaatan superapp B-LINK dikembangkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap teknologi dan pelayanan.

Di tengah pembangunan tersebut, sektor ekonomi masyarakat menjadi salah satu perhatian utama. UMKM, ekonomi kreatif, investasi dan pariwisata didorong agar mampu menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar.

Posisi Kota Probolinggo sebagai daerah penyangga Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Bromo-Tengger-Semeru dinilai memiliki peluang yang dapat terus dikembangkan.

Event Semipro 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan daerah dapat membuka ruang bagi pelaku usaha lokal. Perputaran ekonomi dari kegiatan tersebut diperkirakan menembus lebih dari Rp3 miliar.

Namun, pertumbuhan ekonomi juga harus dibarengi kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga. Karena itu, berbagai kebijakan pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan terus dilakukan melalui kerja sama antardaerah.

Hasilnya, Kota Probolinggo disebut meraih peringkat ketiga nasional dalam kategori pengendalian inflasi terbaik tahun 2026 serta memperoleh dukungan pemerintah pusat sebesar Rp1 miliar.

Di tingkat pemerintahan, upaya membangun tata kelola yang lebih transparan juga dilakukan melalui inovasi. Salah satunya kartu ATM co-branding Amanah Non-Kemiskinan yang dikembangkan bersama Bank Jatim.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung penyaluran honorarium dan bantuan kegiatan bagi RT, RW, kader posyandu serta lembaga kemasyarakatan secara lebih tepat sasaran dan akuntabel.

Persoalan lingkungan pun menjadi bagian dari agenda pembangunan. Pemerintah mendorong Gerakan GotKu Resik, Kelurahan Bersolek, pengelolaan sampah dari rumah, bank sampah serta program satu RW satu kendaraan sampah.

Gerakan kebersihan dilakukan secara masif melalui korve serentak di 200 RW dan lima pasar. Selain itu, pemerintah juga melakukan penanaman 1.000 bibit pohon.

Untuk memperkuat penanganan sampah, Pemkot Probolinggo menyiapkan kerja sama pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel atau RDF di TPA Bestari dengan kapasitas minimal 70 ton setiap hari.

“Mari kita jadikan kebersihan, penghijauan, dan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya sehari-hari, sehingga Kota Probolinggo semakin sehat, nyaman, dan berketahanan iklim,” kata Aminuddin.

Persoalan kebutuhan pangan masyarakat juga mendapat perhatian. Gerakan Pangan Murah, operasi pasar dan pasar murah yang dilaksanakan di 29 kelurahan menjadi instrumen untuk menjaga pasokan sekaligus membantu mempertahankan daya beli masyarakat.

Menurut Aminuddin, berbagai capaian pembangunan tersebut tidak lahir dari kerja pemerintah semata. Stabilitas keamanan dan ketertiban yang terjaga juga merupakan hasil kontribusi aparat, Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh agama serta seluruh warga.

Atas kondisi tersebut, ia menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah menjaga Kota Probolinggo tetap aman dan kondusif.

Sejumlah penghargaan yang diraih pemerintah daerah turut menjadi catatan dalam perjalanan pemerintahan. Di antaranya opini WTP untuk kesembilan kali secara berturut-turut, predikat AA “Sangat Memuaskan” dalam pengawasan kearsipan, penghargaan pengendalian inflasi serta UHC Award.

Meski demikian, Aminuddin mengingatkan bahwa prestasi bukanlah garis akhir. Penghargaan harus menjadi pemicu agar pemerintah terus meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Setiap capaian harus menjadi penyemangat untuk terus berbenah, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memastikan setiap kebijakan serta pembangunan benar-benar memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat Kota Probolinggo,” tegasnya.

Di penghujung amanatnya, Aminuddin mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hari Jadi ke-667 sebagai momentum memperkuat kolaborasi. Menurutnya, pembangunan kota membutuhkan keterlibatan seluruh pihak tanpa terkecuali.

“Semoga momentum ini menjadi media sinergi yang baik untuk mewujudkan Kota Probolinggo yang aman, tenteram, damai, dan sejahtera,” pungkasnya.

