Keterangan photo :5 Sinden Goyang dengan Lagu Jayanti (sabtu malam,4 Juli 2026)
PAGEJUGAN, BREBES,GarudaXpose.com– Halaman Depan Balai Desa Pagejugan pecah, Sabtu malam, 4 Juli 2026. Ribuan warga tumplek blek dari ba’da Isya sampai subuh demi nonton lakon Raden Citra Utama / Wahyu Keprabon yang dibawakan Dalang Wayang Golek (Wayang Krucil) Ki Carito asal Tegal. Gelaran Wayang Santri ini jadi puncak sedekah bumi sekaligus menyambut Muharram 1448 H.
Bung Siung Ngesrong Minta lagu Jayanti, Panggung Langsung Hidup
Baru gamelan talu, suasana sudah mledug. Tokoh Bayan bernama Bung Siung Ngesrong tiba-tiba nyerobot ke tengah, “Dalang, nyuwun lagu Jayanti sing islami, ben adem atine!”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa ba-bi-bu, lima sinden ayu berseragam hijau langsung berdiri. Mbak Tian dari Pagerbarang, Mbak Biyunge dari Banjarnegara, Jesi dari Cilacap, serta Mbak Menik dan Mbak Yana dari Tegal serentak bergoyang luwes. Kendang dan rebana ditabuh, lampu panggung gemebyar ganti warna ikut irama. Penonton auto berdiri, tepuk tangan, teriak “Lanjut, Neng!” Anak-anak sampai mbah-mbah ikut koor.
Banyolan Ki Carito: Dari Cabai Sampai Kuota, Warga Ngakak Guling-Guling
Nah, ini yang bikin betah. Ki Carito ngudhal banyolan tanpa rem. Pas adegan pasar, dalang nyeletuk, “Rega cabai larang, Lur. Mending tuku wayang, digoleki malah entuk bojo ayu koyo sinden iki!” Warga langsung gemuruh ketawa.
Belum selesai, giliran Limbuk-Cangik muncul. Ki Carito nyenggol anak muda, “Sing pacaran ojo kelamaan, ndak kalah karo kuota, habis sebelum waktunya!” Emak-emak lesehan sampai nutup mulut, bapak-bapak nepuk jidat sambil ngakak.
Puncaknya pas Petruk ngeluh, “Ki Dalang, wetengku kencot!” Dijawab Ki Carito, “Kencot mergo durung sedekah. Coba nyawer, ben wareg!” Karung saweran langsung muter, penonton makin rame. Guyonan gemblung tapi tetap santun, selipan dakwahnya kena terus.
Warisan Mbah Sutaraga Tetap Lestari
Kepala Desa Pagejugan, H. Hamidie, S.Pd, mengingatkan bahwa Wayang Krucil ini warisan Mbah Sutaraga, nama aslinya H. Abdurohman. “Beliau utusan Kerajaan Demak untuk syiar Islam di pesisir Pagejugan. Media dakwahnya ya Wayang Krucil ini,” ujar Hamidie.
Lakon Wahyu Keprabon malam itu penuh pesan. Diselingi shalawat, ajakan rukun tetangga, dan guyon segar Ki Carito, warga betah melek sampai ayam kluruk.
Panggung Gemebyar, Warung Laris, Hati Warga Sumringah
Gending klasik, shalawatan, sampai Jayanti islami silih berganti. Tiap reff, lampu panggung ganti: hijau, biru, merah. Lima sinden tak berhenti sapa penonton. Anak-anak jajan arum manis, bapak-bapak ngopi, warung dadakan laris manis.
“Alhamdulillah, tua muda masih cinta wayang. Semalam suntuk ribuan hadir. Matur nuwun sedoyo,” kata H. Hamidie dengan senyum lebar.
Menjelang subuh, pertunjukan ditutup limbukan pamit dan doa bersama. Lampu gemebyar pelan meredup, tapi tawa warga masih nyala. Pulang-pulang mereka ngomong, “Sesuk nanggap meneh, ya. Dalange lucu, sindene ayu, atine adem!”
Wayang Santri Pagejugan bukti: kalau dalangnya kocak dan panggungnya hidup, warga betah sampai subuh dan pulang bawa senyum.***
(4905)











