GarudaXpose.com | Lumajang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Blok Krepelan atau Watu Mayung, sebelum Watu Tulis, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin (10/8/2026).
Kebakaran tersebut diketahui sekitar pukul 10.40 WIB. Personel Polres Lumajang bersama tim gabungan langsung melakukan upaya pemadaman untuk mencegah api meluas ke kawasan hutan.
Kasubsi Pidm Sihumas Polres Lumajang Ipda Suprapto mengatakan, pemadaman melibatkan sejumlah unsur, yakni Polri, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), BPBD, serta relawan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Petugas gabungan melakukan pemadaman menggunakan peralatan manual maupun dengan penyemprotan air,” kata Suprapto, Selasa (11/8/2026).
Menurut dia, petugas berjibaku memadamkan api dan bara yang masih terdapat di lokasi kebakaran. Upaya tersebut dilakukan hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Api dan bara di kawasan Watu Mayung akhirnya dapat dipadamkan sekitar pukul 16.37 WIB.
“Api maupun bara api dapat dinyatakan padam sekitar pukul 16.37 WIB,” ujarnya.
Selain penanganan kebakaran di wilayah Ranupani, upaya pemadaman karhutla juga dilakukan di kawasan TNBTS yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan.
Pemadaman di kawasan tersebut dilakukan dengan dukungan dua unit helikopter, yakni jenis Super Puma dengan kapasitas angkut lima orang dan Bell dengan kapasitas angkut empat orang.
Kedua helikopter tersebut digunakan untuk membantu penanganan kebakaran, khususnya di Blok B30 dan kawasan Gunung Kursi yang berada di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan.
Namun, kondisi cuaca berkabut menjadi kendala dalam pelaksanaan pemadaman melalui udara.
“Karena cuaca berkabut, sekitar pukul 15.10 WIB kegiatan menggunakan helikopter selesai. Helikopter kemudian kembali ke pangkalannya dan tidak jadi parkir di Ranupani,” jelas Suprapto.
Sementara itu, petugas juga melakukan pemantauan terhadap sejumlah kawasan untuk memastikan tidak ada titik api baru yang berpotensi menyebabkan kebakaran meluas.
Dari hasil pemantauan tersebut, petugas tidak menemukan adanya titik api yang terlihat dari lokasi-lokasi tersebut.
“Untuk pemantauan titik api dari Jemplang, Bantengan dan B29, tidak terlihat adanya titik api,” kata Suprapto.
Meski api di Blok Krepelan atau Watu Mayung telah berhasil dipadamkan, petugas tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali bara api.
Hingga saat ini, penyebab kebakaran maupun sumber api yang memicu karhutla tersebut masih belum diketahui.
“Penyebab kebakaran atau sumber api belum teridentifikasi,” pungkasnya.