Peringatan hari jadi juga diisi dengan pemberian tali asih kepada sejumlah PNS yang memasuki masa purna tugas serta mitra deradikalisasi. Pemerintah turut memberikan penghargaan kepada para pemenang Lomba Arsip Foto Kuno yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

Raka Rizal Amin keluar sebagai juara pertama melalui karya “Asia”. Juara kedua diraih Roni Ranggas Adi Putra dengan karya “Pemilih Kepala Desa Sumber Wetan Tahun 1989”, sedangkan posisi ketiga ditempati H. A. Siddiq melalui karya “Kapten Saroe”.

Untuk juara harapan, H. Kusnan menempati posisi pertama lewat karya “Lifestyle Pemuda Tahun 1972”. Posisi kedua diraih Indek Agustin dengan karya “Anggota Kodim 0820 di Tanjung Tembaga Menuju Pulau Ketapang untuk Pengawasan Pemilu Tahun 1977”.

Sementara itu, Susi Irawati meraih juara harapan ketiga melalui karya “Kembang Lamaran Tahun 1982”.

Memasuki usia 667 tahun, Kota Probolinggo kini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding masa-masa sebelumnya. Karena itu, refleksi sejarah dan capaian pembangunan diharapkan menjadi bekal untuk menentukan langkah berikutnya.

Dengan semangat “Bersolek”, pemerintah bersama masyarakat ingin memastikan perubahan kota tidak hanya terlihat dari tampilan fisiknya. Lebih jauh, pembangunan diarahkan agar kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh secara beriringan.

Hari Jadi ke-667 pun menjadi penanda bahwa perjalanan Probolinggo belum berhenti. Warisan masa lalu menjadi pijakan, capaian hari ini menjadi modal, sedangkan masa depan menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Kota Probolinggo.

Penulis : Septyan Dwi Cahyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel garudaxpose.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SPBU tanggul 54.681.08.antrian mengular ke bahu jalan provinsi isu kenaikan BBM jadi pemicu stok di pastikan aman
Tak Sekadar Ilmu Pertanahan, Rocky Gerung Nilai Taruna/i Politeknik Agraria STPN Belajar Banyak Disiplin Ilmu
Isi Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung Ingin Taruna/i Pahami Tiga Konsep Pemaknaan Pengelolaan Tanah
Sukses Digelar, Yesi Apriliah Lega Ikut Ambil Bagian dalam Batik in Motion 2026
Ning Marisa Apresiasi Rekor Dunia 2.705 Penari Batik in Motion di Kota Probolinggo
Batik In Motion 2026 Meriah, 2.705 Penari Berkain Batik Antar Kota Probolinggo Raih Rekor Dunia
Di wilayah kec cisoka masih ada jalan rusak parah tak kunjung diperbaiki, Kemana Saja Pejabat Pemerintah Kabupaten Tangerang
Karnaval budaya desa Darungan anak sekolah dan umum,juga pemdes Darungan tampilkan pesona budaya nusantara

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 01:39 WIB

SPBU tanggul 54.681.08.antrian mengular ke bahu jalan provinsi isu kenaikan BBM jadi pemicu stok di pastikan aman

Jumat, 4 September 2026 - 17:48 WIB

Tak Sekadar Ilmu Pertanahan, Rocky Gerung Nilai Taruna/i Politeknik Agraria STPN Belajar Banyak Disiplin Ilmu

Jumat, 4 September 2026 - 17:44 WIB

Isi Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung Ingin Taruna/i Pahami Tiga Konsep Pemaknaan Pengelolaan Tanah

Jumat, 4 September 2026 - 16:52 WIB

Sukses Digelar, Yesi Apriliah Lega Ikut Ambil Bagian dalam Batik in Motion 2026

Jumat, 4 September 2026 - 16:38 WIB

Ning Marisa Apresiasi Rekor Dunia 2.705 Penari Batik in Motion di Kota Probolinggo

Berita Terbaru