BREBES,GarudaXpose.com// Pemandangan tak biasa terjadi di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Di tengah kekosongan dan ketidakjelasan keberadaan Kepala Desa, semangat nasionalisme warga justru membara. Panitia Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-81 Tahun 2026 resmi dibentuk dan langsung dikukuhkan, Kamis [30/7/2026].
Pengukuhan yang digelar di Balai Desa Luwungragi tersebut berlangsung haru, kritis, sekaligus penuh gelora. Haru karena kegiatan yang hampir mati suri akibat tidak adanya komando dari pucuk pimpinan desa, akhirnya bisa bangkit kembali berkat gotong royong warga dan uluran tangan dermawan.
Sekretaris Desa Luwungragi, Sodikun, S.I.P., yang memimpin langsung jalannya pembentukan panitia, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dengan nada tegas ia menyebut kepala desa pergi tanpa pesan, tanpa pamit, dan tanpa tanggung jawab terhadap agenda besar kenegaraan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita semua tahu, sampai hari ini tidak pernah ada pesan dari Pak Lurah yang dulu, pergi kemana. Karena kekosongan itu, aku dan kami perangkat dibantu Pak RW 08 harus turun tangan mengkoordinasikan supaya kegiatan Panitia HUT RI di desa Luwungragi itu tetap terlaksana dengan berbagai upaya dan cara,” ungkap Sodikun di hadapan warga dan panitia yang hadir.
Berbagai upaya dilakukan. Dari pintu ke pintu, dari tokoh ke tokoh, hingga akhirnya perangkat desa dipertemukan dengan sosok yang kini menjadi pahlawan warga Luwungragi, yakni H. Ridhohul Khukam.
Kehadiran H. Ridhohul Khukam menjadi titik balik. Pengusaha dermawan yang dikenal low profile itu menyatakan sikap luar biasa. Ia siap menjadi donatur tunggal dan menanggung semua kebutuhan perayaan HUT RI ke-81.
Pernyataannya singkat, tajam, dan membakar semangat warga.
“Tidak usah mikir biaya, yang penting ramai. Biarpun kepala desanya tidak ada, ini hajat negara, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Memeriahkan HUT RI itu harus ada. Soal penganggaran, jual beli apa, ora usah dipikirin. Dibuat meriah yang mungkin sehebat mungkin, untuk penampilannya nanti saya yang meng-handle,” tegas H. Ridhohul Khukam yang langsung disambut tepuk tangan meriah dan teriakan semangat warga.
Tak hanya soal uang, lanjut Sodikun, H. Ridhohul Khukam juga totalitas. Ia rela hadir, memberi arahan, bahkan turun langsung memimpin konsep acara agar Luwungragi tidak kalah meriah dengan desa lain.
Maka dalam pertemuan tersebut, pembentukan dan pengukuhan panitia dilakukan sekaligus. Ketua panitia dipercayakan kepada tokoh yang ditunjuk langsung oleh H. Ridhohul Khukam demi efektivitas kerja, sementara struktur lainnya diisi oleh perwakilan pemuda, Karang Taruna, PKK, dan seluruh Ketua RW.
Sodikun pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada H. Ridhohul Khukam. Ia mengaku sedih ditinggal pergi kepala desa, namun bangga karena masih ada putra terbaik desa yang mau berkorban.
“Jujur kami sedih ditinggal pergi kepala desa. Tapi mau bagaimana lagi, kami harus tetap semangat karena ada orang hebat, Mas Ridho. Ngapain dibuat pusing. Ini untuk Merah Putih,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Sodikun menyampaikan pesan menyentuh mewakili seluruh perangkat Desa Luwungragi. Ia menyadari, tanpa kepala desa, posisi perangkat serba salah dan sering menjadi sasaran kekecewaan warga.
Ia memohon maaf dan meminta bimbingan dari seluruh masyarakat.
“Kami pelaku Pemerintah Desa itu bukan siapa-siapa. Kami dikatakan perangkat, dikatakan panggung, dikatakan apa saja karena ada panggilan. Kalau tidak ada panduan, kami itu bukan siapa-siapa. Sebab dari itu, kami mewakili teman-teman Pemerintah Desa selalu meminta saran, bimbingan, dan pelajaran dari panjenengan semua,” tuturnya.
“Supaya langkah-langkah kami, tata cara kami melayani warga Luwungragi bisa diterima, dan bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Apabila selama ini pelayanan kami kurang berkenan, kurang memuaskan, saya mewakili teman-teman Pemerintah Desa mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kadang kata-kata ibu-ibu, kata-kata bapak-bapak itu sakit kalau didengar, tapi itu jadi cambuk buat kami,” imbuhnya.
Sodikun menegaskan, meski merasa seperti anak kehilangan orang tua karena ditinggal kepala desa, roda pemerintahan dan pelayanan tidak boleh lumpuh. Terlebih untuk menyambut HUT RI ke-81.
“Dan sekali lagi saya mohon doa restu panjenengan semua, biar kami meskipun merasa tidak punya orang tua, masih tetap bisa melaksanakan tugas yang diberikan oleh pemerintah dan negara. Untuk lapangan pekerjaan, untuk kegiatan 17-an, top, bagi saya ada donatur tunggal H. Ridhohul Khukam, seorang dermawan,” pungkasnya.***
(4905)












